
"Rino apa yang telah kamu lakukan?" Tanya pak Kim dengan nada tinggi.
"Aku tidak melakukan apapun padanya Om, sumpah!" Kata Rino mengangkat tangan.
"Kamu jangan bohong!" Teriak pak Kim lagi yang ingin mengapar Rino tapi di tahan oleh Ayah.
"Cukup Kim, apa kamu pikir main tangan bisa menyelesaikan masalah, bicaralah baik-baik," Ayah balik berteriak, akhirnya pak Kim mereda.
"Sumpah Om, aku tidak melakukan apapun padanya, meskipun aku nakal, tapi aku tak berani menyentuh teman perempuanku, aku tidak tau anak siapa yang ada di perut Mona," ujar Rino menyakinkan.
"Mona, kamu harus jujur, anak siapa yang ada di perutmu?" Tanya pak Kim mengeram.
Mona langsung menagis histeris, menutup wajahnya.
"Ini anak Rino Om," ujar Mona menangis.
"Kamu jujur Mona!" Bentak Pak Kim.
"Iya Om, ini anak Rino, aku berani bersumpah, jika aku bohong aku akan keguguran," jawab Mona yang masih menangis.
"Om dia berbohong, demi Tuhan aku tidak pernah menyentuhnya," teriak Rino histeris.
"Rino apa maksudmu, ini anakmu, kamu jangan lepas tanggung jawab begitu saja," pekik Mona.
"Rino, paman rasa tak masalah ini anakmu tapi kenapa kamu tak mengakuinya?" Tanya Ayah dengan hati dingin mewakili pak Kim.
"Tapi beneran paman, Rino tidak pernah melakukannya pada Mona atau teman perempuan Rino lainnya, Rino di jebak waktu itu, dia sengaja menyuruh Rino kehotel utuk menjemputnya karena dia sakit, itu saja, dan Rino tak tau itu jebakan untuk Rino," Jelas Rino membabi buta. Aku hanya bisa diam saja melihat pertengkaran mereka, aku percaya apa yang di ucapkan Rino itu benar, dia tidak bersalah, malah dia jadi kambing hitamnya.
"Jika tidak percaya mari kita tes DNA," ujar Rino membuat kami terdiam.
"Rino ini anak kamu, kenapa kamu tidak mempercayaianya, bahkan kamu ingin tes DNA, apa kamu sudah membuat kesalahan tapi tidak berani bertanggung jawab," teriak Mona mengoyang-goyangkan tubuh Rino.
"Heh! Kenapa kamu takut?" Tanya Rino menatap tajam Mona. "Jika ini anakku, aku bertanggung jawab, jika bukan kamu akan merasakan akibatnya karena sudah menjebakku," sambungnya lagi.
"Rino" teriak Mona karena Rino langsung ke ruangan tes DNA.
"Permisi pak Dokter, saya ingin tanya? Kapan bisa melakukan tes DNA?" Tanya Rino tanpa basa basi saat melihat Dokter yang duduk di kursi kerjanya.
"Hm... itu bisa di lakukan pada usia kandungan 10-18 minggu dengan mengambil sampel DNA dari cairan ketuban dan jaringan plasenta, namun pemeriksaan ini beresiko menyebabkan keguguran," jelas Dokter tersebut.
"Jadi kapan waktu terbaik untum melakukannya agar tidak terjadi keguguran?" Tanya Rino hati-hati.
"Setelah bayi di lahirkan lebih bagus melakukan tesnya," ujar Dokter itu tersenyum.
"Itu sangat lama Dokter, baiklah saya akan menunggu 18 minggu kandungannya, karena sekarang dia sudah hamil 8 minggu, saya akan bersabar menunggunya agar tidak terjadi apapun pada bayinya," ujar Rino bersabar.
Dokter itu mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih Dokter atas penjelasannya, saya pergi dulu, permisi," kata Rino sopan.
"Silakan," ujar Dokter itu melanjukan pekerjaannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Riko setelah melihat Rino datang.
"Saya sudah menanyakan 10 minggu kandungan sudah bisa di tes DNA, namun aku mengambil jalan tengah 18 minggu kandungan kita kesini lagi, jika menunggu bayinya lahir itu sangat lama, jadi aku ngambil jalan tengahnya," ujar Rino menjelaskan.
