
Sebenarnya sakit juga hatiku, Riko bahkan tidak menanyakan kedatanganku.
"Laras, aku ingin berbicara sebentar denganmu," kata Riko.
Aku menatapnya diam.
Riko menarik tanganku dan membawaku kesuatu tempat.
Dan sampailah di depan ruangan kosong.
"Laras, kamu jangan salah paham, aku dan dia tidak ada apa-apa, aku hanya menemaninya karena di suruh ibunya, karena ibunya adalah teman Mamaku," kelas Riko.
Aku hanya diam dan tidak peduli.
"Kamu harus ngerti keadaanku ya," kata Riko menatapku.
Aku masih tidak menjawabnya.
"Ya udah kalau begitu aku pergi dulu ya," ujarnya dan pergi.
"Tuhan... aku harus gimana? Jika aku melarangnya apa aku egois?" Batinku sambil menangis.
Namun aku harus kembali ketempat pertandingan, sebelum itu aku ke toilet untuk mencuci mukaku agar tak terlihat menangisnya.
"Laras, ada apa?" Tanya Putri setelah aku datang.
"Bukan apa-apa," jawabku menyembunyikan sesuatu.
"Bentar lagi lomba estafet, kita harus siap-siap, dan kita harus menang," kata Putri menyemangati.
"Iya kita harus menang, buat apa aku mikirin dia," bathinku.
"Baiklah siap-siap perlombaan estafet semua peserta berkumpul," ujar pembawa acara. Kami berbondong untuk turun kelapangan. Bersiap-siap ambil posisi.
Mulai.
Aku lari sekencang-kencangnya dan memberikan kepada Putri, lalu Putri memberikan kepada Lusi, Lusi berlari memberi kepada Dita.
Dan akhirnya...
Kami menduduki posisi 4.
Kami menjerit karena kesenangan, dari sekian banyak peserta, meskipun posisi 4 tetaplah jadi kebanggaan.
Kami tertawa dan meghampiri tempat duduk kami, Riko tersenyum kearahku, namun aku mengalihkan pandanganku.
"Aku tidak boleh mempengaruhi moodku karena dia," batinku.
Riko tidak beranjak dari tempat duduknya untuk memberiku selamat, melainkan masih mengobrol dengan Lisa.
Ari dan Radit menghampiri kami.
"Selamat ya buat kalian, nanti aku traktir makan sepuasnya," kata Ari.
"Kebetulan nih aku lagi bokek," kata Dita.
"Aman Dita, kamu pilih mau makan apa aja, buat orang ini bangkrut," kataku.
"Nih aku bawakan minuman, katanya minuman ini bukan hanya bisa mengisi energi, tapi juga bisa bikin bahagia," kata Radit mengeluarkan beberapa botol minuman.
__ADS_1
"Waaaah... enak ya punya pacar, ada yang perhatiin," kata Dita mengambil sebotol minuman.
Lusi dan Putri terdiam, tak berani untuk menjawabnya karena menyinggung perasaanku.
"Selanjutnya yaitu lari berpasangan silakan menuju lapangan," kata pembawa acara itu.
Kini pasanganku adalah dengan Dita, Putri berpasangan dengan Lusi.
Kami berlari harus mengikuti ritme, kalau tidak kami akan terjungkang. Dita emang partner yang bisa di ajak kerja sama.
Aku dan Dita memenangkan juara 2, kami loncat-loncat kegirangan, sedangkan Lusi dan Putri terjatuh, ya berdiri lagi entah dapat nomor sekian-sekian. Lari berpasangan ini sangat sulit karena kaki kami harus di ikat dengan kaki pasangan kita.
"Wahhhhh...kalian emang hebaaaaaattttt," teriak Lusi. Syukurlah Lusi kembali ceria.
"Mulai sekarang aku temanan sama Dita aja, malas berteman dengan teman payah seperti kalian," kataku sambil memeluk Dita.
"Kurang ajar kamu ya, kacang lupa kulit kamu ya," kata Lusi dan Putri mengebukiku.
Riko dan Lisa menghampiri kami membuat kami langsung terdiam.
"Selamat ya Laras," kata Lisa mengulurkan tangannya.
