Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Naik Roller coaster


__ADS_3

"Oke, baiklah" kataku menutup panggilan.


Aku pun tidur, karena esok harus berangkat kekampus yang baru, semoga tidak ada kesalahan.


***


Tintin... tintin...


Alarm berbunyi memberi isyarat untuk aku segera bangun. Aku bangun dengan semangat.


Fighting.


Setelah bersiap-siap aku berpamitan dengan Ayah.


"Ayah aku berangkat dulu" kataku sambil mencium tangan Ayah.


"Iya hati-hati, belajar yang giat" jawab Ayah mengelus kepalaku.


"Ya Ayah" ucapku dan melangkahkan kaki beranjak pergi.


Aku memesan Ojol saja, murah dan tidak mengakibatkan macet.


"Pak ke kampus Kirin ya" ujarku sambil naik motor tersebut.


"Siap neng" jawab pak Ojol.


Pak Ojol melajukan motornya. 25 menit kemudian sampailah aku di kampus yang baru.


"Ini ongkosnya pak" kataku menyerahkan beberapa lembar uang.


"Terima kasih neng" jawab pak Ojol setelah menerima uang tersebut.


Aku masuk ke kampus, karena kampus baru jadi aku belum punya teman.



Aku berjalan menyusuri koridor kampus dan menuju ruang dosen.


Tok... tok...


"Ya silakan masuk" jawab buk Rahim.


"Itu buk ruangannya di mana ya?" tanyaku ragu-ragu.


"Oh kamu jurusan disainer ya, ikut saya saja, saya dosen yang mengajarkan disainer" kata buk Rahim membuatku lega.


"Syukurlah, baik buk" jawabku mengikuti buk Rahim.


Sesampainya di ruangan tersebut, buk Rahim memperkenalkanku kepada teman-teman yang baru.


Ada sebagian mereka menerimaku dengan baik, ada juga yang tidak suka dan ada juga ngak peduli.


Buk Rika mempersilakan ku duduk di kursi paling belakang. Aku mengangguk tanda setuju.



"Hai, namaku Rino salam kenal" sapa lelaki itu mengulurkan tangannya karena aku duduk di belakang kursinya.


"Hai juga, salam kenal" jawabku menjabat tangannya.


Pelajaran berlangsung, aku mengikuti setiap arahan dari dosen tersebut.


Tak terasa pelajaran selesai, mahasiswa berhamburan keluar. Aku melangkahkan kaki keluar dari kampus dan memesan Ojol.


"Laras mau kuantar?" tanya Rino.


"Ngak usah aku udah pesan Ojol" kataku menolak dengan sopan.


"Oke, sampai ketemu besok" kata Rino melambaikan tangannya.


Aku juga ikut melambaikan tanganku.

__ADS_1


"Riko... Rino... kenapa nama mereka dekat sekali, apa cuma kebetulan" pikirku sambil mengangkat bahu tidak peduli.


"Kemana neng?" tanya pak Ojol itu, setelah sampai di hadapanku yang kupesan lewat aplikasi.


"Jalan suka ramai pak" kataku memnyebut alamatku.


"Baiklah" kata pak Ojol mengangguk kepala.


Sesampai di rumah, aku sudah melihat sahabatku Laras dan Putri menongkrong di rumahku yang kosong.


"Hey... sudah lama?" tanyaku sambil tersenyum, senang melihat kedatangan mereka.


"Ya sekitar 35 menitanlah" kata Putri melihat arlojinya.


"kenapa?" tanyaku memasang wajah lucu.


"Ngak lucu tau, ayo pergi makan-makan" ajak Lusi.


"cepat amat, katanya malam nanti?" tanyaku dengan mengangkat alis.


"Udah, sekarang aja, aku ngak sabar mau pesta" ajak Lusi menarik tanganku.


"Iya bentar ganti baju dulu" kataku sambil menarik tanganku.


"Ngak usah gini aja, udah cantik kok" kata Lusi lagi.


"Bukan masalah cantiknya, tapi bau tau" ujarku mencium bajuku sendiri.


"Bodo amat, ayo sekarang" kata Lusi menstaterkan motornya.


"Ya udah deh" jawabku pasrah.


Kami berangkat menuju sebuah warung kaki lima, selain murah, enak dan juga bisa nongkrong hingga pagi esoknya.



"Makan apa nih?" tanya Lusi.


"Oke gaes, aku hari ini bawa uang 500 ribu, mari kita berpesta pora" teriak Lusi tanpa malu. Teman tergokil.


