
"Hey kamu ingin pergi begitu saja setelah kamu merayu suami saya, dasar wanita kurang ajar, kamu kasih suami saya apa sampai dia terpesona olehmu, kamu cantik juga ngak masih cantikkan aku," omel istri pak Daren.
"Maaf Buk, saya tidak merayu Bapak," balasku menatapnya tajam.
"Iya Ma, aku hanya membelikan makanan karena aku pikir dia belum sarapan," ujar pak Daren membela diri.
"Diam kamu," sergah istrinya. Pak Daren pun diam.
"Kamu ya, mentang-mentang suamiku kaya dan kamu mengodanya demi hartanya, kamu sadar diri donk dengan keadaan kamu, dan asal kamu tahu semua harta dan perusahaan ini adalah milik saya dan kamu orang luar jangan coba-coba untuk mengambilnya," teriak istri Daren sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Aku tidak tertarik dengan hartamu," ujarku ketus.
"Jika kau tidak tertarik kenapa kamu mengoda suamiku, apa lagi jika kamu tidak menginginkan hartanya, dasar wanita pengoda. Lihatlah kamu saja kariyawan baru, bagaimana caranya kamu masuk dengan mudah jika kamu tidak mengodanya," makinya.
"Buk aku di sini hanya anak magang, bukan kariyawan," jelasku dengan melipat tangan.
"Tuh kamu saja masih anak magang! Bagaimana bisa anak magang di perlakukan dengan baik ketimbang kariyawannya, aku yakin kamu sudah mengodanya, dasar plakor," maki istri pak Daren lagi.
"Udah Ma udah, malu di lihat orang," ujar pak Daren menghalangi istrinya.
"Biar Pa, biar orang tau kalau dia plakor, biar para istri waspada dari perempuan pengoda ini, biar dia ngak laku, ngak ada yang suka sama dia," pekik istri Daren mencoba mendekatiku. Perasaan dari dulu aku yang sering di musuhi orang.
"Buk tolong jaga ucapan Anda, saya bisa menuntut Anda atas dasar pencemaran nama baik, bukan saya yang mengoda suami Ibuk, tapi suami Ibuk yang mengoda saya, dan saya datang kesini bukan atas kemauan saya, tapi ini tugas dari kampus saya untuk membantu mendesain perusahaan kalian," jelasku kesal.
"Sana tuntut, aku ngak takut suamiku punya banyak harta dan bisa mecari pengecara hebat di luar sana, jika kamu hebat sana kamu cari pengecara ayo kita adu, siapa yang akan masuk penjara," tantang istri pak Daren.
"Baiklah," jawabku santai.
"Sekarang kamu telpon mana pengecaramu, aku juga akan menelpon pengecaraku, ayo cepat Pa telpon," perintah Istrinya kepada Daren.
"Ma ngak usah, jangan memperpanjang masalah ini, udahlah dia juga akan pergi dari perusahaan kita," tahan pak Daren.
"Mana bisa di biarkan Pa, ada plakor di dalam rumah tangga kita, mana mungkin aku bisa diam," jawab istri Daren geram.
__ADS_1
"Ya sudah kalian silakan telpon pengecara kalian, aku hanya perlu menelpon seseorang," ujarku mencari nama seseorang di ponselku lalu menelponnya.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Halo," jawab Riko.
"Kamu di mana?" Tanyaku kesal.
"Di kampus," jawabnya.
"Ke sini, ada masalah," ujarku.
"Masalah apa? Kamu di mana sekarang?" Riko balik bertanya.
"Aku di perusahaan QT, di sini aku di bilang plakor," jawabku.
"Sialan dia, beraninya dia ngomong kamu plakor, share lokasinya biar aku kesana sekarang," ujar Riko marah.
"Iya," jawabkku menutup panggilan dan langsung mengirim lokasinya.
"Siapa yang kamu telpon? Pengecaramu? Simpananmu? Apa orang Tuamu untuk membereskan anak yang ngak tahu diri ini," makinya lagi.
