Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Lisa masuk rumah sakit


__ADS_3

"Di mana?" Tanya Riko berjalan cepat.


"Maju saja terus kebelakang dan kamu lihat ruang kosong yang agak sedikit terang, itulah tempatnya," jelas Radit.


"Oke," Riko terus berjalan sesuai petunjuk Radit.


"Laras, bagun Laras," panggil Riko.


Pelan-pelan mataku terbuka namun aku masih lemas untuk bangun.


"Riko, aku butuh air," ucapku pelan dan lemah.


"Iya, aku carikan," katanya mengendongku dan membawaku masuk mobil. Aku melihat ia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Radit, ambilkan air minum," kata Riko menyuruh Radit.


"Baiklah," Radit mengangguk dan ia langsung masuk rumah Lisa dan mengambil minumnya. Lisa hanya diam membiarkan Radit masuk, karena saat ini ia dalam mode bingung.


"Ini minumnya," Radit menyerahkan segelas air putih kepada Riko dan Riko meminumkannya ke aku. Aku meneguk aor tersebut dan bertambahlah sedikit energi, kalo lebih lama lagi, bisa mati kehausan aku.


"Gimana?" Tanya Riko mengangkat alisnya.


"Aku baik-baik saja," ujarku mengangguk. Riko pergi kearah Lisa yang masih kebingungan.


"Kok kamu tega sih ngurung dia terus dan kamu ngak membiarkan dia di ruang kosong yang gelap itu tanpa memberinya minum sampai lemas begitu," kata Riko marah.


"Aku... aku... aku hanya ingin dia meninggalkanmu," jawab Lisa pelan dengan menundukan kepalanya.


"Sudah berapa kalia aku bilang denganmu aku hanya mencintainya, sampai kapan pun tetap mencintai dia, lalu dengan cara apa kau menyuruhnya meninggalkanku? Membunuhnya? Mengurungnya hingga ia mati?" Tanya Riko murka.


"Aku... tidak begitu, aku hanya ingin menyuruhnya pergi dari kehidupan kita berdua," ujar Lisa terbata-bata.


"Apa kamu pikir dengan kamu memisahkan aku dan dia, kita akan bersama? Ngak Lisa, aku tidak mencintaimu, dari dulu sebelum aku kenal Laras dan mencintainya, aku juga tidak menyukaimu, aku hanya menganggapmu seperti adik saja," jelas Riko.


"Lalu kenapa waktu di hotel, kamu bilang kamu menyukaiku juga jika kamu tidak mengenal Laras," teriaknya menagis.


"Aku hanya ingin kamu tidak merasa merendah diri dan kamu juga bisa mencari cinta yang lain, sepertinya kamu salah mengartikannya," kata Riko pelan.


"Ya, karena aku terlalu mencintaimu Riko sehingga aku ngak bisa pindah ke lain hati, ternyata aku yang terlalu bodoh mengharap orang yang tidak mengharapkanku," kata menangis dan terduduk di lantai.


"Maaf Lisa, aku harus pergi sekarang," kata Riko meninggalkan Lisa yang masih menagis. Riko masuk mobil.


"Aku lapar," ucapku.


"Iya, kita langsung kerestoran," kata Riko meluncurkan mobilnya.


"Riko kami langsung pulang," kata Ari yang barengan dengan Radit.


"Oke, makasih ya," ucap Riko.


"Iya sama-sama," kata Ari dan mereka meluncurkan mobilnya.

__ADS_1


"Riko, aku juga pulang," pamit Doni.


"Terima kasih ya Don, udah bantu," ujar Riko.


"Udah ngak apa-apa, aku pergi dulu," kata Doni melajukan motornya. Sepertinya ia mengarah ke rumah Mona.


Sesampainya di Restoran.


"Pesan makanan yang banyak," pesan Riko kepada pegawainya.


"Baik Tuan muda," ucap pegawai itu langsung ke dapur.


"Kamu tadi ke rumah Mona ngapain?" Tanya Riko memengabg tanganku.


"Ngak tau, cuma firasat aja, dan benar saja, Deri menampar Mona, aku membantu Mona dan mengancam menelpon polisi tapi ponselku di banting dan rusak," jelasku.


"Apa saja yang di kata Lisa padamu?" Tanya Riko.


