Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Tulang kaki sapi


__ADS_3

"Terus," kataku tak sabar mendengar kelanjutan cerita Riko.


"Rino bilang jika Mona sakit, sedangkan Monanya di Hotel nginap, paginya Mona demam, minta di jemput sama Rino untuk di antar kerumah sakit. Tapi pas Rino sampai disana baju Mona robek-robek, Mona menangis menjerit dan datanglah pelayan hotel membuka pintu, dan melihat itu pelayan tersebut menelpon satpam, akhirnya Rino di tangkap. Ucapan Rino tentu saja tidak berlaku karena cctv hanya ada di luar kamar." jelas Riko panjang lebar.


"Kasian Rino, padahal ia berniat menolongnya, malah ia di jadikan kambing hitam." ujarku kasihan.


"Mau bagaimana lagi, lagian Rino selain suka balapan dia juga playboy," kata Riko.


"Tidak mungkin, Rino menganggap semuanya adalah teman dan adiknya, hanya Mona aja yang dasar bucin," jelasku.


"Kok kamu tau, pernah jalan sama dia?" tanya Riko mengejek.


"Ya pernahlah," kataku bangga.


"Kapan?" Tanyanya mencibir.


"Waktu aku habis di tampar Ayahmu, Rino langsung membawaku kepantai, untuk menenangkan pikiranku, di sanalah aku melihat kebaikan hatinya, dan sehari sesudahnya, Rino datang lagi membawaku ke pantai yang berbeda, namun kami di buntuti oleh Mona, di sanalah Rino menjelaskan bahwa dia menganggap semua cewek yang di bawanya adalah teman atau sebagai adiknya, Mona tidak terima, hampir saja aku aku di jambaknya, untungnya Rino cepat menghalanginya," jelasku panjang lebar.


Riko terdiam, ada apa dengan anak ini?


"Kamu kenapa? Ngak ada respon gitu?" Tanyaku mencoel kepalanya. Ia langsung menangkap tanganku.


"Sebenarnya aku cemburu kamu jalan sama Rino, tapi aku juga harus berterima kasih kepada Rino karena udah menghibur kamu, di saat kamu terluka, dan aku juga minta maaf ngak bisa ada untuk kamu, ketika kamu tersakiti, apa lagi itu adalah orang tua aku, aku benar-benar minta maaf," kata Riko mengengam erat tanganku.


Aku menatapnya, canggung banget. "Ih lebay banget sih kamu," kataku menarik tanganku dari gengamannya.


"Kamu ini merusak suasana" katanya dan langsung menghidupkan mobilnya dan meluncur kejalan raya.


"Ini kemana lagi?" Tanyaku, dan ini tidak menuju arah pulang.


"Mau ngantar surat-surat ini kerumah Rino" kata Riko sambil menyetir.


"Ini rumah Rino?" Tanyaku setelah sampai.di sana.


"Iya," ujar Riko singkat.


"Waaah... cantik banget," kataku terpesona



"Ya udah ayo turun," ajak Riko.


Aku mengikuti Riko menuju rumah Rino, kenpa mereka kaya-kaya ya, sedangkan Ayah yang kerja tiap hari, tapi tetap jadi orang biasa saja.


"Tante, nih berkas untuk Rino," kata Riko ketika ia melihat Tantenya sedang duduk di sofa.


"Iya makasih ya Riko, lho ini bukannya Laras yang waktu itu?" Tanya tantenya ketika melihatku, kami pernah bertemu di saat makan malam di rumah Riko dulunya.

__ADS_1


"Iya Tante" ujarku mengangguk.


"Tapi kenapa kamu bawa lagi, bukannya Ayah kamu marah Riko" kata Tantenya menekukkan dahinya.


"Laras adalah anak teman Ayah yang pernah membantu Ayah dulu, tentu saja Ayah berhutang banyak dengan Ayahnya," kata Riko menjelaskan.


"Tapi kenapa Ayahmu tidak ada cerita, bukankah kamu sudah pernah di marahi Ayahnya Riko, Laras?" Tanya Tantenya kepadaku.


"Eh... anu... Tante, jangan di ungkit lagi, aku jadi tidak enak hati," ujarku canggung.


"Baiklah," kata Tante mengangguk setuju.


"Laras" lirih Rino yang menuruni anak tangga dari kamarnya.


"Rino" sapaku tersenyum.


"Sama siapa kamu di sini?" Tanyanya mendekatiku.


