
"Jika kau menyayangi Lusi, kenapa kau menyakitinya, jika kau tidak menyukainya, seharusnya kau memutuskannya dulu dan setelah itu terserah kau mau mendekati siapapun yang kau suka," ujarku marah.
"Bukan begitu Laras, aku bisa jelaskan," ujar Radit memohon.
Aku meninggalkan Radit dan Radit mengikutiku dari belakang. Aku menuju kekursi tamu dan di sana aku melihat Lusi memeluk Putri.
Aku menghampiri mereka berdua duduk di samping Lusi dan menatap tajam kearah Radit.
Radit berlutut di depan Lusi dan memegang lutut Lusi.
"Sayang aku benar-benar minta maaf, tapi aku tidak melakukan apapun," kata Radit memelas.
Namun Lusi hanya terdiam tanpa jawaban.
"Sayang, perempuan itu tiba-tiba saja mendekatiku dan kami hanya ngobrol biasa saja, tidak ada apapun," jelas Radit.
"Sekalipun hanya ngobrol biasa 'kan kamu bisa pergi dari situ, ntah itu ketempat lain, atau jangan-jangan Riko sama Ari juga gitu?" Tanyaku curiga.
"Aku ngak tau mereka di mana," jawab Radit.
Tak lama itu Riko dan Ari datang entah dari mana.
"Kalian udah lama datangnya?" Tanya Riko.
"Udah dari tadi," jawabku.
"Kamu kenapa Radit?" Tanya Ari cengegesan melihat Radit berlutut.
"Ketauan selingkuh," jawab Putri.
"Serius kamu Radit, kamu selingkuh?" Tanya Ari sambul duduk di samping Putri.
"Engak itu cuma salah paham," Radit berusaha untuk menjelaskannya.
Tiba-tiba Lusi berdiri dan hendak pergi.
"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Radit memegang tangan Lusi.
Namun Lusi menghempas tangan Radit dan pergi. Aku dan Putri mengejar Lusi.
"Lusi kamu mau kemana?" Tanyaku.
"Pulang," jawab Lusi singkat.
"Ya udah ayo, kita pulang juga," ajakku. Putri mengangguk setuju.
Kami bertiga pulang dan lebih baik tidur di rumah.
xxx
Keesokan paginya ketika aku siap-siap berangkat kekampus, Riko datang kerumahku bersama Lisa. Perempuan waktu itu, yang pernah di jodohkan oleh mama Riko dengan mama Lisa, karena mereka temanan.
"Dia," lirihku ketika melihat Riko dan Lisa turun dari mobil.
Berhubungan rumah papa Riko dan rumah ayah tak terlalu jauh, jadi aku bisa melihatnya.
Aku melihat mama Riko menghampiri Lisa dan memeluknya sangat senang. Lalu mama Riko membawanya masuk kedalam, karena takut ketauhan aku bersembunyi dan mengintip dari jendela.
__ADS_1
Aku pikir Riko datang menghampiriku. sayangnya dia ikut masuk kedalam rumah juga.
"Laras, kamu belum berangkat lagi?" Tanya ayah.
"Bentar lagi, Ayah mau kemana?" Aku balik bertanya.
"Ayah mau berangkat ketempat untuk jualan bakso, Kim mau membangunkan ruko untuk Ayah," jawab ayah.
"Oh, hati-hati Yah," ucapku menyalami tangan ayah. Dan ayah pergi dengan motor kesayangannya.
"Haish... kenapa mereka lama sekali keluarnya?" Tanyaku mulai sewot.
Tak lama dari itu, Lisan dak Riko keluar dan di ikuti mama Riko. sebelum pergi mama Riko dan Lusa mereka berpelukan, membuat aku ada perasaan yang tidak enak. Riko dan Lisa masuk mobil dan mereka pergi.
Aku duduk di sofa, melihat kejadian tadi aku jadi males berangkat.
Dari tadi aku menghitung jari, jadi kekampus atau tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk kekampus, meskipun sudah melewati 1 mata pelajaran.
Sesampainya di kampus aku berjalan memasuki ruangan.
"Laras, kemana aja kamu, aku pikir kamu ngak kuliah hari ini," sapa Putri.
"Tadinya gitu, tapi di pikir-pikir, akhirnya aku memutuskan untuk masuk aja," jawabku.
