
Aku pun tertidur. Tiba-tiba saja aku terba n ngun.
"Astaga, tadi Riko bilang apa?" Tanyaku mencari ponsel ayah yang jatuh di lantai tadi, lalu kembali menelpon Riko.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
Tidak di angkat Riko. Sedang apa dia? Aku kembali menelponnya.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
pl0we
"Halo," jawab Riko.
"Kamu di mana sekarang?" Tanyaku panik.
"Di rumah sakit," jawabnya.
"Ngapain?" Tanyaku lagi.
"Lisa kecelakaan."
"Apa? Huh! Syukurlah dia bukan bunuh diri, tapi... eh sama aja, terus bagaimana keadaannya sekarang?"
"Masih di UGD."
"Ya udah, aku ke sana sekarang," kataku ingin bersiap-siap.
"Ngak usah, kamu tidur aja," saran Riko.
"Ngak bisa, aku harus kesana sekarang, alamatnya di mana?"
"Kamu mau apa kesini? Lagian motor kamu 'kan di tinggal di pas kamu di culik," kata Riko memberi tahu.
"Iya ya, pake apa? Oh iya aku telpon Lusi sama Putri aja deh, biar sama-sama kesana," kataku bersemangat.
"Ya udah, terserah kamu, aku share lokasinya ya," kata Riko menutup panggilannya.
"Ya udahlah, aku langsung telpon Putri deh," ujarku dan menelponnya. Sayangnya baru ku menyadari jika nomor mereka tidak ada di ponsel ayah.
"Gimana donk? Telpon Riko lagi deh minta nomor Lusi sama Radit.
Aku kembali menelpon Riko, agar Riko menelpon Radit dan meminta nomor Lusi. Sungguh perjalanan yang panjang rasanya saat ingin melihat Lisa di rumah sakit.
Aku segera menelpon Lusi.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Halo," jawab Lusi yang masih mengantuk.
__ADS_1
"Ayo kerumah sakit," ajakku.
"Apa? Kerumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanya Lusi yang tuba-tiba matanya melek.
"Lisa kecelakaan," jawabku.
"Apa? Lisa kecelakaan? Lalu?" Tanya Lusi.
"Ayo kita jenguk dia," ajakku.
"Laras laras, kamu udah di culik dia, untuk apa kamu datang melihatnya," kata Lusi kesal.
"Tapi... aku ngak ada dendam dengan dia kok, aku justru kasihan liat dia, mungkin jika kamu di posisiku saat di culik saat itu, mungkin kamu akan mengerti ketidak berdayaan dia mengejar cintanya Riko," jawabku pelan.
"Hais... ya udah deh, aku telpon Putri sekarang," kata Lusi menutup panggilannya.
"Terima kasih Lusi," ucapku. Aku pun berlari ke kamar ayah.
Tok...
Tok...
"Ada apa Laras?" Tanya ayah dari dalam kamar.
"Ayah, aku ke rumah sakit sekarang," kataku.
"Siapa yang sakit?" Tanya ayah membuka pintu.
"Kalo aku bilang Lisa, Ayah pasti marah nanti."
"Teman 1 kampus Ayah," jawabku ngasal.
"Sebentar aja kok Ayah, Riko juga da di sana, boleh ya Ayah," ujarku memohon.
"Ya sudah, cepat pulang," kata ayah setuju.
"Hehehe... tenang saja Ayah," kataku dan langsung nyelonong masuk kamar. Aku berganti pakaian dan bersiap-siap.
15 menit aku menunggu, akhirnya 2 orang itu nongol juga.
"Ayo," ajak mereka ketika melihat aku yang sudah ada di teras rumah. Aku berlarian menuju kearah mereka dan duduk di belakang Putri. Mereka melajukan motornya di jalanan.
"Di mana alamatnya nih?" Tanya Putri.
"Perawang Medikal," jawabku. Mereka pun meluncurkan ke arah alamat yang ku sebutkan.
Sesampainya di sana. Kami masuk melewati anak tangga dan berhenti di depan seorang pegawai rumah sakit tersebut.
"Nama pasien bernama Lisa ada di ruangan berapa?" Tanyaku.
"Sebentar ya, saya cek dulu," ujarnya dan melibat ke arah komputer.
