Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Ke SPA


__ADS_3

Putri mengulurkan tissunya dan aku mengambil, ketika menyeka cream di wajahku aku melihat Doni mengobrol tertawa bersama teman-temannya. Ingin rasanya aku bertanya ada hubungan apa antara dia dan Mona. Tapi ku urungkan niatku nanti saja aku bertanyanya jika punya waktu senggang.


"Riko, aku lelah," ujarku menatapnya sayup.


"Jadi?" Tanyanya.


"Bersenang-senanglah, jangan ganggu aku ya," kataku.


"Iya, kamu mau pulang ngak? Aku antarin," tawarnya.


"Ngak, aku di sini aja liat-liat," ujarku.


"Baiklah kalau ada apa-apa bilang ya," katanya lagi.


"Ya" jawabku mengangguk.


"Ayo goyang sampai pagi," teriak Ruda memutar speker kencang-kencang. Dan Dj terdengar mendegum di telinga.


Putri dan Lusi menarik tanganku mengajak kuberdugem. Awalnya aku menolak, namun mereka menarik-narik tanganku dan mengangkat tanganku menyuruhku bergojet. Ya sudahlah aku pun berjoget bersama mereka berdua, namun banyak siswa yang lain menari-nari di sana.


"Astaga, dia bilang lelah, malah dia lebih parah jogetnya dari padaku," omel Riko melihatku menari-nari.


"Udah ayo pulang," ujar Riko menarik tanganku.


"Eh, kenapa," jawabku tak rela meninggalkan mereka yang lagi joget-joget.


"Kamu bilang lelah, malah kamu lebih heboh jogetnya," ujarnya menatapku dengan muncung panjang 5 cm.


"Mereka bawa aku joget ngak enaklah jika aku anggurin apa lagi Dj seru," kataku manyun.


"Ya sudahlah sana lanjut joget-joget sana," ujarnya pasrah.


Aku kembali berkerumun dengan teman-temanku. Aku mengambil microfon.


"Baiklah aku menyanyikan sebuah lagu untuk orang yang aku sayangi, dia adalah pahlawanku, yang selalu ada untukku," ujarku dan memulaikan menyanyikannya.


*Di saat embun jatuh ke bumi.


Di situlah aku merasa kedinginan.


Namun dia datang menghangatkan.


Sehingga aku terbebas dari rasa beku.


Kau hangat bagaikan matahari.


Memberiku kebahagian.


Cahayamu membawaku dari gelapnya dunia yang fana ini.


Terima kasih kuucapkan.


Untuk Ayah dan Ibu.


Meskipun dunia ini bisa kuangkat.


Namun tak bisa aku membalas lelahmu.


Semoga engkau bahagia selamanya*.


S****elesai.


mereka bertepuk tangan.


"Aku kira dia menyanyikan untukku," ujarnya sedih.


"Baiklah aku menyanyikan sebuah lagu lagi," ujarku lagi.


*Di antara beribu bintang.


Hanyalah kau yang paling terang.


Di antara beribu cinta.

__ADS_1


Pilihanku hanya kau saja.


Takkan ada selain kamu.


Dalam segala keadaanku.


Cuma kamu ya hanya kamu.


Yang selalu ada untukku*...


Lagu ini kupersembahkan untuk Riko.


"Waaaaaaa...," jerit anak-anak kampus bersorak dan bertepuk tangan. Riko senyam-senyum melihat kearahku. Aku menyerahkan kembali mikrofonnya kepada Ruda, dan menghampiri Riko.


Ia langsung memelukku tanpa malu di depan orang ramai.


"Hey... lepaskan di sini ramai, malu di lihat mereka," ujarku berusaha melepaskan pelukannya. Ia melepaskan pelukannya.


"Terima kasih," lirihnya tersenyum bahagia.


"Hanya ucapan terima kasih saja?" tanyaku mencibirkan bibirku.


"Kamu mau apa?" Ia balik bertanya.


"Terserah," ujarku mengangkat bahu.


"Udah ayo pergi, kamu pasti lelahkan, biarkan saja mereka membereskan kekacauan yang mereka buat," katanya mengengam tanganku.


"Mereka? Bukannya kamu yang punya ide begini?" Ujarku menyalahkannya.


"Iya sayang," katanya mencoel hidungku.


"Ih." Ia menarik tanganku dan membawa ke mobilnya.


"Ayo, aku bawa kamu kesuatu tempat untuk menghilangkan lelah," katanya menyipitkan matanya sebelah. Aku hanya menatapnya tersenyum.


Setelah sampai tujuan.



