
"Apa! Jadi selama ini untuk apa kita bersama, untuk apa aku mencintaimu, kupikir kau juga mencintaiku, selama ini kau anggap apa diriku?" pekik Mona.
"Maaf Mona, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adikku saja, kau sendiri tau, jika aku sering bermain bersama teman perempuanku" ucap Riko menjelaskan.
"Aku selama ini diam saja melihat kamu bersama perempuan lain, kubiarkan kau bermain-main, karena aku percaya kau akan kembali kepadaku" tangis Mona mulai meledak.
"Mona, kau dan yang lainnya sama saja bagiku, sebagai teman dan sahabat, ngak lebih, mencintai seseorang bukan hanya untuk bersama berbahagia, tapi yang kucari adalah susah bersama, dan aku menemukannya, sayangnya dia, aku terlambat mengenalnya, setelah aku mengenalnya ternyata sudah ada yang mencintainya" jelas Rino panjang lebar.
"Siapa dia? Apa dia begitu hebat? Apa dia lebih cantik dariku? Apa dia lebih kaya? Apa dia sungguh sangat istimewa?" Tanya Mona bertubi-tubi dan menangis kencang.
"Mona lebih baik kamu pulang, jangan buat keributan di tempat keramaian seperti ini" kata Rino meninggalkan Mona yang masih menangis sesengukan, Rino menghampirku dan mengengam tanganku agar kumengikutinya.
"Oh, jadi karena perempuan ini kamu mengabaikan aku?" Tanya Mona yang hendak menyerangku, Rino dengan cepat menghadangnya.
"Cukup Mona" bentak Rino, karena perilaku Mona sangat keterlaluan.
"Apa kamu ingin membelanya? Membela perempuan asing dari pada aku yang sudah lama mengenalmu" teriaknya lagi.
Aku menghempas tangan Rino. "Sepertinya dari awal aku sudah tau, tak seharusnya aku bergaul dengan keluarga Kim, aku sungguh bodoh" kataku sinis dan meninggalkan mereka.
"Laras, tunggu, aku benar-benar minta maaf atas kejadian ini, aku mohon Laras" kata Rino mengejarku dan mencoba memegang tanganku.
"Cukup Rino, apa belum kurang keluargamu, kakak sepupumu menyakitiku, dan sekarang timbul masalah yang baru lagi, apa ini caramu menghiburku? kalau kau banyak banyak perempuan yang tinggal bersamamu untuk apa kau menyeretku juga? untuk koleksimu?" ujarku dengan tangan yang gemetar menahan emosi.
"Laras, ini bukan yang seperti yang kau katakan"
"Rino kau berbicara lembut padanya, dan kau membentakku tadi" teriak Mona.
"Ya sudahlah, kau urus saja perempuan-perempuanmu, aku tak mau ikut campur" ujarku meninggalkannya.
Aku pergi dengan rasa yang sangat sakit, apa ini yang di sebut "Pelangi sebelum badai".
Air mataku hampir jatuh, namun kutahan, aku segera memesan ojek online, karena lebih murah.
Ketika ojek online yang kupesan sampai, tiba-tiba Rino menghampiriku.
"Laras biarku antar" ujarnya.
"Tidak perlu" kataku ingin bersiap-siap untuk pergi.
__ADS_1
"Laras, aku akan cepat mengantarmu kerumah" katanya lagi.
"Rino, jangan membuatku membencimu" kataku menatap wajahnya dengan nada datar.
"Baiklah" jawabnya melemah.
Aku langsung naik motor dan menyuruh pak ojolnya melaju cepat. Namun Rino mengikutiku dari belakang. Untuk apa dia mengikutiku?
Ketika hampir sampai di rumah, aku berpapasan dengan sebuah mobil, aku seperti mengenalinya, karena kami sama-sama saling melaju, jadi aku tak tau persis dia siapa.
Sesampai di rumah aku melihat kebelakang, sepertinya Rino tidak mengikutiku lagi, mungkin dia hanya memastika jika aku baik-baik saja, apa dia perhatian sama semua teman perempuannya.
Ketika aku mendekati Ayah yang masih duduk di teras rumah, begitu banyak makanan, dan beberapa hadiah lainnya.
"Ayah, banyak sekali, punya siapa?" Tanyaku heran karena bertumpuk-tumpuk.