"Ada lihat Riko?" Tanyaku.
"Biasalah, mereka sedang nagkring di kantin," jawab Putri.
"Mana Lusi?" Tanyaku lagi.
"Gara-gara kejadian malam tadi dia ngak dateng, mungkin masih marah sama Radit," jawab Putri.
"Tadi Riko sempat nyariin kamu, cuma kubilang kamu ngak datang," kata Putri memberi tahu.
"Biarlah," jawabku singkat.
"Kamu kenapa ngak semangat gitu?" Tanya Putri melihat kearah wajahku.
"Mungkin aku lelah," jawabku menyembunyikan sesuatu.
Saatnya pulang kuliah, aku sengaja bersembunyi-sembunyi untuk pulang dan melihat Riko dari kejauhan, mungkin karena aku ngak kuliah tadi makanya Riko tidak mencariku lagi.
Riko pergi begitu saja, saat aku membuntutinya, sayang sekali aku terjebak di lampu merah pada saat detik-detik lampu merah tadi Riko menancapkan mobilnya, dan aku tidak bisa membuntutinya.
Mau ngak mau, aku pulang kerumah.
"Riko tadi mencarimu," ujar ayah ketika aku sampai di rumah.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Ngak ada cuma mau mencarimu saja, ngobrol sebentar dengan Ayah lalu pulang," jawab ayah.
"Oooo, ya udah Laras masuk kamar Yah," ujarku. Ayah mengangguk.
"Kalau dia benar-benar ingin mencariku, kenapa dia tidak menelponku saja," keluhku dalam hati.
xxx
__ADS_1
Saat malam tiba, aku masih di kamarku terdengar suara mobil keluar, aku mengintip lewat jendala kamarku.
"Mereka sepertinya pergi, oh iya, kata Mama Riko ada acara pesta pernikahan anak temannya dan ingin mengajakku, tapi mereka pergi begitu aja, apa mereka lupa?" Hatiku bertanya-tanya.
"Ayah di mana ya? Apa masih di tempat jualan baksonya?" Tanyaku mencari ayah di rumah, namun tak di temukan.
Akhirnya aku tidur lagi.
xxx
Hari ini adalah hari pertandingan olahraga menyambut ulang tahun ke40 tahun kampus. Aku bersiap-siap mengenakan pakaian olahraga.
Lusi dan Putri datang kerumah untuk ngajak pergi bareng.
"Jelek banget si baju olahragamu, masa warna hitam," ejek Putri melihat baju.
"Ya seperti hatiku," jawabku.
"Udah sana ganti," perintah Putri.
Aku pun masuk kamar menganti baju warna pink.
"Kan ini warnanya cantik," puji Putri.
"Ayo," ajak mereka. Kami pun berangkat.
"Laras, itu Riko duduk dengan siapa?" Tanya Putri menunjuk kearah Riko dan perempuan duduk di atas sedang tertawa.
Aku memandang mearah Riko mengigit bibirku. Aku tau itu Lisa.
"Apa kampus kita mengundang kampus lain dalam perayaan ini?" Tanyaku.
"Iya, ada 4 kampus di undang," jawab Putri.
"Hm... pantas saja Riko dekat dengannya," batinku.
"Ya udah ayo duduk di sana," aja Putri menarik tangankubdan tangan Lusi. Ya Lusi ngak biasanya diam begini, mu gkin di masih sakit hatu dengan Radit.
Kami duduk di kursi urutan ke 4 dan jarak dengan Riko sekitar 10 kursi.
"Untuk apa aku memikirkan Riko, Riko daja belum tentu memikirkan aku," batinku.
"Ayo daftar," ajak Putri. Kami menjadi peserta lari estafet, berhubungan 4 orang kami memilih Dita menjadi anggota kami dan lari berpasangan kelompok mahasiswi.
Ketika selesai kami berempat duduk di kursi termasuk Dita.
Riko datang menghampiri kami.
"Kalian daftar olahraga apa?" Tanyanya kepada kami.
"Lari estafet sama lari berpasangan," celetuk Putri.
"Apa kalian kekurang orang ngak, itu ada Lisa, belum mendaftar perlombaan apapun," ujar Riko menunjuk kearah Lisa.
"Maaf, kami sudah lengkap dan tidak menerima orang lagi," kata Putri menyilangkan tangannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH