
Sesampainya di hotel, kami mempersiapkan ruangan dan meletakan cctv dan perekam suara. Kami berkumpul di suatu tempat untuk memonitorkan apa saja nanti yang di lakukan Riko dan Lisa.
"Semuanya sip," kata Radit mengacungkan jempol.
"Oke, telpon Lisa sekarang," perintahku kepada Riko.
Riko segera menelpon Lisa dan mengshare lokasinya.
20 menit kami menunggu, akhirnya ia datang juga.
"Riko, sudah lama?" Tanya Lisa basa basi.
"Belum lama," jawab Riko tersenyum.
"Ayo duduk," ajak Riko.
"Ya terima kasih," kata Lisa tersenyum.
"Kamu mau makan apa?"
"Apa aja yang penting kamu suka," kata Lisa tersenyum lagi.
"Yang aku suka?" Tanya Riko tak mengerti.
"Riko, awas saja kamu nanti ya jika mengatakan makanan kesukaanmu," kataku geram.
"Oh ya, aku suka makan nasi goreng spesial," kata Riko ketika mengingat kesukaanku.
"Aku juga," kata Lisa ikutan.
"Hiih! Perempuan menyebalkan," gerutuku.
Tak lama makanan sampai.
"Ayo di makan dulu," Kata Riko.
Aku hanya manyum melihat monitor.
"Kamu ada suka dengan seseorang?" Tanya Riko mancing sambil melahap makanannya.
"Ada."
"Siapa?"
"Aku... ingin mengatakannya, tapi sayangnya dia belum jadi milikku."
"Terus kalo udah jadi milikmu, baru kamu mengatakannya?"
"Kalo udah jadi, ngak perlu di katakan sih."
__ADS_1
"Terus kapan jadianya?"
"Masih di perjuangkan," kata Lisa.
"Memperjuangkan apa? milik orang kok mau di perjuangkan," omelku tak terima.
"Oh, kamu ngak mau jujur sama aku?"
"Mau sih, tapi...."
"Udah, kamu tinggal ngomong aja."
"Sebenarnya aku menyukaimu Riko," jujur Lisa.
"Ha? Kenapa kamu menyukaiku?"
"Aku suka kamu karena kamu tak hanya ganteng, kamu juga baik, contohnya kamu jagain aku waktu pertandingan di kampus, kamu jug perhatian Riko. Apa kamu tak punya perasaan denganku Riko? Sebelum kamu kenal dengan dia, awalnya kita memang sudah bersama, lalu kenapa kamu malah memilih dia di bandingkan aku, apa kurangnya aku Riko?" Tanya Lisa memegang tangan Riko, namun Riko melepaskan tangannya.
"Kamu memang tak punya kekurangan apa pun, mungkin jika aku tak bertemu dengannya, bisa saja aku menyukaimu, namun Tuhan mengirim dia untukku, dia bagaikan malaikat bagiku, jadi aku tidak bisa melepaskannya," kata Riko.
"Jadi begitu ya, aku bahkan tidak sebanding dengannya," kata Lisa sedih.
"Tapi masih ada yang mencintaimu denga tulus, mungkin cuma belum datang," ujar Riko menghibur.
"Tak ada yang sepertimu Riko," ujar Lisa cepat.
Riko diam sesaat, lalu berkata. "jika kau menyukaiku, tapi kenapa kamu malah ingin menghancurkan hubunganku dengan Laras?" Tanya Riko pelan.
"Jika kau mencintai seseorang seharusnya kau bahagia, apa bila orang itu juga bahagia, meskipun ia bersama orang lain," jelas Riko.
Lisa terdiam sambil mengigit bibirnya.
"Tapi dari mana kamu tau jika aku mau menghancurkan hubunganmu?" Tanya Lisa pelan.
"Waktu itu Laras melihat chat seseorang yang memprovokator hubunganku dan dia, jadi ia mencari tahu orang tersebut," jelas Riko.
