Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Perampokan di cafe


__ADS_3

"Lalu kenapa kamu melindunginya?" Tanya Tante Lisa.


"Sebejat apapun dia bahkan sampai menyuruhku untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang bejat itu, dia tetaplah kakakku," Doni menudukan kepalanya.


"Saya akan menyuruh pengawal saya untuk mencari di mana keberadaan kakak kamu, apa kamu tidak keberatan?" Tanya Pak Kim.


Doni menendukan kepalanya sambil mengangguk pelan.


"Apa kamu punya foto dia di ponselmu?" Tanya Pak Kim lagi.


Doni memgambil ponsel dari kantong celananya dan memperlihatkan fotonya.


"Ini pak," kata Doni menyerahkan ponselnya.


"Kirim saja lewat WA saya, saya akan mengirimnya kepada pengawal saya," ujar pak Kim.


Doni mengirim foto kakak laki-lakinya dan setelah dapat para pengawal pak Kim mulai mencarinya di kota.


"Dan kamu pulanglah, saya akan mengabari kamu jika kakakmu sudah ketemu," kata pak Kim menyarankan.


"Baik pak terima kasih," kata Doni.


"Doni, kenapa bukan kamu saja yang menikah denganku, aku ngak suka dengan kakakmu, aku lebih pilih kamu, dan kamu bisa jadi ayah bayi ini," kata Mona memegang tangan Doni.


"Maaf Mona, ini keponakanku, anak kakakku, dialah Ayah kandung sebenarnya, aku tak ingin merahasiakan siapa ayahnya," ujar Doni melepaskan tangan Mona dan Doni pergi.


"Doni... aku mohon jangan pergi, aku menyukaimu," kata Mona yang ingin mengapai Doni namun di tahan ibunya.


"Mona, kau ingin dia bertanggung jawab yang bukan anaknya, dan kau lihat, jika dia menyukaimu dia tidak akan berpikir meninggalkanmu meski kamu mengandung anak kakaknya, ini sungguh membuatku pusing," kata ibu Mona memearahi Mona.


Mona menangis sesengukan duduk di lantai lemas, tak lama iapun pingsan karena lelah menagis.


"Mona," teriak tante Lisa, mama Riko dan ibunya saat Mona jatuh terkulai.


"Ayo Rino angkat Mona bawa kerumah sakit," kata Tante Lisa panik.


Rino segera mengangkat Mona masuk mobilnya dan di ikuti Tante Lisa dan ibu Mona.


Aku, mama Riko, Riko, Ayah dan pak Kim tinggal di tempat. Aku sangat lelah, ingin rasanya aku merebahkan tubuhku di kasur. Masalah ada-ada saja, ngak yang kecil, yang besar, kalo ngak masalah dalam keluarga ya dari luar, aku ingin hidup berjalan mulus tanpa masalah apapun, masalah itu datang kapan saja tanpa alarm, kalo bukan masalah dari kita ya dari orang lain.


"Laras, kamu pasti capekkan? Pulang dan istirahatlah," kata Mama Riko.


"Oh iya Ma, aku lelah sekali dan tugas numpuk banyak belum di kerjakan, aku pergi dulu ya Ma," pamitku.


"Iya," angguk mama Riko.


Aku langsung pulang kerumah, aku lelah mendengar pertengkaran mereka, semoga saja tak terjadi denganku. Bolak sana, bolak sini akhirnya tertidur.


xxxx

__ADS_1


"Laras, bangun, udah mau pagi ini," kata Putri mengoyang-goyangkan tubuh Laras.


"Apa? Udah pagi?" Seketika aku duduk.


"Hahaha...," mereka berdua cekikikan melihat aku kaget.


"Iya, jika sebentar lagi kamu bangun mata harinya benar-benar timbul," celetuk Lusi.


"Kalian," aku melempar bantal kearah mereka berdua karena kesal.


Mereka berdua tertawa malah melem0ar balik bantal kearahku.


"Kalian ngapain kesini?" Tanyaku setelah selesai perang bantalnya.


"Udah lama kita ngak main-main keluar, jalan yok," ajak Lusi mengayunkan tanganku.


"Jam berapa sekarang?" Tanyaku.


"Jam 19:14," jawab Putri melirik arlojinya.


