
"Teman macam apa kamu? Ngak bisa lihat orang bahagia," cibir Radit.
"Kalo aku sih ngak perlu mewah yang penting sah," celetuk Ari.
"Nah, butul itu, hanya Ari yang paling bijak," puji Radit.
"Kalo aku sih, tergantung permintaan sayangku, ya 'kan sayang," kata Riko meminta pendapatku.
"Tergantung permintaan Ayah," jawabku.
"Sini Karisa," panggil Rino. Karisa dengan malu-malunya menghampiri Rino.
"Cie... jadian aja kalian berdua," celetuk Radit.
"Iya, ngapain tunggu lama-lama," sahut Lusi.
Tak lama Mona dan suami datang dan bersanding di pelaminan.
Di wajah Mona tak ada tanda kebahagiaan, ia sama sekali tak ada senyuman seperti pengantin baru lainnya.
Sesekali Mona menghapus air matanya dengan tissu.
"Haish... aku jadi ngak tega buat ngucapin selamat kepadanya," batinku.
"Ayo nyanyi," ajak Riko menarikku kepentas.
"Malu," jawabku.
"Kan ada aku," ujarnya. Dengan terpaksa aku beranjak juga dari bangku tamu.
"Minta lagu wali Bang, baik-baik sayang," pinta Riko keabang keyboardnya.
Hanya satu pintaku...
Disiang dan malamku...
Baik-baik sayang..
Ada aku untukmu...
Hanya satu pintaku...
Disiang dan malammu...
Baik-baik sayang...
Karna aku untukmu...
"Yang nikah siapa? Yang berbahagia siapa?" Batinku.
"Terima kasih," ucap Riko. "Gantian kamu," bisik Riko.
"Aku?" Tanyaku mengangkat alis.
Dengan terpaksa aku menyanyi, meskipun suaraku tidak terlalu bagus.
*Meski ku bukan yang pertama...
Dihatimu tapi cinta ku terbaik....
Untukmu...
Meski ku bukan bintang di langit...
Tapi cinta ku yang terbaik*...
Riko senyam-senyum dan mengacungkan jempolnya.
"Iya kamu emang yang terbaik," bisik Riko saat turun dari panggung.
__ADS_1
Kami berdua duduk kembali di kursi tamu.
Kemudian Doni naik panggung dan memegang mikrofon.
"Teruntuk Kakak dan Mona, selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng hingga ajal menjemput," kata Doni memberi selamat.
"Baiklah saya akan membawakan sebuah lagu, Mahligai air mata," ucapnya lagi.
*Aku mendoakan...
Agar kau bahagia...
Bersama si dia...
Insan yang kau suka...
Percintaan kita....
Tak sampai kemana...
Setakat di bibir saja...
Sayang...
Kau bina mahligai...
dari air mata...
yang jatuh berderai...
Di wajah sepiku...
Hancurnya hatiku...
Bisa tak terkata...
"Astaga Doni, udah tau Mona sedang bersedih, malah dia nyanyi lagu yang sedih lagi*," batinku.
Apa lagilah, tentu saja Mona menangis, ia menundukan kepala mendekapkan tissu di hidungnya.
Aku tau, Mona menangis dalam diam, ini bukanlah pernikahan seperti yang ia harapkan. Doni ini sungguh tak mengerti suasana.
"Terima kasih," ucap Doni dan turun panggung.
"Kita udah tunangan, kapan nikahnya?" Tanya Riko memandang kearahku.
"Tunggu aku udah siap," jawabku melihat kearah Mona.
Acaranya berlangsung hingga sore dan karena kelelahan kami pamit pulang. Nanti malam lanjut acara potong kue dan tukar cincin.
"Capeeeeek," kataku. Setelah sampai di rumah aku menghempaskan tubuhku di sofa.
"Mending aku bobok syantik dulu," kataku masuk kekamar dan menghempaskan tubuhku kekasur empuk, meskipun masih menggunakan gaun brokat.
Di dalam tidurku, aku bermimpi. Sosok suci dan bersih menggunakan gaun putih datang menghampiriku.
"Laras... Laras... mungkin kedepannya ada masalah antara hubunganmu dan Riko, tapi kamu harus kuat ya Nak, itu adalah cobaan dalam hubungan," ujar wanita itu memegang tanganku. Aku memandang kearah wanita itu. Ingin sekali aku berbicara, tapi tak bisa mulutku untuk di gerakkan.
