Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Rumor


__ADS_3

Riko menghampiriku memberikan selamat, kali ini ia tidak membawa Lisa.


"Selamat ya, malam ini aku yang teraktir kalian," ujaranya.


Lusi dan putri diam tak berani untuk menjawabnya.


"Tidak usah, mereka temanku, jadi aku yang traktir mereka," ujarku.


"Udah ngak apa-apa, teman-teman kamukan, temanku juga," jawab Riko.


Aku memandang kedua sahabatku itu. Mereka malah pura-pura ngak tau.


"Ya udah deh," jawabku.


xxx


Siang sudah berganti malam, Riko datang menjemputku. Berhubungan dia yang traktir jadi makan-makannya di restorannya.


"Ayo, teman-teman udah pada ngumpul tuh, Dita juga datang," ujar Riko.


"Oh, baiklah," jawabku. Sepertinya Riko tidak membawa Lisa lagi jadi ya aku kembali semangat.


Sesampainya di restoran ketika masuk keruangan tersebut terasa suasana yang suram.


Ternyata Lisa sudah ada di sana. Mereka semua sibuk dengan ponselnya.


"Laras," panggil Putri melihat kedatanganku.


"Hey kalian," sapaku duduk di sebelah putri, Riko juga duduk di sebelahku. Tiba-tiba Lisa datang dan duduk di sebelah Riko.


Melihat itu aku terdiam, kenapa Lisa harus mengekor Riko terus, apa Riko tidak memberi tahu jika kami sudah bertunangan?


Makanan sudah datang, teman-teman juga mengambil bagian mereka. Belum sempat aku mengambil makanan untuk Riko, Lisa sudah mengambilnya duluan. Apa aku yang terlalu lambat? Atau dia yang terlalu agresif.


Lisa meletakan piring untuk Riko sambil tersenyum. Dan Riko membalasnya. Mereka bahkan lebih mesra dari aku yang tunangannya. Karena tidak tahan lagi aku lebih memilih pergi.


"Aku pulang dulu ya," ujarku berdiri dan mengambil tasku.


"Laras," panggil mereka semua.


Aku berlari keluar restoran. Riko mengejarku dan memegang tanganku.


"Laras, ada apa ini?" Tanya Riko.


Aku menatapnya sayup, ingin rasanya aku mengeluarkan segala unek-unek di hatiku, namunku tahan, apa lagi ini di tempat ramai.


"Kamu kenapa sih bawa dia?" Tanyaku. Air mataku yang hampir saja keluar namun harus kutahan.


"Dia siapa?" Tanya Riko menekuk alisnya.


"Lisa," jawabku.


"Kemaren aku udah bilang sama kamu," jawabnya.


"Tapi kamu ngak nanya dulu sama aku, apa aku suka apa ngak," ujarku membuat ia terdiam.


"Aku capek mau pulang," jawabku dan untungnya ada taksi lewat dan aku memberhentikannya.

__ADS_1


"Tunggu Laras," teriaknya berusaha memberhentikanku. Aku tak peduli dengannya. Aku pergi meninggal dia.


Riko lari kearah parkiran dan melajukan mobilnya mengejarku.


"Itu Neng, ngak sama dia aja, kasian liat dia," ujar supir taksi.


"Ngak ada yang perlu di kasihani pak, jalan aja terus," jawabku menatap kaca taksi.


"Riko, kau lebih memilih menemani dia karena di suruh orang tuanya ketimbang aku, meskipun kau di suruh orang tuanya, seharusnya kau menjaga jarak, atau suruh aku untuk menemaninya bersama temannya lain. Kau menyakitiku tanpa sadar," batinku sambil menghela nafas panjang.


Riko mengklakson mobilnya menyuruh agar kami berhenti.


"Gimana neng?" Tanya supir itu.


"Ngak usah di pedulikan pak," jawabku.


Riko melajukan mobilnya, dan setelah agak jauh dia memelankan laju mobilnya.


m


Riko keluar dari mobilnya dan memberhentikan taksi yang kutumpangi.


"Laras, Laras, Turun, aku ingin berbicara denganmu," katanya mengetuk jendela taksi tersebut.


"Pak jalan aja," perintahku.


