Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Pendaftaran kampus baru


__ADS_3

Aku menangis sambil mengengam erat-erat kertas tersebut.


"Terima kasih buk, permisi" ujarku pergi dengan air mata berjatuhan.


Aku pergi dari kampus dengan hati yang hancur. Berjalan tanpa daya, tak kuat rasanya menghadapi kenyataannya.


"Tuhaaaaan... aku salah apa? Di mana letak salahku? Bagaimana dengan perasaan Ayah yang sudah berjuang selama ini. Sedangkan aku sudah berjanji untuk belajar giat, Ayah pasti sangat marah, bagaimana aku menjelaskan nanti" rintihku.


Aku duduk di kursi jalan, termenung seperti orang gila. Aku takut pulang kerumah, bagaimana jika Ayah marah? Aku harus kuat dan siap jika Ayah memarahiku.


Akhirnya aku pulang dengan sangat lesu. Ternyata Ayah masih di rumah.


"Eh sudah pulang nduk?" tanya Ayah heran.


"Maaf Ayah, aku benar-benar minta maaf Ayah, jika Ayah ingin marah silakan Ayah" kataku menangis di pelukan Ayah.


"Ada apa? Apa masalahnya?" tanya Ayah tak mengerti.


Aku melepaskan pelukannya dan menyerahkan selembar kertas yang hampir hancur karena kugengam tadi.



"Ini... apa permasalannya?" tanya Ayah mengengam kertas tersebut


"Aku ngak tau Ayah apa salahku" jawab sambil menangis tersedu-sedu.


"Baiklah, kamu tenang dulu biar Ayah telpon dosennya ya, Ayah ngak marah kok" kata Ayah menenangkanku.


Tangisku langsung berhenti mendengar Ayah berbicara seperti itu.


"Ayah terima kasih, kenapa Ayah baik sekali?" ujarku sambil memeluk Ayah senang.


"Karena Ayah adalah Ayah terbaik untukmu" ucap Ayah membuat aku nangis sejadi-jadi di pelukan Ayah.


"Sudah, Ayah takkan marah, apapun yang terjadi padamu Ayah akan selalu mendukungmu" kata Ayah membuatku tenang.


Aku masih menangis dan melepaskan pelukanku dari Ayah.


"Ayah akan menelpon dosennya dulu mana ponselmu?" tanya Ayah meminta ponselku. Aku menyerahkan ponselku.


Tuuut... tuuut...


"Halo selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" jawab dari orang di telpon.


"Halo, selamat siang apa ini bersama buk Rika?" tanya Ayah.


"Ya saya sendiri" jawab buk Rika.


"Saya Ayahnya Laras, saya mau tanya apa penyebab Laras di keluarkan dari kampus buk?" tanya Ayah.


"Masalah itu sebelumnya kami benar-benar minta maaf pak, kami di minta oleh orang besar untuk mengeluarkan Laras karena Laras telah menyinggungnya" jelas buk Rika.


"Kalau boleh tau siapa orangnya?" tanya Ayah lagi.


"Namanya pak Kim"


"APA!" aku terkejut mendengar nama tersebut.


"Ada apa?" tanya Ayah kaget ketika melihat responku.


"Itu Ayahnya Riko" jeritku.

__ADS_1


"Oh baiklah buk, saya sudah tau permasalahannya jika begitu saya permisi dulu" kata Ayah mengundurkan diri.


"Itu pak Kim Ayahnya Riko apa kau serius?" tanya Ayah.


"Iya Ayah" jawabku mengangguk.


Ayah menarik nafas dan menghempas agar lega pikirannya "Ya sudahlah, jadi bagaimana penyelesaiannya?" tanya Ayah bertanya ke padaku.


"Kata buk Rika namaku tidak di black list, jadi di manapun aku bisa berkuliah di sana" jelasku membuat ayah lega.


"Baiklah, kamu sendiri tidak apa-apakan?"tanya Ayah khawatir denganku.


"Aku baik-baik saja Ayah, aku hanya takut ayah marah saja" kataku melemah.


"Tidak, Ayah akan selalu mendukungmu Laras" ujar Ayah mengusap kepalaku.


"Terima kasih Ayah"


"Baiklah, besok kita coba pergi ke kampus yang lain, siapa tau ada yang terima kamu di sana" ujar Ayah.


"Siap Ayah" kataku mantap.


"Ayo sana beristirahat dulu, Ayah mau berangkat jualan ya"


"Ya Ayah hati-hati"


Ayah bersiap dan pergi jualan bakso kelilingnya.