Perlahan-lahan wanita itu melepaskannku, aku ingin mengapainya tapi tak sampai dan wanita itu perlahan-lahan menghilang meninggalkan bulu kapas yang beterbangan mengelilingiku.
Aku terduduk menangis yang ingin sekali mengapai wanita itu, Siapa dia sebenarnya? Tujuan dia datang kemimpiku dan maksud dari pesan itu apa artinya?
Tok...
Tok...
Tok...
"Laras...," Panggil Lusi dari luar pintu.
__ADS_1
Seketika aku terbangun, tanpa sadar air mataku jatuh di pangkuanku. Apa mimpi itu nyata sehingga aku menangis beneran?
Aku menghapus air mata dan membuka pintu tersebut. Ternyata dua bocil tengik ini sudah datang.
"Laras? Kamu belum ngapa-ngapain? Ini udah jam 19:00 lho," kata Lusi heran melihatku yang masih mengunakan gaun tadi siang. Sedangkan mereka berdua sudah menggunakan gaun pesta malam.
"Kamu nangis ya?" Tanya Putri mendekati kearah wajahku. Aku mendorong wajah Putri.
"Apa jangan-jangan kamu juga minta di kawinkan 'kan?" Tanya Lusi dengan pertanyaan konyolnya.
"Ngak! Mataku berair kena debu," alasanku. " Udah aku mau mandi dulu," sambungku dan mengambil handuk.
Di saat mandi, aku terus kepikiran mimpi tadi. Kenapa wanita itu datang kemimpiku dan membawa pesan? Apa maksudnya akan ada masalah hubunganku dan Riko? Dan siapa wanita itu? Apa dia ibuku.
"Haish... sepertinya dalam waktu dekat, aku harus kemakam ibu, aku juga sangat rindu dengannya," batinku.
"Laras... kamu mandi apa maen air sih, kok lama banget nanti kita ketinggalan acaranya," panggil Lusi.
"Iya-iya," jawabku dan cepat-cepat mandi.
Selesai mandi, mereka berdua membantuku menggunankan Make up.
"Udah, ayo buruan," ajak Putri.
Sesamainya di sana kami Lusi terkejut, terdiam, terpaku dan mematung.
"Lusi, kenapa kamu?" Tanya Putri memandang kearah Lusi yang tiba-tiba terdiam, aku juga melirik kearah Lusi.
Namun Lusi masih terdiam, Putri memandang kearahku mengangkat bahunya, aku balas mengangkat alisku.
Seketika Lusi membalikan badannya ingin pergi, namun kami tahan.
"Eh... eh... mau kemana?" Tanya Putri memegang tangan Lusi dan aku juga memegang tangan sebelahnya. Dia pun berhenti.
"Radit," jawabnya.
"Ha? Radit? Ada apa dengan Radit? Di mana Raditnya?" Tanyaku bengong dan Putri juga memandang sekeliling. Karena malam jadi pandangan kami tak leluasa. Apalagi acaranya di luar, bukan di dalam ruangan.
"Aku benar-benar tak bisa melihatnya, coba kamu cari di mana Radit," ujar Putri.
"Oke, kalian jangan kemana-mana, tunggu di sini, atau duduk dulu di kursi tamu," ujarku dan pergi meninggalkan mereka. Putri mengangguk lalu menuntun Lusi kekursi tamu.
"Ada di mana Radit ya?" Tanyaku sambil melihat kekiri dan kekanan.
Epss! Aku melihat Radit. Pantasan Lusi marah dan aku mendekati Radit.
"Ra-dit," panggilku sambil bercekak pinggang.
Radit langsung menoleh kearahku.
"Laras," katanya sambil melihat kiri dan kanan.
"Kamu cari siapa? Lusi? Ngapain kamu di pojokan begini sambil duduk berdua dengan perempuan asing," sanggahku.
Perempuan itu hanya memandang kearah kami tanpa berkata.
"Kalian sudah datang?" Tanyanya sok ramah.
"Udah dari tadi dan Lusi sudah melihatmu, hampir saja dia mau pulang, namun kami tahan, maksud kamu apa ini duduk berdua di sini? Kamu ingin selingkuh terang-terangan, kamu mau ngajak perang?" Tanyaku mengintrogasinya.
"Aku bisa jelasin, ini bukan seperti yang kamu lihat," ujarnya memelas.
"Jelasin keneraka sana," ujarku marah.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1