
"Eh, ngak apa-apa Tante," ujarku tersenyum.
"Sewa dekorasi aja," ujar Ibu Rino kesal. Namun Mona masih menangis.
Tiba-tiba pengawal pak Kim menghampiri kami.
"Maaf Tuan, orang tua Nona Mona ingin bertemu dengan Anda."
"Baiklah, suruh dia kesini," jawab pak Kim.
Orang tua Mona datang dan tersenyum lalu duduk. Kami hanya bisa memperhatikan dia saja.
"Ehemm... jadi bagaimana persiapannya?" Tanya ibu Mona memulai pembicaraan.
"Persiapan apa?" Tanya Ibu Rino dengan memutar bola matanya.
"Persiapan pernikahan anak-anak kita," jawab Ibu Mona senang.
"Tidak ada pernikahan," Tegas Ibu Rino.
"Apaaa... apa maksud kalian, jadi Mona dan Rino kalian tidak mau menikahkan, gimana kalau tiba-tiba Mina hamil, kalian harus tanggung jawab," teriak Ibu Mona.
"Mona sudah hamil sebelum insiden itu Tante," Rino angkat bicara.
"Apaaa! Tidak mungkin, Mona apa benar itu?" Tanya Ibunya histeris mengoyangkan badan Mona.
Mona hanya bisa mengangguk dengan air mata jatuh kelantai.
"Tidak mungkin! Tapi ini anak Rino 'kan? Ini pasti anak Rino 'kan," teriak Ibu Mona gelagapan.
"Itu bukan anak saya Tante, meskipun Mona berbohong, tes DNA nanti tidak bisa membohongi kita," ujar Rino tenang.
"Tidak mungkin, bagaimana di perutnya adalah anak orang lain, sedangkan kalian selalu bersama," teriak Ibu Mona membulatkan matanya.
"Selalu bersama tak menjamin jika aku melakukan hal kotor kedia," Rino bersitegang.
"Mana kertas tesnya saya mau lihat, sini," bentak Ibu Mona.
"Cukup! apa kalian tidak menganggapku ada? Apa kalian pikir ini rumah tempat perdebatan? Saya malu dengan teman saya ini, ini adalah rumahnya, apa kalian tidak malu bertengkar di rumah orang," bentak pak Kim. Semua terdiam mendadak.
"Baiklah kuta akan melakukan tes secepatnya jika ingin tahu hasilnya, yaitu 2 minggu lagi," sambung pak Kim.
"Tidak perlu melakukan tes lagi, aku ngak apa-apa cuma pernikahan biasa," ujar Mona dengan suara parau.
"Tidak ada pernikahan jika tidak di tes," tegas Pak Kim.
"Apaaa...," teriak Mona tak percaya. kini ia di lema, seperti makan buah simalakama, jika tidak tes ia tidak di nikahkan, jika tes akan tau kebohongannya. Apa bedannya jika kedua pilihan itu sama saja ia tak bisa menikahi pria kaya itu.
"Apa maksud kalian, mentang-mentang kalian orang kaya, kalian seenaknya berbuat kepada anak saya," balas Ibu mona.
"Cukup! jika dia adalah cucu kami, kami akan melakukan yang terbaik untuknya, jika bukan, tidak ada sepeserpun untuk kalian dan kami akan melaporkan atas nama pencemaran nama baik," uar Pak Kim.
"Kalian sungguh keterlaluan, kalian pikir anak saya apa, seenaknya saja," teriak Ibu Mona tak mau kalah.
__ADS_1
"Sudah keluar kalian, jangan buat kekacauan di sini," Usir pak Kim.
"Lihat saja nanti jika ini anak Rino, kaluan harus membayar 10x lipat harganya, ayo Mona," ajak Ibu Mona dengan kesal.
"Tidak, Ibu jangan tuntut mereka, aku harus menikah dengan Rino, meski hanya tinggal di gubuk," pinta Mona.
"Apa sebegitu nilai harga dirimu Mona, kamu jangan mau di rendahkan oleh orang kaya, ayo pergi," kata Ibu Mona menarik tangan Mona untuk pergi.
"Tidak Ibu, aku harus menikah dengan Rino," Mona berusaha melepaskan tangan Ibunya.
"Mona! Ayo pulang, jika kamu tidak mengikuti apa kata Ibu, kamu bukan anakku lagi," bentak Ibu Mona.
