
"Ya sudah, sini duduk ngobrol sama Ayah, tidak perlu membangunkan Laras," ujar Ayah.
"Hehehe..." Riko tersenyum nyegir.
"Ayah aku ngantuk pinjamkan satu kamar untukku," kata Riko pura-pura menguap.
"Terserah kamu mau pilih yang mana," ujar Ayah mengangkat bahunya.
"Kamar Laras di mana Yah?" Tanya Riko lagi sambil celingak celinguk.
"Ngapain kamu nanya lagi, tidur sana," timpal Ayah.
"Hehehe... iya Ayah," kata Riko mengangguk kepala.
"Di mana ya kamar Laras, apa mengetuk setiap kamarnya?" Tanyanya mencoba mengetuk salah satu pintu kamar.
"Hey... kamu ngapain?" Tanya Ayah yang tiba-tiba nongol dari pintu.
"Eh ngak Ayah, aku mau masuk kamar, aku mau tidur dulu Ayah, selamat malam Ayah," ujar Riko cengengesan.
"Ya selamat malam," jawab Ayah dan langsung pergi.
"Huh, untung saja tidak ketauan," Kata Riko mengelus dadanya yang mau copot.
"Ya sudahlah kamar ini saja," ujar Riko membuka pintu dan...
Cklek.
Pintu terbuka.
Riko langsung masuk dan menutu pintunya kembali, ia menuju tempat tidurnya, ia bingung kenapa tempat tidurnya kusut, apa tidak di bersihkan oleh pelayan?
Riko menghempaskan dirinya di atas kasur dan...
"Ekkk..," terdengar suara mendengik.
"Bunyi apa itu?" Tanya Riko yang langsung duduk.
Aku membuka selimutku karena lemas.
"Huh... huh...huh... huh...," nafasku terengah-engah.
"Eh, Laras?" Lirihnya bingung.
"Emang ngak lihat orang lagi tidur maen tindih aja," bantakku.
"Beneran ngak lihat, soalnya ngak nampak kalo kamu tidur di sini, tubuhmu sejajar dengan kasur saking kurusnya," ujar Riko.
"Kamu...."
Buuk.
Tinjuku mengenai pipinya.
"Aduh, kasar banget sih," ujar Riko memegang pipinya.
"Sana tidur di kamar yang lain, ngapai di dalam kamarku," kataku menatap tajam mata Riko.
"Anak, Ayah sama garangnya kayak harimau," omelnya.
__ADS_1
"Apa katamu?" Teriakku marah dan menangkap kepalanya dan kuhimpit dengan bantal.
"Ampun Laras, udah apa kamu tega melihat suamimu mati begitu saja, nanti kamu jadi janda," katanya memelas dan berusaha mengangkat bantalnya.
"Bodo amat, aku akan cari yang lain, Doni masih menungguku untuk menjadi pacarnya," kataku memperkuat himpitannya.
"Belum tentu dia setia sepertiku."
"Emang kamu setia? Kamu itu playboy, cewek ada di mana-mana."
"Laras aku hanya mencintaimu seorang, meteka aja yang keganjenan mendekatiku," ujarnya membela diri.
Karena kasihan, aku melepaskannya. Malah tiba-tiba Riko memeluku dengan erat.
"Riko, lepaskan," teriakku.
"Emang kamu pikir aku bodoh, jika aku lepaskan, kamu pasti akan membunuhmu lagi," ujarnya.
"Benar, kenapa aku tidak mematikan kamu saja tadi biar kamu ngak usah hidup lagi," ujarku berusaha melepaskan pelukannya.
"Tu kan, kamu bahkan ingin membunuh calon suamimu dan terang-terangan ingin berselingkuh."
"Lepaskan Riko, kau membuatku sesak nafas," teriakku.
"Biarlah kamu mati di tanganku, dari pada kamu di ambil orang," katanya membaca puisi.
"Brengsek lu Riko, aku beneran mati di tanganmu kalau menambah eratan tanganmu," pekikku.
Beransur-ansur ia melonggarkan pelukannya, berjaga-jaga jika aku akan menghajarnya lagi.
"Udah sana, ngapain kamu di sini lagi," kataku menendang pantatnya.
"Udah tidur ini udah hampir pagi, biarkan aku istirahat sejenak, hari ini aku capek banget, kamu juga tidur ya, selamat malam calon istriku," katanya mencium keningku.
Buuk.
Satu tinjuan lagi melayang di keningnya.
