
"Hebat kamu ya, di saat seperti ini, kamu malah mengantuk," kataku.
"Tubuh juga butuh istirahat," jawabnya.
"Tidurlah jika kamu mengantuk," kataku.
Aku melihat sekeliling tidak ada jalan keluar lainnya, hanya ada pentelasi. Aku tidak percaya jika tidak ada jalan keluar lainnya.
Aku tertuju pada suatu benda seperti tombol, sayangnya kaki dan tanganku terikat sangat kuat. tidak ada apapun yang bisa memotongnya.
Bak... buk... bak... buk... bak... buk...
"Suara apa itu?" Tanyaku heran.
"Karisa, bangun," panggilku, ya ampun ini anak kuat juga tidurnya. Kusenggol bahunya dengan bahuku.
"Hm, apa?" Tanyanya dengan mata mengantuk.
"Laras... Laras...," panggil seseorang dengan suara sayup.
"Aduh gimana ini? Jika kujawab, dua orang yang menjaga kami akan bangun, dan mereka pasti tidak akan melepaskan kami," batinku.
"Eh, suara apa itu?" Tanya teman yang satunya tiba-tiba bangun.
"Mampuslah," pikirku ketakutan.
"Ayo lihat dulu," ajak temannya itu. Syukurlah mereka keduanya pergi, jadi tidak ada yang menjaga kami.
Tapi ikatan ini membuat aku dan Karisa tidak bisa bergerak dan juga kakiku kesemutan.
Tak lama terdengar suara tembakan.
"Astaga, apa yang terjadi di atas sana?" kata Karina ketakutan.
"Laras...," terdengar suara itu lagi.
"Rikooooo... aku di sini.... di ruang bawah tanaaaah...," teriakku.
Tak lama Riko menemukan pintu jalan kearah kami.
"Laras...," panggilnya ia turun dengan 8 orang pengawal lainnya dan lari kearahku dan membuka ikatanku, sedangkan karina di buka oleh pengawalnya.
"Laras, apa kamu baik-baik saja, aku benar-benar khawatir," katanya memelukku. Aku membalas pelukannya.
"Aku baik-baik saja, cuma... kakiku kesemutan," kataku ngak kuat berdiri lagi.
"Ya udah aku gendong kamu kemobil," katanya yang langsung mengendongku kemobilnya. Aku menenggelamkan wajahku kedalam tubuhnya.
Ia mendudukanku kemobilnya pelan-pelan.
"Kamu ngak ada terlukakan? Ngak kenapa-napakan? Apa ada yang ngak enak?" Tanyanya khawatir sambil memegang wajahku.
"Aku baik-baik saja, ini udah jam berapa?" Tanyaku melihat sekeliling.
"Jam 05:40," jawabnya melihat jamnya. "Maaf ya sayang, aku lama menemukanmu," katanya merasa bersalah.
"Udah ngak apa-apa, menemukan persembunyian mereka 'kan ngak segampang itu, apa lagi ini jalan sepi di lewati orang," jawabku. "Oh ya di mana Karisa?" Tanyaku, ternyata aku melupakannya.
"Oh dapat teman baru ya," kata mencoel pipiku.
__ADS_1
"Iya, dia kenal Sama Rino dan dia kenal sama kamu juga, jika di lihat dia suka kamu," kataku.
"Tapi, aku ngak suka dia, di dunia ini, aku hanya suka kamu saja, titik," jawabnya.
"Ati-ati lho, orang ngomong kayak gitu, biasanya ada selingkuhannya," kataku mencibir.
"Ngak sayang, aku orangnya setia sampai mati," katanya menyakinkan. "Ya udah kita pulang," sambungnya memutarkan mobilnya.
"Waww... banyak sekali pengawal Papamu," kataku kagum.
"Ada sekitar 100 orang untuk mencarimu, jika belum ketemu juga Papa akan mengerahkan 200 orang lagi, untunglah kamu cepat di temukan," jawabnya.
"Cara nemuin kami kayak mana?" Tanyaku.
"Pas Lusi nelpon, aku langsung memberi tahu Papa, masuk ke cafe 20 orang memantau cctv dan yang lain bergerak, jumlahnya ada 6 orang ya perampoknya?" Tanyanya.
"Iya kalo ngak salah," jawabku.
"Kamu... aku benar-benar khawatir tadi, takut kamu di apa-apakan oleh mereka," katanya mengelus rambutku.
