
"Oh kamu yang akan mendesain perusahaan saya," ujar pimpinan itu tersenyum.
"Iya pak," jawabku mengangguk.
"Perkenalkan nama saya Daren," ujarnya menjabat tangan.
"Laras," jawabku membalas jabatan tangannya.
"Ternyata kamu cantik ya," ujarnya sambil mengelus tanganku, aku langsung menarik tangan. Aku malah ketemu pimpinan yang mesum.
"Oh ya pak, yang mana ya yang harus saya desainkan?" Tanyaku mengalih pembicaraan.
"Oh baiklah, ayo ikut saya," ajaknya. Aku mengikutinya dari belakang.
"Ini ruangannya, apa saja kira-kira yang di butuhkan, kamu bisa menambahkan apa saja yang kamu suka," ujarnya tersenyum genit. Astaga bapak tua ini, sepertinya dia lagi puber.
"Saya tinggal kamu sendiri, apa perlu saya temani?" Tanyanya membuat aku geli.
"Tidak usah pak, saya sendiri saja," jawabku dengan senyum terpaksa.
"Baiklah jika begitu, saya pergi dulu," ujarnya tersenyum.
"Ya pak," anggukku.
"Astaga, orang tua bangka itu, apa dia tidak lelah tersenyum terus," batinku.
Aku mengelilingi ruangan tersebut sambil memikirkan apa saja yang harus ku gambar ontuk mempercantik ruangan. Aku duduk di kursi dan mulai mengambar di selembar hvs.
Aku meletakkan sofa penerimaan tamu, meja kerja dan di sudut ruangan ada pemanas air jika ingin membuat kopi, dan di suduk kiri ada meja kaca untuk meletakkan beberapa penghargaan untuk hiasan dan di samping sofa ada bunga hidup untuk menyaring udara.
Tok... tok.... tok...
"Iya, silakan masuk," jawabku. Pintu terbuka dan ternyata pak Daren.
"Ini di minum, ini juga saya membawa beberapa makanan juga," ujarnya ramah.
"Eh bapak ngak perlu repot-repot kan ada pegawai bapak yang ngaterin," jawabku segan.
"udah ngak apa-apa, apa lagi kamu tamu di perusahaan saya, jadi saya harus menyambutnya dengan senang hati," ujarnya memasukkan tangan kecelananya biar nampak keren.
"Ya pak terima kasih," anggukku.
__ADS_1
"Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu lagi," katanya melangkahkan kaki keluar ruangan.
"Bapak itu, gangguin saja," omelku. Aku kembali mengambar lagi.
"Kayaknya cukup deh," ujarku melihat selembar kertas yang sudah aku gambar. Aku keluar dan menitipkan lembaran kertas tersebut kepada pegawainya. Tiba-tiba saja pa Daren datang.
kamu sudah selesai mengambarnya ya?" Tanya Pak Daren lagi-lagi tersenyum membuatku mual.
"Ya pak," jawabku mencoba tetap sopan.
"Hm... jika begitu ayo kita semua makan siang, Bapak yang akan teraktir menyambut atas kedatangan tamu kita," ujar pak Daren. Mereka semua bersorak gembira, aku hanya manyun sebal karena pemperlambat kepulanganku.
"Udah... pura-pura senang aja," bisik Wani. Ada 6 mobil melaju ke sebuah restoran yang termasuk mewah, pak Daren memesan 1 ruang khusus untuk di sewakan. Kami semua masuk kedalam restoran tersebut dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Ayo kalian mau pesan apa saja, pesan hari ini kita pesta sampai malam," ujar pak Daren bersemangat. Para kariyawannya berteriak bergembira.
"Bapak sangat baik, kami akan terus mengikutimu," teriak Redi mengangkat tangannya. Pak Daren mengangguk-angguk tersenyum dan senyum itu melihat ke arahku, membuat aku tidak nyaman saja.
"Aku mau pesan steak sapi," ujar Karen.
"Aku pesan Spageti deh," kata Andi mengambil buku menu dari tangan Karen. Mereka semua memesan makanan mereka suka, hanya aku yang masih terdiam memangku tangan di dagu.