"Semoga laris manis Ayah jualannya, maaf Ayah, aku hanya bisa nyusahin saja"lirihku melihat kepergian Ayah.


Beberapa jam kemudian, rumahku di ketom oleh seseorang.


Tok... tok...


"Kami datang berkunjung Laras" sahut dari luar pintu. Ternyata suara Lusi dan Putri.


"Hey... ada apa?" tanyaku dengan mata menyipit karena maaih tidur.


"Kamu kenapa udah pulang aja di cariin ngak nongol, apa kamu masih sakit?" tanya Lusi khawatir.


Aku menggeleng dan menyerahkan selembar kertas.


"APA!" teriak Lusi dan Putri kaget.


"Kenapa kamu sampai di keluarkan dari kampus? Apa salah mu?" tanya Putri tak mengerti.


"Yang lebih parahnya lagi, mengeluarkan aku adalah Ayah Riko" jelasku sedih.


"APA! Serius! Gila parah emang, kalo orang berkuasa ya kita bisa apa? Tapi gimana donk, nanti kita ngak bakalan bertemu lagi?" ujar Lusi sedih memelukku.


"Udah ngak apa-apa, selagi aku masih tinggal di sini kapanpun kalian bisa kesini" hiburku sambil mengelus punggung Lusi.


"Jadi bagaimana denganmu Laras, apa kamu masih kuliah lagi?" tanya Putri.


"Iya bagaimana... bagaimana donk?" sambung Lusi.


"Aku dan Ayah beaok nyari kampus yang bisa nerima aku, jadi doakan ya semoga aku bisa berkuliah lagi" ujarku.


"Amiin" kata Lusi dan Putri berdoa mengangkat tangannya.


Setiap bertemu kami pun bercanda ria. Mereka adalah penghibur Is The Best.

__ADS_1


Tak terasa hari sudah sore.


"Laras kami pulang dulu, kamu jangan sedih ya, sekalipun kita ngak satu kampus lagi, tapi kita tetaplah Best Friend Forever" kata Lusi mengacungkan jempol.


"Ya kalian hati-hati di jalan jangan mampir lagi" ujarku.


"Mau mampir kemana lagi, kerumah Duren (duda keren)" kata Putri bercanda.


Mereka berdua melambaikan tangan meninggalkan teras rumahku.


Tak lama Ayah pulang dari jualannya itu.


"Ayah lihat ada teman-temanmu datang?" tanya Ayah sambil membereskan jualannya.


"Iya, mereka khawatir kenapa ngak datang ke kampus"kataku menjelaskan.


"Apa Riko datang kerumah juga?" tanya Ayah lagi.


"Tidak" jawabku lagi sambil membatu Ayah.


***


Ke esokkan harinya aku dan ayah mencari kampus untukku, dan syukurnya ada kampus menerimaku karena nilaiku.


"Besok silakan masuk ya pak" kata buk Rahim kepada Ayahku.


"Sekali lagi kami sangat berterima kasih sudah menerima anak kami" kata Ayah.


"Iya sama-sama pak" jawab ibuk Rahim.


"Kalau begitu kami pulang dulu buk" kata Ayah lagi.


"Ya pak hati-hati" jawab buk Rika menganggukkan kepalanya.


Aku dan Ayah pulang dengan hati yang sangat senang. Tak terasa perjalanan pulang sangat melelahkan.


"Istirahatlah besok kamu harus ke kampus, kampus ini jauh dari rumah kita" ujar Ayah.


"Ya Ayah" ucapku langsung masuk ke kamar.Aku tersenyum senang.


"Selamat tinggal kampus yang lama, selamat tinggal Riko, selamat datang kampus yang baru" kataku dalam hati.


"Hay Lusi" sapaku lewat chat.


"Juga Laras" jawab Lusi.


"Ada kabar bahagia" ujarku senang.


"Kabar apa itu?" tanya Lusi penasaran.


"Aku udah di terima di kampus yang baru" kataku senang.


"Ha yang benar, syukurlah" teriak Lusi kegirangan.


Aku yang di terima kok dia yang penuh semangat.


"Aku akan mengabarkan Putri, malam besok ayo kita makan bersama untuk merayakan atas di terimanya kamu masuk ke kampus dan juga, kemaren aku udah janji mau traktir kamu jika kamu sudah sakit" kata Lusi senang.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA TINGGANKAN JEJAK DAN LIKE YA

__ADS_1




__ADS_2