Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Di bawa kemarkas perampok


__ADS_3

Temannya memberi kode menyuruh kekasir.


"Mana uangnya? Masukan dalam kantong plastik semuanya," perintah kawanan perampok itu.


"Ba... baik," kata penjaga kasir memasukan uang dengan tangan gemeteran kedalam kantong plastik warna hitam.


"Jangan ada yang menelpon polisi, jika di hubungi, mati di tempat," ancamnya membuat semua yang berada di caffe merinding ngeri.


Tak berapa lama polisi datang, ternyata manejer diam-diam menelpon polisi dengan kode dan polisi itu mengerti.


"Siapa yang telah menelpon polisi, atau kalian ingin mati semua?" Tanyanya denga murka. Polisi mengelilingin cafe tersebut agar pelaku tak bisa keluar.


"Perhatian, kalian sudah terkepung, harap menyerahkan diri, sekali kalian sudah terkepung harap menyerahkan diri sekarang," kata polisi lewat pengeras suara.


"Bangsat! Kita di kepung, ayo bawa beberapa orang untuk di sandera," kata salah satu dari mereka.


Aku terkejut pria itu menarik tanganku lalu melingkarkan tangannya di leherku dan menodongkan pistol di kepala. Aku sangat gemeteran setengah mati, jika aku mati aku sudah mengiklaskan Riko menikah dengan orang lain.


Lusi dan Putri menjerit ketika pistol di todong di kepalaku.


"Diam kalian, diam kalian," bentak pria itu kepada mereka berdua dan menodong pistol kearah mereka.


Ternyata mereka membawa 1 orang lainnya sebagai sandera yaitu seorang perempuan memakai baju oren dan jins panjang. Mereka juga melakukan hal yang sama dengan pria yang menyenderaku.


"Ayo jalan," perintah lria itu kepadaku. Dengan terpaksa aku melangkahkan kaki keluar cafe.


Aku mendengar Lusi dan Putri menangis menjerit menyebut namaku. "Selamat tinggal kawan," batinku.


"Lepaskan sandera, atau kami tidak akan berbaik hati," perintah kepala polisi itu juga menodong pistolnya.


"Jangan mendekat atau mereka mati," balas pria yang menyenderaku.


"Letakkan pistol kalian kebawah dan lepaskan kami atau mereka akan kami bunuh," perintah pria yang menyendera perempuan yang satu lagi.


Dengan terpaksa polisi itu menurunkan pistolnya kebawah. Dan para perampik itu membawa kami kemobil yang sudah menjemput mereka dan membawa kami masuk kedalamnya.


"Astaga, polisi macam apa itu, seharusnya mereka menyiapakan penembak jitu di atas gedung dan mengulur waktu agar penembak jitunya menepatkan sasarannya lalu menembaknya, mereka bahkan menyerah kami begitu saja kepada perampom ini," batinku.


Aku menutup mata. "Oh Tuhan, aku berharap ada pahlawan super yang datang menyelamatkanku dan membawaku pergi, lalu menghajar para penjahat-penjahat ini hingga babak belur seperti di film-film itu," doaku.

__ADS_1


Setelah membuka mata, kembali pada kenyataan hidup, aku masih berada di mobil para perampok yang mengawasiku dan perempuan itu, aku bergelik ngeri dengan tatapan mereka, entah kemana kami akan di bawanya, setelah sampai di sana kami entah hidup atau mati.


Aku melihat perempuan itu sangat ketakutan. Ingin sekali aku mengobrol dengannya untuk menghilangkan rasa takut ini. Aku melirik para perampok itu, ketika mereka tidak melihatnya, aku menyenggol kaki perempuan itu lalu tersenyum. Ia membalas senyumku.


Aku meletakan tanganku di dada lalu mengelusnya ngodekan bahwa untuk tetap tenang. Perempuan itu mengangguk pelan. Aku melihat dia menarik nafas dan membuangnya, kini badannya tidak gemetaran kuat seperti tadi dan mulai agak tenang.


Mereka memberhentikan mobilnya dan kemudian membawa kami pindah kemobil lain. Seharusnya mereka melepaskan kami karena polisi tidak mengikutinya lagi, sebenarnya mereka merampok atau menculik orang sih.