"Bang, sate kulit 50 tusuk sama es teh 3 gelas" kata Lusi memesan makanan.


"Baik, tunggu sebentar ya" jawab Abang-abang sate tersebut.


Kami bercanda ria, menjelang satenya siap. Sesekali Lusi mengoda cowok yang sedang lewat untuk menghibur diri.


"Ini satenya" kata Abang-abang itu.


"Terima kasih Bang" kata Lusi bersemangat.


"Kamu tau ngak Laras?" tanya Putri serius.


"Apaan?" aku balik bertanya sambil mengigit satenya.


"Riko menunggumu di kampus" sambung Putri lagi.


Aku berhenti makan karena mendengar nama Riko.


"Iya, kemaren dia sempat tanya kemana kamu pergi, dengan terpaksa deh aku jawb jujur" ujar Lusi, berbicara dengan mengunyah satenya.


"Kamu bilang apa?" tanyaku penasaran.


"Dia pindah kampus gara-gara Ayahmu mengeluarakannya dari kampus ini" jelas Lusi lagi.


"Astaga, kok kamu kasih tau sih Ferguso" kataku dengan menepuk jidatku, (ngak mungkinkanku tepuk jidatnya)


"Lho kenapa?" tanyanya tanpa bersalah.


"Jika dia tau Laras di keluarkan dari oleh Ayahnya, dia pasti akan marah" jelas Putri sambil menimpuk kepala Lusi.


"Kan kalian juga bukan pacaran, kenapa kayaknya dia seperti kehilangan cintanya" tanya Lusi tak mengerti.

__ADS_1


"Itu karena Riko menyukai Laras" sambung Putri lagi.


"Apa... pangeranku menyukai sahabatku?" tanya Lusi dengan suara kencang.


"Terus kamu kasih tau juga aku kuliah dimana?" tanyaku lagi tanpa peduli dengan terkejutnya.


"Iya, aku bilang di Univeraitas Kirin" jawabnya tanpa bersalah lagi. Sahabatku yang satu ini emang kocak, dan yang lebih parah lagi dia ngak bisa jaga rahasia. Salahku juga dari awal ngak ngasih tau dia buat diam aja.


"Kamu gimana sih, kenapa aja ngak sekalian kamu kasih tau kalo kamu beraknya jongkok" ujar Putri. Yang ini sahabat pengertian.


"Ngak ah malu tau" jawab Lusi dengan wajah cute.


"Ya udah deh lanjut aja makanannya" kataku mengambil tusuk satenya.


"Gimana kampus yang baru?" tanya Putri kepadaku.


"Lumayan juga, tadi ada kenalan sama cowok namanya Rino" ceritaku.


"Wow... baru pindah udah dapat cowok baru nih" kata Putri mengodaku.


"Udah deh makan aja" kataku menyenggol Putri.


Setelah selesai makan , tanpa sengaja kami bertemu pak Kim. Aku menundukkan kepala tidak ingin melihat wajahnya.


Tanpa sengaja pak Kim melihat ke arahku. Ia mendekatiku.


"Kamu, jangan pernah dekati anak saya lagi, jika itu terjadi saya tidak segan-segan mengblack list namamu dari kampus" ujarnya mengancamku.


Aku diam tak bersuara menundukan kepala, ingin rasanya aku menangis namun kutahan sebisaku, jangan sampai menangis di tempat orang yang ramai.


Pak Kim setelah mengatakan itu ia langsung pergi dengan beberapa pengawalnya.


"Ayo pulang" ajakku dengan mata yang sudah bekaca-kaca.


"Ayo cepat antar Laras" sambung Putri kepada Lusi.


Kami bergegas pergi dari tempat itu, karena tak tahan lagi aku menangis sambil memeluk Lusi. Lusi memelankan motornyadia biarkannya aku menangis di belakangnya, meskipun dia sahabat yang kocak, dia juga pengertian.


Lusi dan Putri memberi kode untuk menuju suatu tempat untuk menenangkanku.


Sampailah pada pilihan mereka yaitu taman hiburan







Mereka ingin aku melupakan kejadian tadi. Mereka menarik tanganku untuk menaiki Roller coaster.


Dan... aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...


Kami menjerit karena ketakutan, ternyata benar naik Roller coaster adalah pilihan terbaik.


setelah turun.


"Aduh, kepalaku puyeng, aku mau muntah dulu" kata Lusi.


"Sana" usirku dengan mata remang-remang


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN LIKE YA



__ADS_1


__ADS_2