Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Kemarahan Lisa


__ADS_3

"Laras, namamu Laras 'kan?" Tanya seseorang yang suaranya familiar.


Lisa masuk keruangan kosong tersebut.


"Lisa," lirihku menekukan alis.


"Kalian silakan pergi," kata Lisa kepada pria tadi.


"Baik," jawab mereka dan pergi.


"Aku baru pertama kali melihatmu dari dekat, ternyata kamu cantik juga," ujarnya memegang daguku. Aku diam dan menatap ke arahnya.


"Sayangnya kamu tidak sesempurna aku," katanya melepaskan daguku.


"Tapi... apa yang Riko suka darimu, aku lebih dari apa pun darimu, tapi kenapa Riko tidak memilihku, dan malah memilihmu, dan itu semua gara-gara kamu," bentaknya di depan wajahku membuat aku kaget karena teriakkannya yang kencang.


"Kenapa kamu hadir di dalam hidup Riko, di dalam hidup kami berdua, kenapa... kenapa Laras, kenapa kamu harus menjadi orang ketiga dalam hidup kami," teriaknya geram. Aku hanya diam dan hanya melihat ia mondar mandir dan sesekali ia mengacak-acak rambutnya.


"Coba saja jika kamu tidak ada, mungkin aku sudah bersama dengan Riko saat ini, dan kamu sudah mengacaukan segalanya, kenapa kamu menjadi duri dalam hidupku, kamu jahat Laras," teriaknya sambil mengoncangkan tubuhku yang di ikat.


"Kamu tau 'kan, selama ini aku mencintai Riko, dia satu-satunya pria yang aku mau, hanya dia saja, dan sejak aku tau saat Riko sudah punya pacar, hatiku benar-benar sakit, aku rasanya ingin mati saja, tapi untungnya ada perayaan kampus Riko dan aku meminta pada orang tuaku agar mereka meminta Riko untuk menjagaku dan aku bisa bersamanya, waktu igu aku sangat senang sekali, dia yang perhatian dan selalu menemaniku, sayangnya kebersamaan itu tidak berlangsung lama, ketika Riko ingin bertemu denganku, aku berharap ada harapan di sana, tapi sama saja, Riko tetap memilihmu," katanya sambil menangis dan menutup wajahnya.


Aku baru tau, karena cinta mereka bisa gila dan bisa saja menyakiti orang dan dirinya. Sebenarnya aku kasihan dengan Lisa tapi tidak mungkin karena hanya karna kasihan aku merelakan Riko untuknya.

__ADS_1


"Gara-gara kamu, seharusnya Riko mencintaiku, bukan mencintaimu, ini semua salahmu, kenapa kamu tidak pergi saja dan malah menjadi tunangan Riko, kenapa? Kenapa kamu ambil kebahagianku? Kenapa kamu jadi benalu dari hidupku. Aku benci kamu Laras, aku sangat benci kamu." Teriaknya sambil menangis.


"Kenapa Riko memilihmu, apa kurangnya aku, dan apa salahku hingga dia tidak memilihku. Kenapa harus aku yang tersakiti? Kenapa bukan kamu? Kenapa... kenapa orang yang yang sangat aku inginkan malah mencintai orang lain? Kenapa kamu tidak menghilang saja dari dunia ini, agar aku bisa hidup bahagia dengan Riko, iya... jika kamu tidak ada, Riko pasti akan mencintaiku, pasti dia akan kembali padaku," Lisa membelalakkan matanya dan mencekikku. Sepertinya ia seperti kerasukan setan saja.


"Sadar Lisa," teriakku menendang perutnya hingga ia terjatuh. Namun ia bangkit lagi dan mendekatiku.


"Sadar Lisa, Riko sebenarnya tidak mencintaimu, dia tidak mencintaimu," pekikku. Akhirnya Lisa sadar dan ia terdiam sesaat.


"Apa kamu bilang, dia tidak mencintaiku, bukankah selama ini kami selalu bersama dan dia sangat baik denganku?" Tanyanya tak percaya.