Dan akhirnya sampai di markas mereka, ini hanya rumah bobrok. Mereka lalu membawa kami turuk keruangan bawah tanah, ternya rumah bobtok itu hanya kiasannya saja sebagai pengecoh.


Kami di dudukkan di dilantai dan dan di ikat kedua tangan kami kebelakang dan juga mengikat kedua kaki. Untungnya mereka tidak menutup mulut kami.


2 orang menjaga kami, sisanya entah kemana.


"Nama kamu siapa?" Tanyaku pelan.


"Aku Karisa, kamu?" jawabnya lalu balik bertanya.


"Laras," jawabku.


"Kamu tinggal di mana?" Tanyaku lagi.


Aku mengangguk senang.


"Mampir? Kalian saja belum tentu hidup lagi, apa kalian akan mampir di kuburan kalian masing-masing?" Ujarnya meledek ketika mendengar ucapan kami.


"Biarkan kami bersenang sebelum kami mati," balasku.


"Tapi jangan berisik," katanya.


"Kamu tinggal di mana," kini Karisa balik bertanya.


"Dulunya jalan suka ramai, sekarang di jalan mahoni," jawabku pelan.


"Jalan mahoni? Bukannya di situ tempat tinggalnya keluarga Riko dan Rino, kamu siapa mereka?" Tanyanya kaget tapi dengan suara pelan juga.


"Kamu kenal mereka?" Aku balik bertanya.


"Aku kenal Rino, karena kami sekampus, dan dia juga pernah membawaku jalan sekali saat perkenalan pertama kami, dia sangat baik," katanya menceritakan kisahnya.

__ADS_1


"Anak itu, sudah berapa banyak Rino membawa cewek jalan-jalan?" Batinku.


"Terus kamu kenal Riko dari mana?" Tanyaku lagi.


"Rino pernah memperlihatkan fotonya dan aku juga pernah melihat Riko di tivi, dia sangat tampan dan pemberani, dia emang idaman semua kaum wanita, baik muda maupun tua, orang mendapatkannya pasti sangat beruntung," ujar sambil tersenyum. Kelihatannya dia sangat mengagumi Riko.


Ya, siapa mendapatkan Riko emang beruntung, dia bukan hanya kaya dengan asetnya yang berjejer di kota dia tampan dan juga penyayang, apa aku seberuntung itu?


"Oh ya, kamu bisa tinggal di sana bagaimana ceritanya dan apa ada hubungan keluarga?" Tanya Karisa penasaran.


"Hm... ayahku dan papanya Riko sahabatan sejak aku berumur beberapa bulan dan jarak antara aku dan Riko adalah 4 bulan, dan sejak saat itu kami sudah di jodohkan, tapi sayangnya mereka berdua twlah kehilangan kontak selama kurang lebih 20 tahun, akhirnya mereka di pertemukan kembali, kami di duruh pindah ke rumah yang sudah di siapkan dan mengelar pertunangan aku dan Riko," jelasku panjang lebar.


"Apa? Kamu tunangan Riko? Oh My God, tak menyangka kita malah di pertemukan seperti ini, Riko pasti dangat beruntung mendapatkanmu," pujinya. Aku tersenyum mendengar ucapannya.


"Kenapa kamu tidak meminta tolong dengan papa Riko?" Tanyanya sambil berbisik sangat pelan.


"Hey... apa yang kalian bisikan?" Tanya pria itu tidak mendengar ucapan kami.


"Ini rahasia sesama perempuan, mana boleh laki-laki tau," balas Karisa.


Aku mendekatkan mulutku di telinganya. "Tenang saja, temanku akan segera memberi tahu kepada Riko, mereka tidak akan tinggal diam," ujarku. Karisa mengangguk percaya.


"Ayo bicara yang lain saja," katanya.


"Kamu jurusan apa?" Tanyaku mengalih pembicaraan yang tadi.


"Aku jurusan menejemen, kamu?"


"Desainer, apa kamu punya teman yang lain di sana?"


"Tadi aku main sama teman aku bernama Peni, kami satu jurusan, kalo kamu?"


"Sama tadi aku juga bersama teman aku Lusi dan Putri kami juga satu jurusan," jawabku.


"Udah jam berapa ini, aku ngantuk banget," katanya sambil menguap.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2