"Hey... emang ngaklihat aku di sini," kata Riko jengkel.


"Eh, maaf, kenapa di sini? Mau ngucapin selamat?" Tanya Rino manyun.


"Eh, karena kamu bilang begitu ya sudahlah, aku ucapkan selamat untukmu dan Mona semoga bahagia ke anak cucu dan cicitmu" ujarku mengulurkan tangan.


"Tidak boleh kamu mengulurkan tangan kepada lelaki yang akan sebentar lagi menjadi suami orang, nanti calon pengantinnya cemburu" kata Riko menarik tanganku.


"Ya sudah Tante, Rino, kami pulang dulu, aku juga harus mengantar Laras pulang" kata Riko pamit.


"Sebentar, ada yang mau aku berikan sama Laras," kata Rino berlari kekamarnya. Dan ia langsung turun setelah mengambilnya.


"Ini untuk kamu, semoga kamu suka" Kata Rino menyerahkan.


"Apaan ini?" Sambar Riko yang ingin membuka kotak kecil tersebut.


"Bukan untukmu" kata Rino kembali merampas dari tangan Riko dan mengulurkan ke tanganku.


"Terima kasih ya Rino, acara pernikahanmu aku pasti akan membawa kado untukmu" kataku tersenyum menerima pemberian Rino.


"Tidak perlu, kalian datang saja, aku udah senang," ujar Rino tersenyum kepadaku.


"Hey... jangan tersenyum mesum kepada calon istriku," kata Riko menarik tanganku untuk bersembunyi di belakangnya.


"Calon istri? kau bahkan belum menyatakan cinta kepadanya, emang kalian termasuk hubungan apa?" Tanya Rino mengejek. Ak hanya tersenyum, karena ucapan Rino ada benarnya.


"Aku akan langsung melamarnya, tidak perlu kamu mengajariku, urus saja calon istrimu yang sudah menjebakmu itu" kata Riko mendonggakan dagunya.


"Banyak bacot, sana antar Laras pulang, kelaparan nanti dia karena kelamaan meladenimu ngomong" kata Rino mengusir.

__ADS_1


"Aku akan memberikan yang terbaik untuknya, jangan banyak omong kamu" kata Riko memegang tanganku.


"Udah, ini udah hampir sore, makan di sini saja, Laras pasti lapar," ujar Tante menawarkan.


"Udah ngak papa Tante, aku mau bawa dia kerestoran aja" Kata Riko menolak.


"Baiklah, jangan kamu apa-apain anak orang itu," kata Tante mengingatkan.


"Iya Tante, ngak berani kok, Ayahnya galak kalo lagi marah" kata Riko berbisik, tapi masih bisa kudengar, aku mencubit pinggangnya.


Tante tersenyum mendengar ucapan Riko. Kami berpamitan untuk pulang.


"Mampir di restoran dulu, makan sebelum pulang" ajak Riko. Aku hanya mengangguk.


Sesampainya di restoran, kami masuk ke dalam restoran tersebut dan bepapasan dengan pak Kim.


"Ayah" sapa Riko. Aku hanya menundukan kepala tak berani menatapnya.


Pak Kim berhenti, ia menatapku dalam.


"Laras" lirihnya. "Om minta maaf" sambungnya lagi.


Aku mendongakkan kepala. "Tidak apa-apa Om, saya tidak masalah," ujarku tersenyum.


"Ya sudah Om pergi dulu, jaga Laras baik-baik" kata pak Kim menepuk pundak Riko.


"Siap Ayah," kata Riko hormat. Pak Kim pun pergi.


"Ayo masuk Tuan muda, Nona" ujar pelayan itu. Aku mengangguk tersenyum.


"Kamu mau makan apa?" Tanyanya.


"Terserah," ujarku mengangkat bahu.


Riko berbisik kepada pelayan tersebut, pelayan hanya tersenyum mendengar ide Tuan mudanya. Dan ia langsung kedapur mengambil makanan yang di pesan.


Tak lama kemudian pelayan membawakan mangkok dari dapur dan meletakkan di atas meja. Dan ketika aku melihatnya, aku langsung melongo.


Ternyata isinya adalah TULANG KAKI SAPI, ini membuatku tak bisa berkata-kata. Riko masih saja menjailiku.


"Makanlah, bukannya ini makanan mu," ujaranya tertawa.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


__ADS_1



__ADS_2