
"Makanlah, aku ngak suka," ujar Riko membuang wajahnya kesamping.
"Kenapa? Yang namanya di kasih, ya harus di terimalah," kataku menekukkan dahi.
"Ya udah deh, kalian ngak mau aku yang makan," kata Lusi mengambil kotak coklatnya. Lusi langsung menyantap coklatnya.
Tanpa kami sadari perempuan yang memberi coklat tadi bersembunyi memandang kearah kami dengan geram, ya tentu saja dia tidak terima jika kami yang memakannya.
"Awas saja kalian, seenakknya makan coklat untuk Riko, ku balas nanti" ujar perempuan itu dan pergi.
"Pulang bareng yuk" ajak Riko kepadaku ketika kuliah selesai.
"Ngak usah, aku pulang sama Putri dan Lusi" kataku menolak.
"Baiklah... baiklah... terserah kamulah" ujarnya mengalah.
Aku, Lusi dan Putri beranjak menuju pulang, ketika di perjalanan.
Beberapa motor menghadang kami, Lusi dan Putri berhenti di pinggir jalan.
"Berhenti!" Teriak anak motor itu dari jauh.
"Ada apa ini?" Tanya Lusi ketakutan.
"Kak, cewek-cewek ini yang udah makan coklatku," kata perempuan itu menunjuk kearah kami bertiga.
"Oh, kalian ingin di kasih pelajaran," kata pria tinggi dia adalah kakak perempuan tadi.
"Bagaimana ini? Jika begini kami tidak akan selamat, kayaknya tidak ada cara lain, harus pakai cara ini" kataku dalam hati. Mereka ada tujuh orang, sedangkan kami cuma 3 orang, kami bukan hanya kalah jumlah, juga kalah tenaga. Mereka lima orang lainnya adalah laki-laki.
"Berhenti!" Jeritku.
"Ada apa lagi? Ingin meninggalkan kata-kata terakhir?" Tanya pria itu.
"Riko adalah pacarku!" Jeritku membuat semua yang ada di sekitar kami terdiam, Lusi dan Putri melongo tak terkecuali perempuan tersebut. "Siapa yang tidak sakit hati apa bila pacarnya menerima coklat dari perempuan lain," sambungku lagi.
"Ah mana mungkin," ujar pria itu memecahkan suasana.
"Ah iya mana mungkin?" Ujar perempuan itu.
"Apa kalian tidak percaya?" Tanyaku tersenyum untuk menyakinkan.
"Tentu saja kami tidak percaya, ayo buktikan" kata perempuan itu lagi.
"Baiklah, jika kalian tidak percaya," kataku mengambil ponsel dan menelpon Riko.
Tuuut... tuuut...
"Halo" sapa Riko.
"Hm... sayang kesini, ada yang gangguin kami" ujarku terpaksa.
"Ha? Eh... iya baiklah, kalian di mana?" Tanya Riko kebingungan, tapi mencoba mengerti.
"Di jalan arah pulang kerumahku," jawabku manja. 'Weeek... rasanya mau muntah'
__ADS_1
"Oke! kami meluncur" kata Riko berangkat bersama Radit dan Ari beserta pengawal Ayahnya sekalian di bawanya.
Sesampainya di sana.
"Riko" lirih perempuan itu.
"Siapa yang mau ganggu pacarku, apa kalian bosan hidup? Ayo hajar mereka," perintah Riko kepada pengawalnya.
"Baik Tuan muda" kata pengawal itu, mereka semuanya lari terbirit-birit, bahkan ada motor mereka ketinggalan.
Lusi dan Putri bersorak tanda kemenangan, teriak-teriak sambil joget-joget. Aku? Aku hanya terdiam tak bisa berkata-kata, hal konyol yang kulakukan membuat aku kehilangan mukaku.
Riko tersenyum ketika melihat kearahku. 'Astaga... ingin rasanya aku menggali kuburan sendiri dan menenggelamkan wajah memalukan ini, atau terjun kelaut samudra Hindia, biar tak terlihat oleh Riko' hatiku berkata-kata.
Ku lirik sedikit ke arah Riko, ya ampun dia masih tersenyum memandang kearahku.
"Tuhaaaaan... aku ingin minggat aja ke planet Venus, ini dangat memalukan seumur hidupku" teriakku dalam hati.
"Lusi ayo pulang" ajakku memegang tangan Lusi dan menariknya.