"Ah, iya ini dari teman Ayah, Ayah harap semoga kamu mau menerima hadiahnya. Dan Ayah ada mau di omongkan denganmu, duduklah" ujar Ayah, sepertinya hati Ayah bimbang.
"Ada apa Ayah?" Tanyaku sambil duduk.
"Sebelumnya Ayah minta maaf sama kamu, karena tanpa persetujuanmu Ayah telah memutuskan sesuatu, tanpa sepengetahuanmu. Ayah telah menjodohkanmu dengan anak teman Ayah. Semoga kamu menerimanya" jelas Ayah.
"Ada apa, apa kamu tidak menerimanya?" Tanya Ayah memandang wajahku berharap aku memberi keputusan.
"Tidak ada apa-apa Yah, jika itu juga membuat Ayah bahagia, aku menerimanya" kataku lagi.
" Tergantung kemauanmu saja nak, apapun keputusanmu Ayah terima" Ujar Ayah lagi.
"Keputusan apapun yang Ayah berikan, selagi untuk kebaikan Ayah dan kebaikanku, aku tidak menolaknya" ucapku mantap.
"Terima kasih ya nak, ini beberapa hadiah untukmu, ambillah, teman Ayah menghadiahkan untukmu, dia sangat ingin bertemu denganmu, cuma sekarang dia sangat sibuk" kata Ayah menyodorkan hadiahnya untukku.
"Baiklah, Laras bawa kekamar dulu" ujarku ketika hendak melangkah kekamarku.
"Oh ya Laras, ini kotak berwarna biru di sana ada gaun, teman Ayah sangat ingin kamu memakainya di hari pertemuan nanti" kata Ayah menunjukkan.
"Baiklah Ayah" ujarku dan masuk kamar.
"Aku di jodohkan, Riko juga di jodohkan, apa kami kebetulan sama-sama di jodohkan. Aku menyukainya tapi sayangnya kasta kami berbeda, dia orang kaya, sedangkan aku orang tak punya, bagaimanapun aku harus mengucapkan selamat tinggal, dan Riko juga harus mengatakannya dan mengucapkan selamat berbahagia" kataku sambil berbaring dan menatap langit-langit.
__ADS_1
Aku tertidur karena hari-hariku penuh dengan amarah, tangisan dan sakit hati.
Baru rasanya selayang mata tertidur, aku terbangun dengan air mata mengalir di pipi. Di sore seperti ini, aku bermimpi buruk. Yang kulihat, Riko bersanding dengan seorang wanita cantik, mereka saling mencintai, mereka berbahagi, tersenyum manis saling bertatapan, sedangkan aku terlupakan, kenapa mimpi ini seperti nyata? Kenapa aku sangat sakit, merasa keputus asaan.
Aku berlari kekamar mandi dan mencuci wajahku, agar tak terlihat jika aku menangis.
Aku keluar dengan mata yang agak sembab.
"Laras ini hanya mimpi, jika kenyataanpun aku harus kuat, sebentar lagi aku akan menjadi tunangan seseorang, lupakan laki-laki yang bukan milikku" kataku menasehati diri sendiri.
***
Beberapa hari kemudia.
Tuuut... tuuut...
"Halo" jawab Ayah.
"Halo, Joni, seperti nanti malam saya akan menyempatkan diri untuk makan malam ini, aku sudah tidak sabar melihat anak gadismu" ujarnya bahagia.
"Iya, aku juga tidak sabar ingin bertemu anak laki-lakimu" ucap Ayah tersenyum.
"Ingatkan anak gadismu untuk memakai pakaian yang kuberikan kemaren, pasti sangat cantik, aku tidak sabarbuntuk menikahkan mereka berdua, semoga mereka saling suka" katanya lagi.
"Ya semoga saja, saya juga berharap begitu" ujar Ayah mengangguk-angguk.
"Coba saja istrimu masih hidup, dia juga sangat bahagia melihat mereka bersama, aku juga sangat rindu saat kita bersama seperti dulu, sayangnya dia pergi menjelang pernikahan anak kita, maaf, aku mengingat masa lalu, membuatmu sedih" ujarnya lagi
"Tidak apa-apa, semua sudah berlalu" kata Ayah tersenyum.
"Nanti saya akan menyuruh pengawal saya menjemput kalian berdua, Ya sudah saya tutup dulu, sampai ketemu nanti malam" ucap Teman Ayah dan menutup telponnya.
"Baiklah" ujar Ayah menutup panggilannya.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1