Pelan-pelan taksi itu menjalan mobilnya. Riko kembali mengejarku.


Sesampainya dirumah aku cepat-cepat masuk kerumah dan mengunci kamarku. menjatuhkan tubuhku di kasur.


"Riko," panggil ayah melihat Riko datang namun Riko juga belari menuju kamarku


"Laras, buka pintunya Laras, aku salah apa? Keluar, aku ingin bicara denganmu, jelasin apa yang tidak aku mengerti? Aku mohon Laras," teriak Riko dari balik pintu.


"Aku capek, aku lelah, bolehkah kau pulang dulu, aku ingin istirahat," balasku.


"Laras," lirihnya.


"Riko ada apa?" Tanya ayah yang datang menghampiri Riko.


"Laras sepertinya marah denganku Yah," jawab Riko.


"Ya sudah, mungkin dia butuh waktu buat bicara denganmu, lebih baik besok saja, biarkan dia tenang dulu," kata ayah menasehati.


"Ya Ayah, aku pulang dulu, selamat malam Ayah," ucap Riko dan pergi dengan langkah gontai.


xxx


Keesokan paginya aku dan di jemput oleh Riko, untungnya Lusi dan Putri sudah datang duluan.


"Laras, barengan aku yuk," ajak Riko. Masih saja Lisa ada di dalam mobil Riko.


Aku diam tanpa menampik ajakannya.


"Ayo kita pergi," ajakku kepada Lusi dan Putri.


"Laras, kita harus bicara," ujar Riko.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di bicarakan," jawabku. Dan kami pergi meninggalkan mereka.


"Seluruh mahasiswa dan mahasiswi berkumpul kita akan menyerahkan hadiah untuk para juara," kata pembawa acara. Seluruh anak kampus berteriak bahagia.


"Untuk juara 1 2 dan 3 lari estafet silakan naik di podium."


"Sayang sekali ya Laras, kita malah juara 4," ujar Dita.


"Tapi kita Juara 2 lari berpasangan," ujarku senang.


"Hahahahaha," tawa Dita.


Lusi dan Putri manyun.


"Selanjutnya juara 1 2 dan 3 lari berpasangan, silakan naik kepodium."


"Aaaaaa... kitaaaa," teriak Dita merangkul tanganku. Aku mengikuti Dita naik kepanggung.


Dosen menyerahkan hadiahya berupa uang tunai 200.000 dan juga piagam.


Setelah selesai pemberian hadiah kami pergi kekantin cari makan.


Sebuah notifikasi dari web kampus masuk keponsel kami.


Kami semua membuka notif tersebut. Aku terdiam melihat foto tersebut.


"Laras," lirih Putri melihat kearahku.


Apa lagi isi web tersebut bertulisan.


"Apakah ini pacar baru Riko Mahendra Kim yang baru, apa dengan pacarnya Laras wati sudah putus?"


Foto di sana adalah saat Lisa mengandeng tangan Riko yang saat itu tanpa disadari oleh Riko sendiri.


Aku lari ketoilet dan menutup pintu. Di sana aku menangis. Anak kampus taunya aku dan Riko masih pacaran, hanya sebagian saja yang tahu kami bertunangan.


"Laras, Laras, ayo keluar donk," panggil Lusi dari balik pintu.


"Laras, ayo kita pulang," ajak Putri lembut.


Aku tak menjawab ucapan mereka, aku hanya tau menagis, aku sudah tak peduli apapun.


"Laras, kami juga sedih banget, untuk menenangkan pikiranmu ayo kita jalan-jalan kemana aja yang penting kamu tenang," ajak Putri lagi.


"Di mana Laras?" Tanya Riko panik katika melihat Putri, Lusi dan Dita di depan pintu toilet.


Aku berharap jika mereka tidak mengatakan keberadaanku.


Putri dan Lusi mengelengkan kepalanya.


"Aku tau kamu ada di dalam Laras, laras ayo keluar, aku ingin berbicara denganmu, dan aku benar-benar minta maaf, Laras, ayo donk keluar, aku salah Laras, kamu keluar dulu, aku akan mengatakan jika itu adalah rumor palsu, Ayo Laras, keluar Laras," panggil Riko memukul-mukul pintu toilet tersebut.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2