Ternyata ia membawaku ketempat SPA.


"Ayo, biar badanmu ngak pegal-pegal lagi," katanya mengajakku.


Aku masuk bersamanya, tempatnya mewah sekali dan aku melihat harganya di dinding. Mulai harga 2.500.000 sampai harga 10.000.000.


SPA apaan tuh sampai sepuluh juta?


"Kamu di sini ya, aku di sebelah sana," katanya mengosok kepalaku, ternyata di sini ada juga SPA untuk laki-laki dan Riko mau ikut SPA, pantesan kulitnya lebih putih dan lebih lembut dariku, ternyata ia rajin perawatan.


"Beri dia SPA yang terbaik Mbak," ujarnya kepada pemilik SPA bernama Mbak Rani.


"Baiklah, apa ini pacarmu?" Tanya Mbak Rani mengoda Riko.


"Bukan," jawabnya singkat, aku menatapnya bingung.


"Jadi siapanya kamu?" Tanya Mbak Rani keheranan.


"Dia istriku," jawabnya membuat wajahku memerah.


"Kapan kamu nikah, kok ngak ngundang Mbak?" Tanyanya mencubit bahu Riko.


"Habis kuliah, jika dia tak mau dengan terpaksa bulan depan," ujarnya bercanda membuat aku menggeleng kepalaku.


"Dia aja ngak mau, lihat tuh dia sampai geleng kepala," kata Mbak Rani menunjuk kearahku.


"Tunggu aku udah dapat kerja," jawabku.


"Ngapain kamu kerja, aku saja yang kerja untuk menghidupimu," ujarnya merasa jantan.


"Untuk apa aku kuliah kalo hanya duduk di rumah," kataku memutar bola mata.


"Iya, kalo sebelum punya anak kalian berdua kerja dulu, apa lagi kamu pewaris perusahaan Ayahmu 'kan bisa menjadikan dia sekretarismu," saran Mbak Rani.

__ADS_1


"Iya deh, terserah dialah Mbak mau gimana," jawabnya menyerah.


"Udah Riko kamu kesana," usir Mbak Rani.


"Ayo pakai ini," kata Mbak Rani menyodorkan kain berwarna putih kepadaku.


Pijitan Mbak Rani sangat fresh, aku memejamkan mata menikmati pijitannya.


"Aaaaaa..." Teriak Riko.


"Ada apa Mbak?" Tanyaku kaget.


"Udah usah kamu pikirkan, dia emang kayak gitu sama suamiku, paling mereka sedang bersenang-senang," ujar Mbak Rani meneruskan pijitannya.


"Ha? bersenang-senang?" Tanyaku dalam hati. Pikiranku entah kemana-mana.


***


Setelah selesai kulitku menjadi lembut dan halus, tubuhkupun terasa ringan. pelayanannya enak sesuai dengan harganya, karena pemiliknya sendiri yang turun tangan.


"Ayo pulang," ajak Riko. Aku mengangguk setuju.


"Aku ingin makan masakan kamu," pinta Riko.


"Aku ngak pandai masak," ujarku.


"Makanya aku biasakan dari sekarang makan masakanmu," katanya serius.


"Ah, kamu punya restoran, kalo laper tinggal mampir aja kesana,"


"Itu restoran punya kita, aku akan mengantikan namanya menjadi nama anak kita," ujarnya yang sudah punya rencana.


"Anak? Nikah aja belom, udah mikirin anak, sana beli tepung 1 kg untuk bikin anak," ujarku mencibir.


Riko melajukan mobilnya membawaku kerumahnya yang mewah itu.



"Bibi," panggil Riko.


"Eh Tuan muda, Neng Laras udah pulang," sambut Bibi senang.


"Bi, hari ini biar Laras yang masak, aku ingin mencicipi masakannya," kata Riko.


"Baiklah Bibi juga ingin mencicipi masakan Neng Laras," kata Bibi. Aku memulai masaknya ketika selesai aku menyajikan masakanku di meja makan.


"Ayo di makan," ujarku mempersilakan.


"Kelihatannya enak nih," kata Riko tak sabaran. Yang kumasak adalah...


KEPITING ASAM PEDAS.



Riko mengambil beberapa bagian dagingnya dan memasukkan kedalam mulutnya dan...


Ia terdiam sejenak.


Merasakan makanannya.


"Sayang ini enak, tapi sepertinya kamu mau nikah lagi," ujarnya menyidir halus.


"Apa maksudmu aku mau menikah lagi?" Tanyaku tak mengerti.


"Ke-as-in-an" jawabnya terbata-bata.


Buuk.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2