
Aku masih ngambek melirik ke arah Riko.
"Ayo, kita pergi sekarang," ajak Riko membawaku pergi.
Tinggallah cewek itu sendiri sambil memegang kotak hadiahnya.
Melihat kepergianku dan Riko, cewek itu ngamuk, membanting lalu menginjak-injak hadiahnya dan menyepaknya hingga terbanting jauh.
Lusi dan Putri melihat kejadian tadi diam-diam lalu mengambil hadiah tersebut.
"Ssstt... jangan sampai ketahuan," bisik Lusi sambil menatap sekitarnya.
"Cepat mana tasmu," bisik Putri lalu menyembunyikan kedalam tas Lusi.
Lalu mereka pergi pura-pura tidak terjadi apa-apa dan lari ke taoilet.
"Coba buka hadiahnya apa?" Tanya Lusi penasaran.
Putri mengambil dari tas Lusi lalu membukanya.
"Ya ampunnnn... Riko itu laki-laki kok dia ngasihnya boneka, udah gitu warna pink lagi," kata Putri mengeleng kepala.
"Kamu mau bawa aku kemana?" Tanyaku ketika Riko membawaku keparkiran.
"Keshowroom mobil," jawabnya.
"Ngak ah, kitakan mau kuliah," tolakku.
"Oke, oke pulang nanti," jawabnya nyerah.
xxx
Setelah kuliah usai.
Tiba-tiba Lusi dan Putri di hadang oleh cewek tadi.
"Kembalikan hadiahku," kata cewek itu mengulurkan tangannnya.
"Hadiah? Hadiah yang mana?" Tanya Lusi pura-pura tidak tahu. Mereka ingat bahwa cewek ini tadi yang sudah membuang hadiahnya, tapi kenapa di minta lagi?
"Hadiah yang yang kubuang tadi," tukasnya.
"Mana ada sama kami, kamu salah orang kali," jawab Putri ngeles.
"Jangan bohong, tadi aku melihat kalian diam-diam ngambil hadiah yang kubuang tadi, mana? Kembalikan sekarang," katanya memaksa.
"Yeeee... kalo udah di buang untuk apa di ambil lagi, dasar munafik, nih makan nih boneka jelek," ejek Lusi mengembalikan kembali bonekanya.
"Kalo jelek ngapain di ambil," katanya dengan tatapan tajam.
"Siapa juga yang mau ngambil, kami justru mau mesiumkan itu boneka ke mesium hadiah yang tak di terima sebagai kenang-kenangan," jawab Lusi ngasal.
"Mana ada mesium seperti di kota ini," jawab cewek itu mencibir.
__ADS_1
"Udah tau Riko punya pasangan, masih aja di kejar-kejar, mau jadi plakor?" Ujar Putri menusuk hati cewek itu.
"Bukan urusan kalian," kata cewek itu lalu pergi meninggalkan Lusi dan Putri.
"Me-ma-lu-kan," kata Lusi mencibir.
Di perjalanan pulang.
"Kemana nih?" Tanyaku heran.
"Keshowroom mobil," jawabnya enteng.
"Ngak ah, ngak usah," kataku menolak.
"Ya udah, gimana kalau kita cari motor, biar ngak nebeng terus sama mereka, kan aku jadi malu kalo kamu nebeng sama mereka, seperti aku ngak sanggup beli motor buat kamu, kamu tinggal pilih aja, habis pulang ini aku juga mau nelpon anak buah Papa buat nyariin tempat strategis untuk jualan bakso Ayah, biar jualan Ayah laris manis," kata Riko bersemangat.
"Terserah kamu, oh iya, jam tangan yang kukasih kekamu waktu itu mana, kenapa ngak di pake?" Tanyaku melihat tangannya yang masih memakai jam tangan miliknya.
"Ehem... itu Sayang, warnanya terlalu unik, jadi aku tak rela memakainya, takut rusak, itu adalah pemberian dari kesayanganku," katanya memegang rambutku.
"Alasan, bilang saja kamu malu memakainya, kalo kayak gitu untuk apa kubelikan, kembaliin sini," kataku mengulur tanganku.
"Itu hadiah untukku, masa kamu mau ambil lagi," ujarnya.
"Ya sudah," jawabku singkat.
Riko membawaku keshowroom motor, dan ia membiarkan aku memilih sendiri.