"Eh... mau kemana kamu, sudah memanfaatkanku, kamu ingin kabur begitu saja, kamu harus baik-baik berterima kasih kepadaku" kata Riko menarik kerah baju kemejaku.
Aku menutup wajahku karena rasanya sangat memalukan setelah memanggil Riko sebutan 'sayang'.
"Ngapain kamu tutup wajahmu? Apa sangat memalukan memangilku sayang?" Tanya Riko menatap wajahku yang masih kututup rapat-rapat.
Lusi dan Putri cekikikan sambil menutup mulutnya.
"Ayo masuk mobil, kuantar kamu pulang biar tidak terjadi apapun" kata Riko menarik tanganku yang masih menempel di muka.
"Sayang kita mau kemana?" Canda Riko, membuat wajahku memerah.
"Kampret!" Teriakku yang langsung menonjok kepalanya.
"Aduuh! Kamu kasar banget sih" lontarnya.
"Ngak lucu candaanmu itu" tukasku.
"Oh, sudah ngak mau menutup wajahmu itu lagi?" katanya menatap wajahku sambil tersenyum.
"Jauhi wajahmu, jangan menatap wajahku seperti laki-laki mesum" ujarku memalingkan wajahnya, agar tidak terus menatapku.
"Bilang saja kalau kamu malu" ujarnya mengangkat bahu.
"Bangsat, sekalipun kamu tau, jangan di omongilah, bikin malu saja" jawabku manyun.
"Ya sudah, ayo pergi" ajaknya, menghidupkan mobilnya.
"Lusi, Putri aku pergi dulu," kataku melambaikan tangan.
"Hehehe hati-hati, nanti kalian kehotel, pacaran di sana" ujar Putri mengejek.
"Hey... teman macam apa kalian? Bukannya menghalangi malah menyuruhku buat hal kotor," teriakku sebel.
Mereka cekikikan, hanya Radit dan Ari yang hanya tersenyum melihat tingkah Lusi dan Ari. Sepertinya teman Riko menyukai temanku.
__ADS_1
Aku dan Riko meluncur di jalanan, sesekali ia mencoelku, namun kutepok tangannya.
"Mau kemana? Inikan bukan arah jalan pulang?" Tanyaku melihat kekiri dan kekanan.
"Siapa juga yang mau pulang," jawabnya enteng.
"Terus mau kemana?" Tanyaku binggung.
"Kekantor KUA" jawabnya singkat.
"Serius kamu?" Tanyaku tak percaya.
"Iya, kamu duduk diam saja jangan bergerak" ujar Riko menatap kedepan.
"Riko, ngapain kamu kesana, aku belum mau menikah," teriakku panik, sedangkan Riko malah tersenyum lucu melihat aku yang sedang panik.
"Kamu diam aja" kata Riko tertawa.
Riko melajukan mobilnya, sehingga cepat sampai. Dan akhirnya sampai di depan kantor KUA-nya.
"Ayo turun," ajaknya menarik tanganku.
"Ngak mau, aku ngak mau, nikah aja kamu sendiri," Teriakku panik.
"Ya udah kamu sendiri di sini, aku masuk kedalam dulu," ujar Riko turun dari mobil. Sedangkan aku gelisah di dalam mobil.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dia benar-benar ingin menikahiku tanpa persetujuanku? apa aku lari saja?" Pikirku dalam hati. Ternyata tak berapa lama Riko sudah keluar dari kantornya dan membawa sebuah map coklat.
Melihat Riko membawa map, aku penasaran isinya dan tak sabar ingin melihat isi suratnya.
"Sini kulihat isinya" kataku tak sabaran, Riko pun menyerahkan surat tersebut.
Tanpa ragu aku membukanya, jika ada namaku langsung kukoyak surat tersebut. Dan syukurlah ternyata nama orang lain, aku merasa lega.
Tapi...
Setelah kulirik-lirik, kutengok-tengok dan kupandang lagi...
Kenapa di sini tertulis nama Rino dan Mona? Apa yang terjadi? Apa mereka akan menikah. Kulihat tanggalnya yaitu 22 Februari akad pernikahan mereka sedangkan sekarang tanggal 15 Februari, berarti seminggu lagi.
"Ini maksudnya Rino akan menikah?" Tanyaku tak sabar.
"Iya" jawab Riko singkat.
"Serius, kenapa mereka menikah secepat ini?" Tanyaku lagi.
"Mereka berdua ketangkap basah berduaan di hotel, Rino bilang dia di jebak oleh Mona" jelas Riko.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1