****
"Cuit... cuit..." bunyi burung bercuitan. Pagi membangunkan segala makluk yang bernyawa, kecuali makhluk yang masih memelukku tidur tadi malam, udah kutinju beberapa kali juga dia terima saja, sepertinya dia sangat senang di tinju.
"Bangun, udah pagi ini, nanti Ayah marah, jika ketauan habislah nanti kita," kataku mengoyang-goyangkan tubuhnya.
"Biarlah, paling kita di nikahkan nanti," katanya memeluk perutku.
"Ayah... Riko ada sini," teriakku. Ia langsung bangun.
"Sssstttt, kamu mau melihatku di hajar Ayah?" ujarnya menutup mulutku.
"Udah sana bangun," kataku menjatuhkan tubuhnya kebawah.
Ia bangun dan membuka pintu kamar.
Clek.
pintu terbuka.
Dan...
__ADS_1
"Eh Ayah," sapanya kaget.
"Kamu kenapa ada di kamar ini bersama Laras," ujar Ayah mengintrogasi.
"Eh... anu... Ayah... Laras yang masuk kekamarku tadi malam," katanya mencari alasan.
"Laras tidur, kamu datang aja dia tidak tahu, bagaimana dia bisa masuk kekamarmu?" Tanya Ayah menatap mata Riko. Aku tersenyum melihat tingkah Riko gelagapan.
"Oh iya, dia itu tidurnya sambil jalan, eh tiba-tiba dia masuk deh," kata Riko tersenyum nyengir.
"Kamu pikir saya percaya ucapan kamu," kata Ayah menatap tajam.
"Eh Ayah, aku di panggil Papa, aku pergi dulu ya," ujar Riko yang langsung lari.
Dengan sigap Ayah menangkap kerah baju Riko. "Mau kemana kamu?" Tanya Ayah. Ayah menariknya.
Ayah langsung membawanya keruang tamu yang sudah ada Papanya, Mamanya, Tante Lisa Rino dan Mona yang menangis.
"Kamu lihat Kim kelakuan anak kamu ini, berani-beraninya dia tidur sekamar dengan anakku," ujar Ayah dengan geram.
"Riko, bukannya Papa suruh kamu pulang tadi malam, trus kenapa kamu nongol di sini?" Tanya pak Kim mengintrogasi.
"Papa, tadi malam sebenarnya aku ingin tidur bersebelahan dengan kamar Laras, pas di buka pintu, eh... Laras tidur, jadi aku cuma numpang tidur aja sebentar," kata Riko membela diri.
"Bohong itu, dia udah tau kamarku malah di suruh pergi dia ngak mau pergi, bahkan dia mengikatku di tempat tidur," ujarku yang tiba-tiba datang ikut berkumpul.
"Dasar anak nakal, lari kemana kamu," teriak pak Kim yang mengejar Riko yang sudah lari duluan.
"Awas ya, jika dapat nanti giliran kamu yang kuikat di ruang bawah tanah," teriak pak Kim karena tidak dapat mengejarnya. Riko lari menuju mobilnya dan melaju pulang.
"Ehemm... ini Mona kenapa menagis?" Tanyaku memulai pembicaraan.
"Ini... biarkanlah masalah dia sendiri," ujar Ibu Rino.
"Oh... baiklah," jawabku tak enak hati.
"Ada apa ya kita berkumpul?" Tanyaku lagi.
"Merencanakan pernikahan," jawab Ibu Rino. Rino hanya terdiam dengan wajah lesu.
"Tapi... bukannya mau tes DNA dulu?" Tanyaku penasaran.
"Mau bagai mana lagi Laras, undangannya sudah di sebar, karena kemaren kita tak tahu jika Mona sudah hamil," jawab Ibu Rino menatap tajam Mona.
"Oh begitu ya," aku hanya mengangguk-angguk saja.
"Jadi bagaimana?" Tanya pak Kim.
"Acaranya tak perlu mewah yang seperti kita harapkan jika suatu saat nanti juga akan berpisah," ujar Ibu Rino tajam.
"Saya sih terserah," kata Ibu Riko pasrah.
"Kita pesan yang penting-penting saja, kira-kira apa yang kita butuhkan," kata Ibu Riko mengetuai.
"Yang pastinya, nikahnya ya tetap di rumah, habis nikah acara sedikit terus selesai," ujar Ibu Rino. "Sayang sekali Laras, jika tidak kita bisa membuat resepsi pernikahan mewah untukmu, Riko dan Rino," sambung Ibu Rino lagi.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1
TERIMA KASIH