Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Pesta bersama teman


__ADS_3

"Ya Ayah, cie... cie... yang pindah rumah baru, katanya kemaren menolak, tapi diam-diam mau juga tuh," ujarku mengejek.


"Udah sana, Ayah sibuk," usir Ayah.


"Ya baiklah," jawabku dan masuk kekamar. Aku terpaku menatap kamarku yang lusuh, banyaknya kenangan yang kulalui di sini, saat aku menangis, tertawa, bercanda bersama teman-teman, saat tersenyum ketika pertama mendapat nomlr WA kak Doni, marah karena tiba-tiba di telpon Riko, menagis ketika aku di marah oleh pak Kim, semuanya berlalu begitu saja. Dan kini malah pak Kim ingin kami pindah kerumah yang ia hadiahkan untuk Ayah. Kamarku inilah saksi bisu kehidupanku sehari-hari yang rasanya tak rela aku meninggalkannnya. Aku memeluk gulingku dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tak rela meninggalkannya," Aku mengelus tempat tidur dan merebahkan tubuhku untuk yang terakhirnya.


"Laras, apa sudah siap?" Teriak Ayah dari luar.


"Ya, sebentar," jawabku dan bangun dari tempat tidur. Aku mulai membereskan barang-barangku termasuk guling jelekku.


"Ayah aku sudah siap."


"Ya tinggalkan di sana biar orang-orang ini yang mengangkatnya."


"Ya Ayah, aku pergi kesuatu tempat dulu," pamitku.


"Tapi barang-barangmu rapi sendiri ya, Ayah ngak tau kamar mana yang kamu suka," kata Ayah.


"Iya, taro saja di Ruang tamu nanti," kataku dan langsung pergi mencari Ojol.


"Bang ke toko jam tangan," kataku kepada Abang Ojol itu.


"Baik mbak," katanya dan melunjur motornya di jalan.


Sesampainya di sana, aku memilih toko jam yang cocok untuk kupilih.



Jadi binggung pilih yang mana, semua bagus-bagus, aku dilemaaa......


"Riko kulitnya putih, jadi semua warnanya masuk sih, bahkan kulitnya lebih putih dariku, pake perawatan apa dia? Huh! Pilih warna norak aja deh, terserah dia mau pake apa ngak?" kataku memilih warna pink tua.


"Hehehe, dia ingin sesuatukan? Jadi kuberi sesuatu, awas saja jika dia tidak menerimanya," kataku tersenyum licik.


"Tolong ambilkan yang ini," kataku kepada yang punya toko.


"Baiklah,"


"Berapa?"


"Seratus lima puluh ribu."


"Mahal banget menurutku," ujarku dalam hati.


"Ini pak," kataku menyerahkan uangnya.


"Terima kasih," kata penjual jam itu menyerahkan kotak kecil.


Aku menerimanya dan membawa kotak kecil iti dengan wajah sewot. Kesal tentu saja, karena bagi itu mahal, jam tanganku saja seharga empat puluh lima ribu, Buang-buang duit saja.


Tiiit...


Tiiit...

__ADS_1


Tiiit...


"Halo" jawabku.


"Kamu di mana?" Tanya Riko.


"Di jalanan," jawabku singkat.


"Ngapain? Kamu ngamen?" Tanyanya membuatku sebal.


"Ngak, aku lagi nyari calon suami yang ganteng di sini, wah... ada yang mirip oppa korea," balasku.


"Di kota ini tidak ada yang lebih ganteng dariku," ujarnya bangga.


"Oh ya? Jika begitu aku pindah saja dari kota ini mencari yang lebih ganteng," ujarku mencibir.


"Meskipun kamu mencari yang lebih tampan dari aku, tapi kamu akan kembali lagi kepadaku," katanya ke-g-r-an.


"Udah jangan banyak bacod, kenapa?" kataku kembali ketopik pembicaraan.


"Kamu di mana?" Tanyanya lagi, di jalan cinderlela," kataku melihat alamat di banner toko.


"Oke aku jemput," katanya langsung menutup panggilan.


"Ni anak ngak ada sopannya ya," gerutuku.


Tak berapa lama.


Bruuum...


Bruuum...


Bruuum...


"Kekuburan," jawabku singkat.


"Cantik-cantik kok kekuburan," ujarnya nyengir.


"Palamu iya," sungutku.