"Motor yang ini Mbak dan saya transfer ya," kata Riko.
"Baik Tuan," jawab pegawai tersebut.
Riko menyelesaikan pembayarnya di kasir.
"Ya sudah aku pulang dulu," kataku langsung mengstater motor matic itu.
"Hati-hati Sayang, kamu jangan balapan ya, aku di belakang mengikutimu," pesan Riko.
"Iya, iya," jawabku dan mengaskan motornya.
Di perjalanan pulang hampir saja aku jatuh karena di serempet orang, untungnya aku langsung ngerem motornya dan Riko memberhentikan mobilnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Riko khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja," jawabku masih dalam keadaan was-was.
"Kamu hati-hati, kalo ngak masuk mobil aja, motor ini suruh jemput aja sama Radit dan Ari," kata Riko ketakutan jika terjadi apa-apa denganku.
"Udah ngak apa-apa, ayo kita lanjut lagi," ajakku.
"Beneran nih?" Tanyanya lagi.
"Iya, ngak apa-apa," jawabku menyakinnya.
__ADS_1
"Ya udah ayo lanjut," katanya kembali kemobil.
Baru saja beberapa meter berjalan.
Ckiiiiittt...
Braaaakkkk...
Suara tabrakan terdengar.
Ternyata motor yang menyerempetku tadi di lindas truk besar. Dan motornya terpelanting mendarat pas tepat di depannku hanya berjarak 1 meter. Aku langsung memberhentikan motorku, ada sesuatu yang terbang kearahku jatuh di samping kakiku dan aku lihat adalah daging manusia, karena kaget aku langsung menjatuhkan motorku karena ngeri. Darah pengemudi motor itu bergenang di jalanan.
Sebagian tubuhnya yang lain hancur terseret truk tersebut, kepalanya pecah dan otaknya keluar berceceran sana sini. Motornya sudah tak berbentuk lagi dan orang di tabrak tadi dagingnya seperti tercincang hancur.
Pemandangan sangat mengerikan di depan mataku. Aku berbalik kearah Riko dan langsung memeluknya erat, badanku gemeteran hebat dan memejamkan mataku. Ingin rasanya aku menjerit tapi suara ini tak keluar saking kuatnya aku ketakutan. Aku menengelamkan kepalaku ketubuh Riko karena ini sangat mengerikan. Riko membalas pelukanku.
"Riko," panggilku dengan suara yang bergetar.
"Udah, ngak apa-apa, semua baik-baik saja, kamu tak perlu takut, aku ada di sini, kamu akan baik-baik saja," kata Riko menenangkanku.
Semua pengendara berhenti dan melihat kejadian tersebut berkumpul ramai-ramai.
"Ayo masuk mobil," kata Riko menuntunku pelan-pelan. Aku mengikutinya dengan memeluk tubuhku sendiri.
Riko menghidupkan mobilnya dan membawaku pergi. Karena macet, Riko mencari jalan lainnya. Masalah motor Riko menelpon Radit da Ari minta tolong jemputkan. Aku mengengam tanganku erat-erat, ngilu jika di ingat kejadian tadi.
"Udah, ngak apa-apa, kita pulang dan kamu beristirahat ya," berusaha menenangku lagi.
Aku hanya bisa mengangguk.
Riko membawaku kerumahnya dan kemudian menelpon ayah.
"Halo Ayah, maaf ya Ayah, mungkin hari ini belum bisa mencari tempat untuk jualan bakso Ayah, karena tadi ada sedikit kejadian yang bikin Laras ketakutan, aku izin sama Ayah biarkan Laras bersamaku hari ini, aku akan menjaga Laras," jelas Riko tanpa basa basi.
"Apa yang terjadi dengan Laras?" Tanya Ayah khawatir.
Riko pun menjelaskan kejadian tadi dan membuat ayah paham.
"Ayah akan kesana melihat Laras," ujar ayah.
"Ya Ayah, minta antar sama Rino ya," kata Riko menutup telponnya.
Riko mengendongku dari dalam mobil dan masuk kerumah.
"Lho apa yang terjadi dengan neng Laras Tuan muda?" Tanya Bibi keheranan.
"Tolong ambilkan air putih Bi," kata Riko kepada bibi.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA
TERIMA KASIH
__ADS_1