"Oke, aku mandi dulu ya, kalian silahkan jelajahi pertualangan kalian yang tertuda itu," kataku sambil mengambil handuk yang tergantung.


Saat di dalam kamar mandi aku dengar suara seperti ngriek-ngriek.


Ternyata beneran, saat aku keluar dari kamar mandi, Lusi dan Putri loncat-loncat di atas kasurku. Kalo Putri ngak masalah sih, Lusinya kayak ikan buntal. Sekuat apapun kasur kalo Lusi yang naik, bakalan jebol juga.


"Kami c9uma ngetes, selembut apa kasurmu," alasan mereka.


"Ngak perlu di tes, jika begitu cara kalian mengetes," omelku lagi.


Mereka turun dengan wajah manyun.


Aku mengambil baju di lemari, mereka berdua sangat rusuh melihat bajuku banyak tersusun dan menambil satu persatu untuk di tes.


"Laras, baju ini cantik banget, aku pinjam ya," kata Lusi. Belum sempat aku mengatakan iya, ia langsung mengantikan bajunya yang herannya lagi kok ini baju pas apa karena bahannya dari karet, bisa melar.


Si Putri juga tanpa pinjam terlebih dahulu ia sudah memakai bajunya.


"Yang ini ngak cocok," katanya melempar baju kekasurku dan memilih baju yang lain, dan lebih parahnya lagi, mereka berdua mengeluarkan isi bajuku di lemari dan mengetes satu persatu di cermin besar.


"Oh Tuhan, kenapa aku punya teman kayak mereka, rusuhnya minta ampun," batinku berdiri menonton mereka yang berganti pakaian sambil saling ejek mengejek.


Setelah selesai mereka mendapatkan baju yang pas, barulah mereka selesai.


"Oke sudah selesai," ujar mereka bersamaan.


"Tu beresin bajunya dulu," perintahku.


Mereka bukannya memberes, atau mengantung kembali bajunya, melainkan di kuwel-kuwel lalu melemparnya kedalam lemari lalu menutup rapat lemarinya.

__ADS_1


Aku menepuk jidat karena ngak tau apa yang harus aku lakukan, mau di marahin mereka palingan menganggapku bercanda. Best friend yang sesat ngak ada akhlak.


"Ya udah ayo," ajakku meski dengan wajah kesal, namun apalah dayaku.


"Ayah, kami keluar dulu, minta tolong sama bibi pengurus rumah buat beresin baju Laras yang ada di lemari, minta di rapikan," kataku sambil bepamitan.


"Iya, nanti Ayah sampaikan, kalian juga hati-hati, jangan lama pulangnya," pesan ayah.


"Ya Ayah," jawabku.


"Kami pergi dulu Paman," pamit mereka berdua. Ayah mengangguk.


"Mampir di mana nih?" Tanya Putri.


"Ayo di sini aja," kata Lusi menunjuk cafe yang masih sepi pengunjungnya.


Lusi dan Putri memarkirkan motor barunya dan kami bergandengan masuk ke Cafe tersebut.


"Aku pesan Milk coffe," pesan Lusi.


"Aku Milk mocca," pesan Putri pula.


"Kalo aku jus Alvokado saja," kataku.


"Kamu apa ngak bosan, jus Vokad terus," omel Putri.


"Mau gimana itu kesukaanku," kataku.


Tak lama pada ramai berdatangan keCafe tersebut, yang tadinya sepi malah tiba-tiba terisi penuh.


"Owalah, kalo rame kayak gini ya mana serut," gerutu Lusi.


Pesanan datang. Pelayan meletakan minuman kami kemeja.


"Jangan bergerak!" teriak salah satu pria dengan wajah tertutup yang menodongkan pistolnya.


Pintu Cafe di tutup oleh teman yang satunya lagi, mereka ada berlima orang semuanya memegang senja api.


"Berjongkok," perintahnya lagi. Kami semuanya diam dan pelan-pelan berjongkok. Lusi masih sempat bejongkok membawa milk coffe-nya turun kebawah dan meminumnya.


"Hey... siapa yang suruh kamu minum," teriaknya.


Lusi langsung melepaskan gelasnya hingga tumpah. "Ngak saya ngak minum, saya ngk sempat meminumnya," kata Lusi ketakutan.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2