"Sayang sekali padahal tadi kami ingin membuat resepsi pernikahan kecil-kecilan, Anda datang merusak semuanya," ujar Ibu Rino.
"Apaa? Pernikahan? kalian ingin mengelar pernikahan?" Tanya Ibu Mona dengan mata berbinar.
"Kita akan melakukannya setelah hasil tes keluar," ujar Ibu Rino keluar dari rumah.
"Baiklah akan saya tunggu hasilnya," balas Ibu Mona.
"Tapi sebelumnya Tante dua minggu lagi Mona ikut bersama kami untuk melakukan tesnya," ujar Rino.
"Baiklah jika begitu," jawab Ibu Mona dan membawa putrinya pergi.
"Huh... selesai sudah, Apaaaaaa! aku terlambat kuliah," teriakku kaget ketika melihat jam di dinding.
Ketika aku melihat ponsel ada 119 panggilan tak terjawab dari Riko dan panggilan ke 20...
"Halo," jawabku.
"Kamu di mana?" Tanyanya tak sabaran.
"Masih di rumah yang tadi," jawabku.
"Apa! pantesan kamu tidak ada di kampus, aku tadi buru-buru kekampus karena ada pertandingan di Gor dengan kampus sebelah, jadi tidak sempat menjemputmu," jelas Riko.
"Siapa juga minta di jemput sama kamu, brandal! udah sana bertanding, semoga kalah," ucapku.
"Kalo aku menang kamu mau kasih apa?" Tanyanya genit.
"Kasih tinju," jawabku ketus.
"Hadiahmu sungguh unik Laras, oke jika aku menang aku akan minta sesuatu darimu," ujarnya tersenyum (mungkin saja tersenyum, mana ada orang minta sesuatu sambil marah-marah).
"Minta sesuatu? Emang aku ada bilang mau ngasih?" Tanyaku sebel.
"Pokoknya kamu harus ngasih sesuatu untukku," katanya maksa.
"Idih kayak anak bayi aja, minta pake paksa," ujarku sewot.
"Akukan adalah Bayi di hatimu," katanya membuat aku mau muntah darah.
__ADS_1
"Ya... ya... sana, aku udah ngak tahan dengar suaramu lagi, baiklah aku kasih nanti," kataku menyerah.
"Terima kasih penyemangatku, I love you," ucapnya dan mematikan panggilannya.
"Penyemangat? Penyemangat kepalamu itulah," umpatku.
"Kasih hadiah apa? Oh ya telpon Lusi ama Putri aja deh," pikirku.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
Tut... tut... tut...
"Ngak di angkat," jawabku sebel dan membereskan tempat tidur bersiap-siap pulang kerumah lama. Ayah ternyata sudah pulang duluan tanpa mengabariku.
"Tante aku pulang dulu ya," kataku berpamitan.
"Ngapain kamu pulang, di sini saja, Ayahmu dan pengawal Papa Riko membereskan barang-barang kalian," ujar Ibu Riko.
"Iya Tante, tapi aku lihat-lihat, barang apa yang akan di bawa," ujarku.
"Oh baiklah, mau Tante antarkan?" Tawar Ibu Riko.
"Eh ngak usah Tante, habis ini aku mau kesuatu tempat," kataku menolak.
"Oh baiklah, kapan-kapan kita shoping ya," ajak Tante.
"Ya Tante kapan Tante punya waktu aja," ujarku tersenyum.
"Ya nanti Tante kasih tau ya," jawab Tante menepuk pundakku.
"Iya Tante, aku pergi dulu," kataku melambaikan tangan. Ibu Riko membalas lambaian tanganku dan tersenyum.
"Pulang dulu deh, lihat apa saja tang di kerjai Ayah," kataku dan menyetop sebuah taksi.
"Kemana mbak?" Tanya supir taksi itu.
"Jalan suka ramai," jawabku. Dan Taksi itu langsung meluncur kealamat yang di tuju.
Tak berapa lama sampai di depan rumah dan aku melihat Ayah membawa kardus yang sudah terbungkus rapi.
"Ayah," sapaku.
"Barang-barangmu masih belum Ayah bereskan, Ayah ngak tau apa yang kamu perlukan," ujar Ayah yang sedang sibuk.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1