"Apa kamu tega Rino melakukannya pada anakmu sendiri," teriak Mona.
"Kamu tanyakan pada hatimu, kenapa kamu tega menjadikan aku Ayah pengganti dari anakmu dengan laki-laki lain," balas Rino menunjuk perut Mona. Mona terdiam sambil menangis, memeluk perutnya.
"Baiklah seperti itu, kita pulang karena ini sudah malam," ujar pak Kim yang sudah mereda.
Sangat melelahkan. Akhirnya kami pulang menuju rumah pak Kim.
"Jhoni, tidur di rumah barumu saja malam ini, kalo ada kekurangan apapun kamu bilang saja pada saya," ujar pak Kim.
"Tidak perlulah Kim, saya pulang saja," ujar bapak menolak.
"Jangan begitu Jhoni, ayo, ayo," kata pak Kim menarik tangan Ayah. Aku tersenyum melihat mereka, mereka seperti pertemanan di masa kecil.
"Ayo ikut mereka," kata Riko menarik tanganku.
Pak Kim menyuruh pengawalnya membuka pintu untuk melihat isi dalamnya.
dan kami masuk kekamar tidur
mewah banget, dinginnya AC menusuk tubuh.
"Adaptasi dulu di sini, semoga kamu betah dengan Laras, ya sudah saya pulang dulu, makanan sudah di sediakan di kulkas jika kamu lapar," ujar pak Kim menepuk pundak Ayah.
"Papa, aku tidur di sini ya," celetuk Riko.
"Kamu... pulang kerumahmu, jangan ganggu mereka tidur," sergah Pak Kim.
"Papa, plis...," rengek Riko.
"Tidak, pulang kamu," ujar pak Kim menarik kerah kemeja Riko. Aku tersenyum melihatnya di tarik Ayahnya. Dan tak lupa sebelum keluar dari pintu utama dia melambaikan tangan dan Kissbye, aku membalas lambaian tangannya.
"Ayah nyaman disini?" Tanyaku sambil membuka kulkas melihat apa isinya.
__ADS_1
"Wooow... mereka ini apa memindahkan supermarket kerumah?" Tanyaku binggung melihat makanan dan minum seperti berbelanja di rumah sendiri.
"Jika seperti ini, hingga tahun depan masih tersisa," Ujar Ayah.
"Yeeee... itukan kalo cuma di tengok doank, kalo aku yang duduk di depan ini terus bakan habis kok," ujarku bangga.
"Ya jika kamu tidak takut jadi babi gendut," celetuk Ayah mengejekku.
"Ih... Ayah, tega banget si ngomongi anaknya sendiri," ujarku manyun.
"Ya terserah kamu, ayah mau ngecek kamar mandinya dulu," ujar Ayah langsung nyelonong pergi meninggalkan aku yang menatap makanan denfan mata berbinar-binar.
"Waaaw... ini kamar mandinya lebih cantik dari rumah kita nduk," Teriak Ayah.
"Ya sudahlah, Ayah nikmati kamar mandinya, aku mau menikmati makanannya dulu," kataku sambil mengunyah apel dan minum susu.
Perut kenyang, hati senang, aku memilih salah satu kamar untuk beristirahat.
"Pilih yang mana ya?" Tanyaku memukul-mukul daguku dengan jari telunjuk.
"Hehehe... yang ini aja deh," ujarku ketika melihat kamar yang indah. Aku masuk kedalam kamar dan memperhatikan setiap detil isi kamarnya, yah orang kaya emang beda, bisa mendesain kamar sendiri, sesuai keinginannya dan bahan yang berkwalitas tinggi.
Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur yang super empuk, wahhh... enak banget, yeee... kalian juga mau 'kan?
Aku memeluk bantal guling empuk dan tidur dengan tersenyum, semoga hari esok datang dengan hari yang baik.
"Ayah, mana Laras?" Tanya Riko datang tanpa sepengrtahuan Papanya.
"Udah tidur," jawab Ayah yang masih duduk di kursi tamu.
"Dia di kamar mana?" Tanya Riko tanpa malu-malu.
"Kamu mau ngapai?" tukas Ayah.
"Ngak ada, mau ketemu Laras, sambil ngobrol sama Ayah," ujarnya lagi.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1
TERIMA KASIH.