
Riko bergelik ngeri.
"Astaga, calon istriku ternyata penjahat," ejek Riko.
"Kamu mengataiku lagi?" Tanyaku menatapnya tajam.
"Ughht...," terdengar suara dari dalam ruangan tempat Lisa.
Aku menarik tangan Riko buat masuk ke dalam kamarnya. Aku melihat Lisa kesakitan.
"Lisa, apa ada yang sakit?" Tanyaku mendekatinya. Ia pelan-pelan membuka matanya dan melihatku.
"Kamu...," panggilnya kaget. Aku mengangkat alis.
"Kamu kenapa ada di sini?" Tanyanya menekuk alisnya, sepertinya ia sangat kaget dengan adanya aku di sini.
"Udah kamu jangan banyak gerak, istirahatlah, nanti lukanya lama sembuhnya," ujarku membujuknya seperti membujuk anak kecil.
Lisa diam menatap ke arahku, aku jadi g-r di tatap terus.
"Sebentar ya, aku panggil dokternya dulu, kamu jagain Lisa sebentar," pesan Riko dan beranjak pergi.
"Kamu... kenapa di sini?" Ulangnya pelan.
"Aku tau saat kamu kecelakaan jadi aku dan Riko ingin menjagamu, apa lagi orang tuamu tidak ada di sini, jadi tidak ada yang jagain kamu," jawabku.
"Bukan itu maksudku, aku sudah jahat denganmu, kenapa kamu mau melihatku, apa kamu ingin mengejekku dengan keadaan seperti ini, kai ingin menertawakanku karena ini karma," ujarnya pelan.
"Sekalipun kamu sudah memperlakukanku di luar batas, tapi aku tidak dendam denganmu, aku mengerti dengan perasaanmu yang ingin memiliki Riko seutuhnya, namun aku tidak marah, dan aku datang bukan ingin mengejekmu atau apa pun lah itu, aku datang karena ingin menjagamu," jawabku tersenyum.
Lisa terdiam menatap menatap kakinya yang di perban. Tak lama Riko datang bersama Dokter. Dokter segera memeriksa keadaan Lisa.
"Suster, berikan suntik dan masukan obat yang ini," perintah dokter.
"Baik Dok," ujar suster itu mengikuti perintah dokter tersebut. Dokter pun menyuntik lengan Lisa. Sepertinya Lisa menahan sakit.
"Ini sudah selesai, istirahat yang cukup ya, dan kamu boleh ikut saya sebentar," kata dokter memandang ke arah Riko.
__ADS_1
"Baik Dok, Laras sebentar ya," ujar Riko memegang tanganku. Aku mengangguk.
Sesampainya di ruangan dokter tersebut.
"Dia harus di rawat di rumah sakit ini sekitar 2 minggu baru bisa pulang dan selama itu kami akan terus memantau perkembangan kesehatannya. Ini memang tidak parah namun ini kami khawatir saja takut terjadi sesuatu hal atau efek samping kedepannya, saya harap orang tuannya ada bersamanya," ujar dokter itu kepada Riko.
"Baik Dok, saya akan menghubungi orang tuanya segera," angguk Riko.
"Iya saya rasa dia sangat membutuhkan orang tuanya, jika di lihat ia sangat membutuhkan orang terdekatnya mungkin saja kami pikir dia butuh orang tuanya untuk menyemangatinya atau mungkin dia punya kekasih atau sahabat dekatnya yang sangat ia butuhkan untuk ada di sisinya," ujar dokter tersebut.
Riko terdiam mendegar ucapan dokter tersebut. Riko tau meskipun saat ini Lisa pasti membutuhkan dirinya di saat Lisa seperti ini, tapi ia juga tidak mau melakukan kesalahan yang sama di waktu itu.
"Maafkan aku Lisa, aku ngak bisa menemanimu meskipun kamu membutuhkanku, aku tak mau menyakiti Laras lagi, karena aku sangat menyayangi dia," batin Riko.
"Jadi saya minta tolong denganmu agar secepatnya orang tuanya datang dan agar kami bisa menjelaskan permasalahan ini," ujar dokter itu lagi.
"Baik dokter segera saya hubungi," ujar Riko dan permisi pamit.
Sedangkan di dalam kamar Lisa, kami hanya diam dan canggung tak ada pembicaraan apa pun karena Lisa hanya diam menatap kosong ke arah kakinya.
Riko masuk ke kamar.
"Hm... Lisa harus di rawat di sini selama 2 minggu, oh ya Lisa, aku akan menelpon orang tuamu, bisakah aku meminjam ponselmu?" Tanya Riko.
Lisa meraih tasnya di atas meja dan mengambil ponsenya.
"Ini," ulur Lisa kepada kepada Riko dan Riko menerimanya.
"Sebentar ya, aku menelpin di luar dulu," kata Riko tersenyum ke arahku dan aku membalasnya.
"Lebih baik kau pulang saja," ujar Lisa tiba-tiba mengatakan kepadaku dengan melihat dinding.
"Kenapa?" Tanyaku tak mengerti.
"Apa kau hanya ingin memamerkan kemesraanmu di depanku? Kau sengaja agar membuat aku iri," ujarnya tertawa sinis.
"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan itu dan kamu jangan berfikir sensitif, kamu cukup beristirahat dan fokus dengan kesembuhanmu," jawabku meskipun aku mengerti ucapannya. Dia berfikir jika aku dan Riko bermesraan di depannya dan membuat ia sakit hati untuk menyuruhnya mundur secara halus.
__ADS_1
"Aku tak ingin melihatmu," ucapnya tajam.
"Baiklah, jika begitu aku keluar," jawabku melangkahkan kaki keluar dari ruangannya. Aku melihat Riko yang masih berbicara dengan orang tua Lisa lewat telpon. Aku mendekati Riko dan duduk di sampingnya.
"Baiklah Tante, aku akan... aku akan menjaganya bersama dengan tunanganku," jawab Riko melihat ke arahku.
"Tunangan? Kamu sudah bertunangan?" Tanya ibu Lisa terkejut.
"Iya aku sudah bertunangan hampir 6 bulan Tante," jawab Riko mengengam tanganku.
"Begitu ya, sungguh anakku yang malang bahkan orang yang ia sukai sudah bertunangannya," ujar ibu Lisa menyayangkan.
"Iya Tante," jawab Riko tersenyum yangvdi paksakan.
"Okelah kalau begitu besok Tante dan Om berangkat ke sana, selamat malam Riko," kata ibu Lisa menutup telponnya.
"Malam Tente," Riko juga menutup panggilannya.
"Kamu kenapa ikut keluar juga, rindu ya," ujarnya mengodaku.
"Bukan aku ingin mengikutimu, tapi aku Lisa ngak mau melihatku," jawabku menarik nafas.
"Tapi bagaimana ya, ibunya menyuruhku untuk menjaganya sebelum ia datang," jelas Riko.
"Aku akan menemanimu," jawabku.
"Kenapa? kamu cemburu ya?" Ujar Riko mencolek hidungku. Aku mencubit perutnya.
"Apa cubitanmu adalah senjata andalanmu?" ujar Riko mengosok bagian sakitnya.
"Kau jika ingin menjaganya sendirian?" Tanyaku menatap tajam Riko.
"Aku ngak berani lagi," jawab Riko ketakutan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1
TERIMA KASIH