"Terserah aku donk mau telpon siapa, yang pasti kalian lihat saja siapa yang datang," jawabku melihat keluar jendela sambil manyun.
"Udah Ma, jika dia benar-benar telpon pengecara bagaimana, bisa di tuntut balik kita," ujar Daren menasehati.
"Aku ngak peduli, kita tuntut di balik, siapa yang akan menang kita lihat nanti," ujarnya menatap tajam ke arahku. Aku memutar bola mataku, kesal juga ingin rasanya aku meninjunya tapi nanti benar-benar di kasuskan.
"Udah Ma masalahnya sampai di sini saja ya, maaf ya Dek Laras, Istri saya suka cemburuan," ujar pak Daren tersenyum ke arahku.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Dek? Kamu aja selama ini memanggil kariyawanmu dengan nama, dan dia hanya anak magang, sopan sekali kamu dengannya. Lihatlah, kamu kasih dia makan apa sampai dia sangat baik denganmu, bla bla bla bla bla bla bla blabla bla bla bla bla bla.......................," makinya dengan panjang lebar. Haish! Suaminya yang kegatelan kok aku juga yang di marahi.
Tak lama Riko datang dan menghubungiku lewat ponsel.
"Kamu di mana? Aku udah sampai nih," ujarnya. Aku melihat dari jendela, Riko yang seang keluar dari mobilnya dan melihat kiri kanan.
"Kamu lihat ke atas dekat jendela," jawabku. Ia pun melihat dan mencari-carinya. Akhirnya ia melihatku dan aku melambaikan tangan. Riko langsung menutup panggilannya dan masuk ke dalam kantor tersebut. Riko mencari ruangan tersebut dan menemukannya karena suara istri Daren sangat kencang memakiku.
"kamu ya, emang kamu pikir jadi plakor itu kamu hebat bisa merebut suami orang, kamu bangga," makinya lagi.
"Siapa yang kalian sebut plakor?" Sahut Riko masuk kedalam.Hehehehe sang pahlawan datang. Semua kariyawan melihat ke arah Riko dan mereka terpukau atas ke tampanan Riko.
"Jangan-jangan dia tunangan Laras?" Tanya Karen ternganga. Riko membuka kacamata hitamnya dan Daren beserta istrinya juga melihat ke arah Riko. Riko mendekatiku dan aku memeluknya.
"Siapa lagi dia? Simpananmu? Ternyata kamu punya kartus As lainnya," ujar istri Daren yang masih marah.
"Stop! Aku bukan kartu As, aku adalah kartu joker," sahut Riko. Astaga sempat pula di bercanda.
"Saya mendapat kabar jika kamu mengatakan tunangan saya adalah plakor, apa kalian tidak takut terjadi sesuatu dengan perusahaan kalian?" tanya Riko sambil melihat selembar kertas.
"Siapa kamu emangnya berani mengancamku? emang kamu punya apa bisa percaya diri begitu, kenapa memangnya dengan perusahaan kami? Kalian sama saja, sok hebat," ujarnya yang masih saja tajam.
"Aku adalah Riko Winata Kim, anak dari Kim yang mempunyai perusahaan terbesar di kota ini, jika tak percaya kalian bisa melihat artikel tebtangku," ujar Riko lagi.
"Astaga! Pantesan tadi aku serasa kenal dengannya ternyata benar, dia Riko anak pak Kim yang ganteng itu, sepertinya aku patah hati deh ternyata dia sudah bertunangan, huhuhu aku ngak terima," ujar Wani sedih.
"Dan tunangannya adalah orang yang baru saja kita kenal, aku belum siap menerima kenyataan ini," sambung Karen memeluk Wani. Ferry melihat aku memeluk Riko dan tahu kenyataan ia pun pergi keluar.
"Apa?? Kamu anaknya pak Kim?" Tanya istri Daren ternganga tak percaya.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1
TERIMA KASIH