"Oh iya ya, tapi katanya mau traktir makan," kata Putri menarik tanganku dan tangan Ari.
"Iya aku udah lapar banget nih, ayo sayang," kata Lusi bermanja dengan Radit. Dan kami beranjak meninggalkan Riko dan Lisa.
"Sepertinya mereka tidak menyukaiku deh," kata Lisa.
"Mungkin mereka belum terbiasa," jawab Riko.
Sesampainya di kantin.
"Kamu jangan nyalahin orang, ingat! Kamu masih kupantau," ujar Lusi menatap tajam kearah Radit.
"Iya sayang, aku ngak buat lagi," kata Radit memohon.
"Sssttt... Riko di sini, kita pura-pura saja tidak lihat," ujar Putri. Kami mengikuti arahan Putri dan buat drama. Kami duduk menghadap ke depan semua.
"Waaahhh... ini enak banget," teriak Dita.
"Kamu makan kenyang-kenyang, habisin semuanya," ujarku menyodorkan beberapa piring kearah Dita.
"Kalian?" Tanya Dita.
"Bandarkan ada, kamu ngak usah pusing," ujarku.
"Iya, setidaknya kami ngak sekaya Riko, bisa ngasih ini itu," celetuk Ari.
"Tapi kamu yang terbaik, meskipun ngak ngasih yang aku mau, tapi kamu ngasih hatimu buat aku sendiri, ngak kayak seseorang, udah punya tunangan malah jalannya sama perempuan lain," singgung Putri.
"Kalo aku jadi kamu, aku labrak, kujambak-jambak rambut pelakor itu, itu namanya pelakor terang-terangan," kata Lusi mengeram.
"Terus waktu Radit kayak gitu, kenapa kamu malah diam?" Tanya Putri mencemeeh.
"Setidaknya dia udah minta maaf, udah mengakui kesalahannya, kalo ini mah sengaja di pamerin," kata Lusi membela Radit.
"Udah ah, kalian jangan bikin moodku buruk," ujarku.
Tiba-tiba Riko datang kemeja kami, belum sempat ia berbicara kami udah minggir duluan.
__ADS_1
"Udah ayo, aku udah kenyang," kata Lusi.
"Iya, kita cari tempat yang adem, di sini panas," celetuk Putri mengibas-ngibaskan tangannya.
"Tapi aku belum kenyang," kata Dita denan makanan di mulutnya.
"Udah... udah kenyang itu," kata Ari dan Lusi menarik tangan Dita untuk segera pergi.
"Ini aku ngasih 300 ribu, kamu?" Tanya Radit kepada Ari.
"Ini aku nyumbang 200 ribu," kata Ari memberikan 2 lembar uang warna merah.
"Ini untuk kamu Dita, sebagai ganti makanan tadi," kata Radit menyerahkan kepada Dita.
"Waaaawww... terima kasih banyak ya," kata Dita senang menerima uangnya.
Saatnya pulang.
"Kalian berdua bisa bantu aku ngak?" Tanya Riko kepada Radit dan Ari.
"Maaf men kami punya pekerjaan lain," jawab Ari kemudian masuk mobil bersama Radit dan meninggalkan Riko.
Riko hanya mematung, biasanya dia ajak kemana aja mereka pasti nurut.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
Ponsel Lusi berdering.
"Eh dari Radit," kata Lusi.
"Halo," jawab Lusi.
"Kita main-main yuk, kalian di mana?" Tanya Radit.
"Mau kerumah Laras, ini masih di jalan," jawab Lusi.
"Ya udah kita langsung ke taman Soraya, danau di sana cantik," ujar Radit.
"Oke," kata Lusi menutup panggilannya.
"Ayo putar haluan, kita ke taman Soraya," kata Lusi.
Sesampainya di taman, pemandangannya sangat cantik, membuat hati jadi tenang.
"Ayo kita foto dulu," ajak Radit, setelah kami berkumpul.
Ckrek...ckrek..
Lalu Radit memasukan kemedia sosialnya.
Ting...ting..
Notifikasi masuk keponsel Riko. Riko melihat foto mereka berlima tanpa dia.
"Jadi yang mereka bilang ada kerjaan, rupanya jalan-jalan," kata Riko tersenyum sinis.
__ADS_1