"Dia sangat mencintaimu," kata Lisa tersenyum yang di paksakan.
"Sebenarnya aku merasa bersalah sekali demgan Laras karena sudah mengabaikannya, dan entah kompensasi apa yang harus ku berikan sebagai pengganti maafku, karena jika hanya kata maaf saja tidak cukup," kata Riko megengam tangannya sendiri.
"Sepertinya memang tak ada kesempatan lagi untukku," ujar Lisa tersenyum getir.
"Maaf Lisa, hatiku hanya untuk dia," kata Riko pelan.
Lisa terdiam menundukan kepalanya.
"Sayang sekali ya, orang secantikku malah patah hati, hanya cinta bertepuk sebelah tangan, padahala aku sudah menata rumahku jika suatu saat nanti aku hidup bersamamu nanti. Sayangnya ruangan itu malah kosong seperti hatiku," ujar Lisa tersenyum getir.
Riko hanya diam.
__ADS_1
"Tapi Riko, aku takkan berhenti sampai di sini, aku akan terus mencintaimu dan terus berjuang untuk mendapatkan cintamu," kata Lisa mantap.
"Lisa, lebih baik kamu menyerah dari sekarang dari pada kamu terluka, dan aku tak mau melakukan kesalahan yang sama," kata Riko mematahkan semangat Lisa.
Lisa terdiam menundukan kepala dengan mata yang berkaca-kaca.
Sebenarnya aku juga kasihan melihat Lisa seperti itu, tapi dia juga salah, berani mencintai berarti juga berani sakit hati.
"Baiklah Riko terima kasih atas makanannya, aku akan mengingat ini, selamat tinggal," kata Lisa mengambil tasnya dan pergi dengan air mata yang berlinang.
"Cut cut, dramanya sudah selesai," ujar Radit membuyarkan suasana yang menyedihkan.
Kami pun masuk keruangan tersebut. Riko melihatku dan langsung memelukku.
"Kamu kenapa?" Tanyaku heran.
"Setelah di pikir-pikir, aku ternyata benar-benar mencintaimu," katanya mempererat pelukannya.
Aku memutar bola mataku. "Berapa lama lagi kau akan memelukku, dan ini bukan pelukan sayang, ini sangat erat, apa kau ingin membunuhku lalu pergi bersama Lisa," kata sambil meringgis.
"Jika kamu mati, aku juga akan mati bersamamu," katanya.
"Gombal, terus tadi kamu bilang jika tidak bertemu denganku, mungkin kamu menyukai dia 'kan? Bukannya kamu dulu memintaku menjadi pacar bayaranmu, agar Lisa tidak berharap," ujarku setengah marah.
"Itu hanya basa basi sayang, hanya pribahasa," ujar Riko membela diri.
"Kamu ngomong begitu, seolah-olah aku malah jadi orang ketiga karena kehadiranku, jika tidak, kalian sudah berbahagia hingga anak cucu," ujarku mencibir.
"Maaf maaf, aku salah bicara tadi," ucapnya mengengam tangan kiriku.
"Udah ah, aku lapar melihat pertunjukan kalian tadi," ujarku manyun.
"Oke kamu mau makan apa?" Tanya Riko.
"Aku mau makan yang berat-berat untuk menambah staminaku," ujarku.
"Meli, pesan batu 5 kg," kata Riko kepada pegawainya.
"Apaan kamu," ujarku membelalakan mata.
"Tapi katamu mau makan yang berat-berat?" Tanyanya bercanda.
"Kamu kok ngeselin bangat sih, aku tu mau makan daging," ujarku sewot.
"Ya udah pesan Steak sapi," pesan Riko.
"Aku juga, aku harus punya tenaga karena sekian lama di ruangan tadi aku harus mengisi kembali energiku," kata Lusi.
"Yang lain?" Tanya Meli.
__ADS_1
"Sama aja semuanya," sahut Ari.
"Baiklah Tuan, Nona, kami akan menyiapkannya dulu," ujar Meli mengundurkan diri.