"Dia hanya menganggapmu sebagai adik saja, Dia mengatakannya padaku jika dia tidak mencintaimu," jelasku dengan suara yang terengah-engah.


"Tidak mungkin, kamu pasti bohong," pekiknya.


"Kamu pasti bohong, aku tidak percaya itu," teriaknya sambil menutup kedua telinganya.


"Itu semua benar Lisa, hanya kau yang menganggap dia juga mencintaimu," jelasku lagi.


"Itu semua karena kamu, kamu orang ketiga yang sudah merebut Riko dariku," teriaknya.


"Bukan aku orang ketiga, tapi kau Lisa, aku dan Riko sudah di jodohkan sejak kami umur 6 bulan, sayangnya waktu itu ayah dan ibu merantau jauh sehingga ayahku dan Papa Riko kehilangan kontak selana 10 tahun lebih dan sekarang kami baru di pertemukan kembali," jelasku.


"Kamu pasti bohongkan, kamu pasti mengarangkan?" Tanyanya tak percaya.

__ADS_1


"Kau pasti sudah mendengar kalau papa Riko pernah di bantu oleh seseorang waktu mereka masih miskin, dan orang menolongnya dalah ayahku, sejak saat itu kami di jodohkan dari kecil, dan papa Riko ingin membalas budi ayahku dengan memberikan rumah di sampingnya."


"Tidak mungkin... tidak mungkin, apa benar Riko tidak mencintaiku, lalu kenapa ia baik kepadaku, seolah-olah, aku melihat ia memberi harapan padaku," katanya terduduk di lantai.


"Kau yang sebenarnya orang ketiga dalam hubungan kami, apa kau tau bagaimana sakitnya aku ketika Riko tidak memperdulikanku waktu itu, dan dia hanya peduli denganmu, aku sangat membencimu waktu itu, mati rasanya hatiku ini, dia tunanganku malah berjalan dengan perempuan lain, kau adalah benalu yang sebenarnya, apa kau pikir bisa memisahkan kami, bukan kau yang menentukan hubungan kami, tapi Tuhan," ujarku memprovokasinya.


Ia menangis sesengukan dan menutup wajahnya.


"Lebih baik kami cari kehidupan yang baru, mengharap sesuatu yang bukan milikmu itu tidak ada gunanya, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, cinta tak bisa di paksakan. Mungkin jika Riko tidak mencintaiku lagi, aku sudah mengiklaskan dengan orang lain, sekuat apa pun kau berjuang jika itu bukan milikmu ia akan pergi dan menjauh, jika tetap kau paksakan itu kau akan terluka, ikhlas adalah jalan yang terbaik meskipun itu sakit, suatu saat nanti Tuhan pasti mengirimi kebahagian yang tak pernah kau sangka-sangka," nasehatku.


Lisa mendekatiku dan duduk di depan kakiku.


"Laras kau orang yang bisa iklas, jadi lepaskan Riko untukku, aku rela membayar mahal untuk semua ini," ujarnya memohon.


"Jika aku melepaskannya apa dia mau melepaskanku? Itu bisa saja akan menyakiti dia Lisa. Mungkin kau bahagia bisa bersamanya, namun dia tidak, apa gunanya? Tuhan sudah mengatur hati orang masing-masing dengan kebahagiaannya sendiri, jangan kau ambil paksa kebahagian orang tersebut. Jika kau ingin melihatnya bahagia, biarkan dia bahagia di tempat yang seharusnya ia bahagia, dan kau bisa memilih jalan sendiri dan mencari kebahgiaanmu," nasehatku panjang lebar.


"Tapi di sini aku yang tersakiti," ujarnya sambil menagis.


"Lisa, setiap orang punya kebahagian masing-masing dan kau juga punya, tapi hanya belum saatnya, saat ini kau hanya mencintai jodoh orang, dan meskipun aku sudah bertunagan dengan Riko belum tentu dia jodohku, bisa saja orang lain dan kau ingin merebutnya? Biarkan berjalan dengan alurnya sendiri, kau juga akan menemukan pilihan hatimu sendiri nanti," ujarku agar Lisa sadar dengan pikirannya saat ini.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2