"Hey Laras, kok diam aja, tinggal kamu aja yang belum pesan," senggol Wani menyadarkanku.
"Eh kok gitu sih, ya sudah Laras pesan steak sapi," teriak Wani kepada pelayan restoran. Aku menatap Wani sayup, Wani cengengesan mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Ya sudahlah terserah dia.
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada ayah dan Riko jika aku mungkin akan pulang malam.
Mereka berkerokean dengan warna suara yang berbeda-beda, ada yang yang merdu, sedang, ada yang fals dan ada juga yang cempreng membuat sakit telinga mendengarkannya.
Resi menarik tanganku ke depan. "Ayo nyanyi bareng, tinggal kamu yang belum nyanyi," ajak Resi.
"Ngak, suaraku jelek," tolakku.
"Udah ngak apa-apa, suara Maren malah kayak kambing kecepit lagi, ayolah," ajak Resi menarik tanganku. Mau ngak mau aku ikut ia ke depan. Resi mengulur mikrofon kepadaku dan ia mulai mencari-cari lagu.
"Lagu ini kamu suka ngak?" Tanyanya ketika menemukan lagu pas.
Aku mengangguk setuju. Resi memutar musik tersebut dan mulai menyanyi. Aku melihat Resi menyanyi dengan memandang seseorang pria yang memainkan ponselnya. Ternyata lagu ini untuk pria itu, lalu kenapa dia membawaku?
Kini giliranku menyanyi mereka semua memandang ke arahku, entah apa yang salah dengan nyanyianku bahkan termasuk pria yang di taksir Resi juga melihat. Melihat pria yang di sukai Resi, Resi langsung mengukuti laguku meskipun itu giliranku. Pria yang di taksir Resi itu pendiam dan berkaca mata, ia terlihat pria jenius dan cuek yang bernama Ferry.
__ADS_1
Akhirnya selesai juga lagunya. Aku kembali ke tempat dudukku.
"Wah... Suaramu enak banget di dengar apa lagi pas sekali lagunya," puji Wani. Aku tersenyum dan mengambil sebotol mineral untukku minum.
Aku mendekati Wani. "Apa Resi sudah punya pacar?" Tanyaku berbisik.
"Belum," jawab Wani mengeleng kepalanya. "Tapi kenapa kamu menyakan itu?" Wani balik bertanya.
"Tidak ada," jawabku kembali ke posisi semula.
"Atau jangan-jangan... aaaaaaaa," jerit Wani membuat mereka memandang 1ke arah Wani.
"Kamu kenapa?" Tanya Karen heran.
"Eh, maaf maaf," kata Wani cengengesan. Wani mendekatiku lalu berkata. "Jangan-jangan kamu menyukai Resi?" Tanyanya berbisik.
"Hadeh," aku menepuk jidadku. "Hey... aku bukan lesbi," sambungku.
"Hehehe... jika kamu mau denganku aku juga mau," ujarnya bercanda.
"Menjijikan," jawabku.
"Hahahaha... aku hanya bercanda, kamu asyik di ajak mengobrol dan asal kamu tau pak Daren sangat jarang traktir kami makan dan ini keempat kalinya selama aku bekerja 5 tahun di sini," kata Wani merangkul pundakku.
"Jadi waktu ketiga kalinya ada acara apa kalian di traktir?" Tanyaku.
"Itu karena di suruh oleh istrinya karena merayakan pernikahannya, yah hanya setahun sekali di traktir makan begini," keluh Wani.
"Lalu kenapa dia berbaik hati hari ini?" Tanyaku.
"Itu karena ke datanganmu, biasanya juga kedatangan kariyawan baru mana ada di rayain begini, entah apa yang tua bangka mau? Apa jangan-jangan dia menyukaimu, dasar orang tua mesum," maki Wani mencibir.
"Kamu jangan kencang-kencang ngomongnya, nanti dengar oleh pak Daren," bisik.
"Tenang saja dia tidak dengar, lihatlah dia angguk-angguk sambil mendengar Karen menyanyi," ujar Wani menunjuk ke arah pak Daren.
Akhirnya sampai juga makanan yang di pesan tadi dan para pelayan menata makanan di atas meja.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1
TERIMA KASIH