"Udah, jangan marah-marah lagi, cepat naik," ujarnya serius.


Aku langsung masuk kemobilnya dan duduk di kursi penumpang. Riko melajukan mobilnya mengantarku pulang. (Diakan ngak tau aku udah pindah biarkan saja).


"Nih katanya mau hadiah," kataku menyodorkan kotak kecil.


"Apaan nih, tau aja kalo aku menang," katanya tersenyum mengambil kotak tersebut.


"Menang? Terus kenapa cepat sekali pulangnya," Tanyaku.


"Pertandingannya udah selesai, tinggal pertandingan anak junior aja lagi, jadi aku lebih memutuskan untuk pulang," jelasnya.


"Oh," jawabku singkat.


"Ayo kita merayakan pesta kemenanganku, aku akan mengundang teman-temanku dan kamu mengundang teman-temanmu," ujarnya ceria.

__ADS_1


"Ya... ya...," aku mengangguk manyun. Aku mengambil ponsel dari tasku dan menelpon Lusi dan Putri.


***


"Yai pesta hari ini kita buat Riko bangrut, sampai ia menjual restorannya ini," ujar Lusi mengangkat gelasnya yang berisi jus jeruk peras.


"Heh! Kamu isi perutmu dengan dengan semua makanan yang ada di reatoran ini sampai bengkak perutmu, aku ngak akan bangkrut," ujar Riko bangga.


"Ya udah kalo gitu kujual aja reatoran ini biar kamu bangkrut," balas Lusi tak mau kalah.


"Udah ah, makan ajalah yang kenyang, jika kamu ingin dia bangkrut kamu bawa aja keluarga beserta jajaran si dunia ini kesini, dan bilang ini gratis," ujarku memberi saran.


"Kalo aku jatuh miskin, kamu yang akan susah, tidak bisa beli ini dan itu," ujar Riko tersenyum menatapku.


"Cari laen gaes," ujarku bangga.


"Iya gaes, cari Om-om kaya gaes," sambung Lusi.


"Jadi Radit mau kamu anggurin Lus," kata Ari terkekeh.


"Radit? Aku angguri? Emang kenapa dengan Radit?" Tanya Lusi tak mengerti.


"Ngak ada apa-apa, kamu minum sana sampai pingsan gih," suruh Ari yang masih menyimpan misteri dari perkataanya.


"Kalian mau makan apa lagi?" Tanya Riko.


"Aku mau makan kentaki, ada ngak?" Tanyaku dengan Riko.


"Ada dong, restoran kita semuanya ada," ujar Riko mengodaku.



"Bucin banget sih kamu Riko, bukannya dulu Laras yang bucin sama Riko?" Tanya Lusi mengejekku.


"Kapan aku bucin sama dia, dia itu makhluk yang paling menyebalkan sejagat raya ini, dia itu lebih menyebalkan dari Elien yang ada di luar angkasa sana," tuturku sebel.


"Hahahaha... Riko apa kamu semenyebalkan itu, kok aku ngak tau ya?" Ujar Lusi yang tertawa cekikikan. Radit menatap Lusi sambil tersenyum. Aku melihat kearah Radit, senyumnya beda, apa ini senyum jatuh cinta? Tapi kalo di pikir-pikir Lusi yang koplak itu ternyata ada juga yang menaksirnya, biasanya laki-laki menyukai perempuan yang anggun dan mertabat. Ya sudah lah, mungkin saja jodohnya, syukur deh kalo temanku juga ikut laku.


"Nih di makan, jangan lupa sekalian tulangnya juga di habiskan, itu kesukaanmu," ujar Riko jail.


Aku mengenggam paha ayam lalu melemparkan ke kepala Riko.


Buuk...


"Aduh!" Riko memegang kepalanya. Lusi dan Putri menahan tawa dengan menutup mulutnya.


"Plis jangan ketawa, jangan ketawa," Bisik Putri ketelinga Lusi. Karena tidak tahan lagi, Lusi mengeluarkan suara cekikikannya dan terguling di lantai.


"Kwkwkwkwkwkw... hahahaha rambutmu Riko, di atas rambutmu ada tapung, rambutmu seperti sarang Ayam," kata Lusi tak bisa menahan ketawanya.


"Udah di bilangin jangan ketawa, malah cekikikan," ujar Putri yang ikut tertawa.


"Lagi," ujarku kepada Riko memegang paha ayam yang kedua.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2