"Dia sangat mencintaimu, dan berniat melenyapkanku agar ia bisa bersamamu, sebegitunya dia melakukan demi cinta," kataku baring di meja.


"Terus Doni ada di sana kenapa?" Tanya Riko penasaran.


"Itu aku yang telpon pake ponsel Mona dan menyuruhnya datang, eh malah Doni mau menikahi Mona, ya sudah, sepertinya mereka jodoh deh," jawabku sambil bangun dari baringku.


"Kenapa ngak dari dulu aja Doni bertanggung jawabnya?" Tanya Riko mencibirkan bibirnya.


"Kamu 'kan udah dengar kalo dia ngak mau misahin anak dan ayahnya, ia ingin si bayi kenal dengan ayahnya, tapi kelihatannya Deri ngak bisa jadi ayah buat si bayi, makanya baru dia maju," jelasku lagi. Riko mengangguk-angguk.


"Kamu lapar banget ya?" Tanya Riko terkekeh.


"Iya, aku cuma sarapan pagi aja, terus aku ngak ada di kasih makan dan minum sampai malam," kataku dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Ya sudahlah, habiskan makanannya. Oh ya, berikan puding mangga," kata Riko memesankan.


"Baik Tuan muda," angguk pelayan tersebut.


"Jika aku mmenikahimu sepertinya harus bekerja keras siang dan malam," ujar Riko membuat aku berhenti makan.


"Kenapa?" Tanyaku heran.


"Kamu makannya rakus, belum lagi nanti anak kita apa serakus kamu ngak ya?" Tanyanya meletakkan jari di keningnya.


Aku menatapnya tajam.


"Akukan karena laparnya, biasanya aku cuma makan dikit aja kok," kataku membela diri.


"Ya ya, kamu makannya dikit kok, habis itu aku antar kamu pulang, Ayah udah khawatir tu," kata Riko. Aku menghabiskan makanan tersebut.


"Oke selesai," kataku berdiri.


Riko pun mengantarku pulang kerumah.

__ADS_1


"Laras, kamu ngak apa-apa kan?" Tanya ayah khawatir.


"Ngak apa-apa Ayah," ujarku memeluk ayah.


"Ya sudah kamu istirahatlah, Ayah tau kamu lelah," kata ayah.


"Ya Ayah," ujarku melepaskan pelukan dan masuk kamarku. Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Jika di pikir-pikir, aku orangnya kuat juga ya, makan yang banyak aja aku sudah punya tenaga, jika jadi perempuan lain, mungkin harus masuk rumah sakit.


Aku hampir saja mati terbunuh di cekik oleh Lisa tadi. Tuhan maha baik, sehingga masih memberiku kesempatan hidup dan masih bisa melihat Riko dan ayah.


"Bagaimana keadaan Lisa ya pas di tinggal tadi, bagaimana jika dia bunuh diri," pikirku. Aku langsung menelpon Riko ponsel hasil dari pinjaman dari ayah untuk menyuruhnya datang kerumah Lisa, takut jika frustasi malah bunuh diri.


"Aku capek baget, aku suruh pengawal papa aja pergi," ujar Riko lewat telpon.


"Ya udah, cuma mau pastiin aja, jika dia baik-baik saja," jawabku.


"Oke, nanti kalo ada apa-apa aku kasih tau kamu, dan kamu tidurlah, ini sudah hampir larut," kata Riko mengingakanku.


"Iya," jawabku dan menutup panggilannya.


xxx


Tintin...


Tintin...


Tintin..


Ponselku terus berbunyi, aku sangat mengantuk namun ku paksakan untuk mengambil ponselku di atas meja.


Dengan mata terpejam aku mengangkat telponnya.


"Hm... apa?" jawabku dengan suara lesu.


"Lisa sekarang di rumah sakit," kata Riko.


"Siapa yang di rumah sakit?" Tanyaku. Aku tidak terlalu mendengarkan ucapan Riko.


"Lisa sekarang di rumah sakit," jawab Riko.


"Oh...," jawabku yang hampir saja jatuh kelantai karena mengantuk.


"Kamu ngantuk ya?" Tanya Riko.


"Iya," jawabku dengan ponsel yang sudah jatuh di lantai.


"Ya sudah tidurlah," kata Riko menutup panggilannya.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2