"I'm fine no need to worry" kataku mencium pipinya. Ia langsung tersenyum.
"Jika begini, aku ngak cuci muka selama sebulan," katanya bercanda.
"Jorok," jawabku tersenyum. "Lho ada Radit, Ari dan Rino juga?" Tanyaku ketika melihat mereka datang kearah kami.
"Kamu baik-baik saja Laras?" Tanya Rino khawatir denganku.
"Aku baik-baik saja, mana Karisa?" Tanyaku mengangkat alis.
"Itu, dia di dalam mobil," jawab Rino.
"Dan mereka saling kenal donk," celetuk Radit.
"Aamiin," jawab Ari.
"Kalian ini, ayo pulang, matahari udah mulai muncul kayaknya nih," ujarnya mengalih pembicaraan.
"Oke," jawab Riko mengenakan sabuk pengaman kepadaku.
Setelah semua selesai, kami beranjak dari rumah tersebut dan meluncur pulang merumah.
"Oh iya, kakak laki-laki Doni sudah di temukan, sekarang ada di rumah Papa," kata Riko memberi tahuku.
"Oh ya, jika di rumah Papamu, apa ngak lari dia nanti?" Tanyaku.
"Kan di jagain sama pengawal Papa yang lain," jawabnya. Iya ya, pengawal papanya banyak.
Sesampainya di Rumah.
"Laras," panggil Ayah dan memelukku ketika melihat aku keluar dari mobil Riko. "Kamu baik-baik saja nak?" Tanya Ayah sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja Ayah," jawabku. Aku melihat Ayah menagis.
"Syukurlah, untung saja tidak terjadi apapun padamu," jawabnya melepaskan pelukannya.
"Laras," serbu kedua sahabatku.
"Laras, maaf ya, kami ngak bisa bantu apa-apa, kami hanya bisa mendoakanmu agar kamu baik-baik saja," kata mereka menagis.
__ADS_1
"Doa juga sudah sangat membantuku, kalian yang terbaik," jawabku mempererat pelukannya.
"Eh siapa itu?" Tanya Putri ketika melihat Karisa.
Aku melepaskan pelukannya.
"Oh itu karisa, kami berdua di sandera," jelasku.
"Ooo...," jawab Mereka memonyongkan mulutnya.
"Karisa, ayo sini," panggilku.
Ia mengangguk dan datang kearah kami.
"Karisa," katanya memperkenalkan diri sambil menyalami Lusi dan Putri dan mencium tangan Ayah sebagai tanda sopan.
"Aku Lusi, dan ini Putri," kata Lusi juga memperkenalkan diri. Putri melambaikan tangannya.
Karisa tersenyum.
Riko datang dan duduk di sampingku. Yang di ikuti Radit, Rino dan Ari.
"Ya sudah, kalian anak muda ngobrollah, Ayah mau nemui Kim," kata ayah beranjak dari tempat duduknya.
"Oke Ayah," kata Riko mengacungkan jempolnya dengan senangnya. Tentu saja dia senang, karena ia ingin merangkul pundakku, jika ada ayah, tentu saja dia segan.
Radit duduk di damping Lusi, Ari juga di samping Putri, dan Rino... mau ngak mau ya di samping Karisa, mereka berdua jadi obat nyamuk.
"Sebentar lagi makanan datang," kata Riko.
"Aku ngantuk banget," ujarku menyenderkan kepalaku kebahu Riko.
"Tidurlah, kalo makanannya sudah sampai, nanti aku bangunin," kata sambil mengusap rambutku.
"Ngak, pas aku bangun malah tinggal tulangnya," jawabku manja.
"Kan kamu emang suka tulang," ejeknya.
"Ih," aku mencubit bahunya.
"Aww... sakit," jeritnya.
"Sakitan mana? Di cubit atau di tinggali?" Tanyaku.
"Di tinggali," jawabnya.
"Ya sudah, berarti di cubit ngak sakit donk," kataku sambil mencubitnya.
"Sakit sayang, udah ah, ngak bercanda lagi," katanya ngalah.
Apalah daya Rino dan karisa, mereka hanya melihat kami yang bercanda ria.
"Kalian, ngak becanda juga?" Tanyaku kearah Rino dan Karisa.
Karisa hanya tersenyum menundukan kepalanya karena malu. Dan Rino memandang kearah Karisa.
Radit dan Ari sibuk dengan pasangannya, mereka udah entah kedunia lain yang mana, meskipun raganya masih duduk di sofa.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH