Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Rapat


__ADS_3

"Baiklah jika begitu saya pulang dulu," pak Kim pamit.


"Iya Kim hati-hati," pesan ayah. Pak Kim mengangguk dan pergi.


"Kalau begitu aku juga pergi Ayah, Laras," pamit Riko.


"Ya hati-hati Riko," pesan Ayah lagi.


"Ya Ayah," jawab Riko dan beranjak pergi.


"Ayah bagaimana ini? Aku belum siap menghadap orang yang sudah berpengalaman, aku takut gugup," ujarku gelisah.


"Percaya dan yakin jika kamu bisa dan sering belajar, jika ada yang tidak mengerti kamu bisa tanyakan kepada Riko," ujar ayah menenangkan aku.


"Hais... hatiku masih was-was dan bimbang Ayah," jawabku khawatir.


"Udah ngak apa-apa, Kim menyuruhmu berarti dia percaya denganmu," ujar ayah menepuk pundakku. Aku manyun rasanya aku benar-benar belum siap, aku takut melakukan kesalahan.


Aku masuk kamar dan menghempaskan tubuhku ke ranjangku rasanya berat sekali pundakku karena beban tanggung jawab yang di berikan pak Kim kepadaku.


Aku memejamkan mata dan tanpa sadar aku tertidur.


xxx


Tring ring...


Tring ring...


Nada ponselku berbunyi, dengan malas aku mengangkatnya.


"Halo," jawabku lesu.


"Halo sayang, ayo bersiap-siap untuk rapat hari ini," ujar Riko lewat telpon. Aku langsung bangun.


"Rapat apa?" Tanyaku kaget.


"Rapat untuk proyek yang akan kita jalankan, siap-siap ya mungkin jam 9 akan mulai rapat, nanti aku jemput kamu," ujarnya memberi tahu.


"Tapi aku belum belajar apa pun," ujarku deg-degan.


"Udah ngak apa-apa kok, cuma perkenalan aja," ujar Riko menenangkanku.


"Oh baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu," jawabku lemes.


"Iya," Riko pun menutup panggilannya.

__ADS_1


Rasa khawatir, was-was, takut, deg-degan, gelisah dan lain-lain semua jadi satu. Aku masuk kekamar mandi dan menguyurkan tubuhku dengan air dingin agar mataku melek selalu.


Setelah bersiap-siap aku keluar dan menunggu Riko di ruang tamu, tak lama Riko datang dan menghampiriku.


"Apa kamu sudah siap?" Tanya Riko mengangkat alisnya. Aku mengangguk pelan meskipun aku belum siap.


"Ya sudah ayo, kita cari sarapan dulu biar kamu ngak gugup lagi," Riko meraih tanganku dan mengandeng masuk ke mobilnya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Riko melihat ke arahku.


"Apa aja," jawabku singkat.


"Kamu jangan tegang gitu donk, santai dan rileks saja," jawabnya tertawa melihatku dengan wajah serius.


"Bagaimana aku ngak tegang, ini masalah yang sulit bagiku. Aaaaaa... Riko bagaimana ini?" Tanyaku dengan wajah manyun.


"Udah nanti lama-lama terbiasa kok," ujar Riko tersenyum dan mengelus rambutku.


"Udah turun kita sarapan dulu," ajak Riko membukakan pintu mobil untukku. Aku turun dari mobil di tuntun oleh Riko, kami bersama-sama masuk ke dalam restoran tersebut.


"Silakan Tuan, Nona pilih menu yang Anda suka," ujar pegawai restoran itu menyodorkan buku menu. Riko menerimanya dan memesan.


"Sandwich dan puding mangga," pesannya. "Kamu mau apa?" Tanya Riko membalikkan buku menu ke arahku.


"Steak sapi," jawabku.


"Aku harus punya tenaga buat menghilangkan rasa gugupku," jawabku sebal.


Beberapa menit kemudian datanglah pegawai itu mengantarkan makanan.


"Silakan Tuan, Nona di nikmati," ujar pelayan itu sopan. Kami mengangguk dan aku langsung menyantap makanannya.


Perutku kenyang dan terkapar sambil menyenderkan tubuhku di kursi.


"Sudah jam berapa?" Tanyaku kepada Riko yang juga sudah selesai makan.


"Jam 08:34 menit," jawabnya dengan melihar arloji di tangannya. "Ya sudah kamu mencernanya di dalam mobil saja," ajaknya mengandeng tanganku. Aku mengikutinya dan tak lupa ia ke kasir dan membayarnya terlebih dahulu.


Riko meluncurkan mobilnya melaju du di jalanan menuju arah kantor papanya.


Sesampainya di perusahaan papa Riko aku berdecak kagum melihat ke mewahan gedungnya. Aku mendonggakkan kepala melihat tingginya gedung sayup memandangnya.


"Ayo masuk," ajak Riko. Seluruh pegawai kantor menyambut kedatangan Riko.


"Wah... andai saja aku yang ada di sampinnya, matipun aku rela," ujar Kaila terpesona.

__ADS_1


"Tuhan, kenapa engkau menciptakan pria tampan tapi bukan untukku," keluh Miranda.


"Tuan muda Riko pria yang sempurna, siapa yang mendapatkannya pastilah orang yang paling beruntung," ujar Rehan staf kantor tersebut.


"Silakan Tuan muda, untuk rapat perkenalan hari ini ruangannya sudah kami sediakan," ujar pegawai menujukkan ruang tersebut. Riko mengangguk dan melihat ruangan tersebut.


"Bagaimana Laras, apa ruangan ini perlu di deasin ulang?" Tanya Riko formal.


"Ya, jika di lihat emang ada sedikit kekurangan," jawabku mengangguk layaknya propesional. Riko menganggk-angguk mendengar jawabanku.


"Tuan muda, tamunya sudah datang," ujar pegawai yang lain memberi tahu.


"Baiklah, ayo Laras kita sambut mereka," ajak Riko. Aku mengangguk mantap. Ternyata para tamu datang bersama papa Riko.


"Wah apakah ini anak Anda Tuan?" Tanya pak Rohi kagum melihat ke arah Riko.


"Ya dia anak saya," jawab pak Kim mengangguk.


"Kau punya putra yang luar biasa, aku benar-benar kagum denganmu," ujar pak Rohi tertawa. Pak Kim hanya mengangguk sambil menatap kami berdua.


"Oh ya, di sebelahnya siapa?" Tanyanya ketika melihatku.


"Kenalkan pak, saya Laras sekretaris Riko," jawabku menyodorkan tangan. Pak Rohi menjabat tanganku dan menganguk.


"Dia juga seorang desainer, dia baru pemula, jika ada kesalahan harap maklumi saja," ujar pak Kim.


"Oh tidak masalah Tuan Kim, saya mengerti itu," jawabnya mengangguk.


"Mari masuk ke ruangannya," ujar Riko mempersilakan. Mereka semua mengikuti Riko termasuk papa Riko. Riko duduk di kursi utama dan aku berdiri di samping Riko.


Deg.


jantungku berdegup saat melihat para pengusaha besar berkumpul, aku malah seperti orang kecil seperti semut.


Riko berdiri. "Terima kasih untuk semua tamu yang sudah berkumpul jadi persilakan perkenalkan nama dan perusahaan masing-masing," ujar Riko.


"Saya Rohi dari perusahaan AmaN."


"Saya Mahen dari perusahaan Dewi Lestari."


"Saya Ketty dari perusahaan JB."


"Saya Taffan dari perusahaan FaN BX."


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2