"Nomor 124," jawab pegawai itu.
"Terima kasih," ucapku.
"Sama-sama," jawabnya. Kami bertiga bergegas mencari ruangan tersebut dan akhirnya ketemu, di sana ada Riko, Radit dan Ari.
"Lho kalian ada di sini juga?" Tanya Lusi kepada Ari dan Radit.
"Baru nyampe juga," jawab Radit.
__ADS_1
"Gimana keadaannya?" Tanyaku kepada Riko.
"Geger otak ringan karena kepalanya terbentur stirnya, sama luka di kakinya, jawab Riko.
"Kenapa bisa dia kecelakaan?" Tanyaku lagi.
"Dia ingin pergi dan pas di depan jalan dia mau belok ada truk melintas kencang ya nabrak deh kemobilnya, pengawal papa aja ketika sampai di sana udah terjadi kecelakaannya dan langsung di bawa kesini," jelas Riko.
"Ku pikir dia bakalan bunuh diri, tapi ngomong-ngomong kapan dia sadar?" Tanyaku.
"Ngak tau, kamu mau lihat dia di dalam?" Tawar Riko.
"Iya," aku mengangguk.
"Ya udah ayo masuk, tapi jangan berisik," saran Riko.
"Ye, siapa juga yang mau berisik, emang ini cafe tempat cekikikan," ujarku manyun.
"Ya udah ayo," ajak Riko. Teman-teman yang lain ikut masuk bersama. Aku melihat Lisa kepalanya di perban dan kakinya juga, sepertinya sangat sakit.
"Udah jam berapa?" Tanyaku berbisik kepada Putri. Putri melihat ponselnya ternyata sudah menunjukan jam 03:45 dini hari. Kami melihat Lisa dari kepala hingga kekakinya, jika di pikir-pikir apa ini termasuk karma ngak ya? Karena udah ngurungin aku seharian, tapi kasian juga melihat keadaan dia seperti ini.
"Kalian pulang saja, biar aku dan Riko jagain Lisa," kataku.
"Ngak apa-apa nih," kata Lusi.
"Udah ngak apa-apa, besok kalian datang lagi," jawabku menepuk pundak Lusi.
"Okelah kalau begitu," kata Lusi menarik tangan Putri.
"Ya sudah kami juga pulang, kalo ada apa-apa kasih tau aja," ujar Radit menepuk pundak Riko.
"Iya, kalian hati-hati," pesan Riko. Mereka beranjak pergi meninggalkan kami dari ruangan tersebut.
Aku menatap Riko, Riko juga menatapku, dan kami tersenyum bersama.
"Sssttttt... ada orang sakit kamu malah ketawa," ujarku berbisik.
"Ayo duduk di luar aja nanti malah gangguin dia dengan suaramu yang kayak petir itu," ejek Riko menarik tanganku. Aku mencubit pinggangnya.
"sakit tau," ujarnya. Kami duduk di kursi di ruangan tersebut.
"Emang dia bisa kecelakaan, dia mau kemana?" Tanyaku mengangkat alis.
"Nanti kalo dia udah bangun kamu tanya detilnya," jawab Riko.
"Menyebalkan," ujarku manyun.
"Tapi ngomong-ngomong kamu ngak benci dengan Lisa, padahal dia sudah memperlakukanmu tidak baik, malah kamu khawatir dengannya?" Tanya Riko mengelus rambutku.
"Aku rasa, aku mengerti dengan posisi dia saat ini, ia sangat mencintaimu tapi ia tak bisa mendapatkanmu, tentu saja ia ingin melakukan segala cara agar mendapatkanmu dan berusaha memisahkan kita agar dia bisa bersamamu, apa lagi dia anak orang kaya, biasanya apa yang dia mau semua ia dapatkan, sesuatu yang tidak ia dapatkan tentu saja ia tak terima, apa lagi ini menyangkut masalah hati," jelasku.
"Ini yang aku suka darimu, pemaaf dan penyanyang, jika aku khilaf kamu langsung memaafkan," celetuk Riko tersenyum.
"Tergantung juga, sekali lagi kamu melakukan kesalahan yang sama seperti waktu kamu dan Lisa waktu itu, aku akan memutilasi tubuhmu," ancamku dengan membulatkan mataku.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1