
"Siapa?" Tanya Radit.
"Cari ajalah," perintah Lusi.
"Baiklah," jawa Radit.
"Nih Riko, papamu 'kan punya koneksi, cari ID nih orang," kata Radit melemparkan ponselnya kedepan Riko.
"Kenapa nyari orang ini?" Tanya Riko memegang ponsel tersebut dan mengeceknya.
"Ngak tau, cari saja," ujar Radit.
Riko menelpon para pengawal papanya untuk mencari orang misterius tersebut.
Tuuut...
Tuut...
Tuuut...
"Telpon dari papa," ujar Riko ketika melihat nama layar di ponselnya.
"Halo Pa," jawab Riko.
"Ke rumah Papa sekarang," perintah pak Kim.
"Baiklah," jawab Riko.
"Aku kerumah papa, kalian mau ikut?" Tanya Riko berdiri.
"Ya udah ayo," jawab Radit dan Ari. Mereka berangkat menuju rumah papa Riko.
Aku melihat mobil Riko yang langsung berhenti di depan rumah pak Kim.
"Ada apa Pa?" Tanya Riko saat sudah masuk kerumah.
"Ini Papa dapat foto ini, maksudnya apa?" Tanya pak Kim mengintrogasi Riko.
Apa lagi, itu foto Riko dan Lisa bergandengan tangan.
"Pa, Riko bisa jelasin, ini sebenarnya yang kalian lihat bukan seperti di foto ini Pa, ini Riko saja tidak sadar kapan Lisa mengandeng tangan Riko, Riko benar-benar ngak tau," jelas Riko berusaha membenarkan
"Papa sudah cek, ini foto ngak ada rekayasa atau di edit, dan ini asli," ujar pak Kim mulai gusar.
"Iya tapi... Riko benar-benar ngak tau Pa, kapan Lisa mengandeng tangan Riko, Riko ngak sadar," jelas Riko lagi.
__ADS_1
"Ngak sadar? Jelas-jelas kamu dalam keadaan berjalan, kecuali kamu tertidur, mungkin Papa maklumi. Riko kamu jangan bikin malu Papa, Papa bisa saja menghajarmu, tapi mengingat nasehat dari Ayah Laras, makanya Papa ngak mau lagi melakukan kekerasan," ujar pak Kim menahan emosinya.
Riko terdiam.
"Papa tanya sekali lagi, untuk apa kamu melakukan ini?" Tanya pak Kim tegas.
"Ngak ada maksud apa-apa Pa, Riko hanya menjaganya seperti yang di perintahkan orang tua Lisa dan Mama," jelas Riko.
Pak Kim memandang kearah Mama Riko.
"Aku suruh menjaganya bukan menyuruhmu menjadi baby sisternya. Maksudnya lihat-lihat saja, anggap dia seperti adikmu, dan kamu juga bisa membiarkan Lisa bermain bersama Laras dan teman-temannya, masa gitu saja kamu ngak ngerti," jawab Mama Riko.
"Dan juga kamu menyuruh pengawal Pspa buat cari orang kenapa?" Tanya pak Kim.
"Maaf Om, itu aku yang memintanya," jawabku.
"Laras minta maaf Om, ada seseorang yang memprovokasi hubungan aku dan Riko, jadi dia menantang jika ID-nya tidak bisa di temukan, jadi aku jika bertemu dengannya aku ingin bertanya maksud dan tujuannya memecahkan hubungan aku dan Riko," jelasku.
"Kamu lihat, kamu lihat Laras, dia bahkan lebih memikirkan hubungan kalian kedepannya dan kamu malah bermesraan di saat kamu punya tunangan, belajar dari Laras. Laras Papa serahkan Riko padamu, ajari dia baik-baik," pesan pak Kim.
Aku mengangguk menerima mandat dari pak Kim.
"Riko, jika Papa bertenu lagi seperti ini, hiduplah kamu sendiri jadi gelandangan, akan Papa tarik semua yang sudah Papa berikan," ancam pak Kim.
"Iya Pa, tak ada lain kali," jawab Riko.
Kami pun keluar dari rumah papa Riko dan hendak menuju rumah masing-masing.
Riko menghampiriku.
"Laras," Lirihnya.
Aku diam.
Riko memegang tanganku.
"Maafkan aku Laras, aku ngak peka selama ini, dan malah menyakiti perasaanmu. Aku janji yang akan mengulangi lagi," ujarnya berharap.
"Jangan berjanji padaku, tapi berjanjilah dengan dirimu sendiri," jawabku.
"Iya, aku berjanji denganku sendiri Laras, aku tidak akan mengulangi lagi, kamu mau maafin aku 'kan?" Tanyanya menatap wajahku.
Aku diam kembali. Jika di bilang sakit ini masih ada dan aku tak ingin memaafkannya, tapi ia sudah berjanji tidak akan mengulangi lagi. Ku beri kesempatan sekali lagi.
"Baiklah aku maafkan," jawabku meski dengan wajah datar.
__ADS_1
"Makasih sayang, aku janji tidak akan mengulangi lagi dan berjanji akan setia denganmu, setia sampai mati," teriaknya memelukku kesenangan.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Halo," jawab Riko.
"Kami sudah menemukan orangnya Tuan muda," ujar salah satu pengawalnya.
"Bagus, di mana kalian sekarang?" Tanya Riko.
"Kami sedang di dalam mobil menuju rumah Tuan muda," jawab pengawal itu.
"Baiklah," jawab Riko menutup panggilan tersebut.
"Ayo ke rumahku sekarang," ajak Riko kepada teman-temannya.
"Ngapain?" Tanya Ari.
"Orangnya sudah di temukan," ujar Riko menarik tanganku masuk ke mobilnya.
Sekitar 2 jam kami menunggu di rumah Riko.
Akhirnya sampai juga para pengawal di depan rumah Riko dan para pengawal itu membawa orang misterius tersebut masuk ke rumah Riko.
Aku tak menyangka jika dia adalah seorang perempuan.
Pengawal itu mendudukkan perempuan itu sofa di depan kami.
"Kamu yang melakukannya?" Tanya Riko mengintrogasi.
Dia diam namun menatap tajam ke arah kami.
"Kamu diam berarti benar. Untuk apa kamu melakukannya, apa ada keuntungan yang kamu dapatkan?" Tanya Riko lagi. Namun ia tetap diam.
"Kamu tidak mau menjawabnya? Meskipun kami melepaskanmu aku tidak menjamin hari-harimu akan melewati hidup aman," ancam Riko secara halus.
Perempuan itu tetap diam tak berani menjawab.
"Waktu di media sosial waktu itu, kamu menantangku untuk mencarimu, aku sudah bilang padamu jika aku menemukan ID mu akan habis kamu, dan kau menulis status mengatakan jika aku pengecut," kataku menganggkat alis dan menopang dagu di tanganku.
"Jadi itu adalah kamu," teriaknya tak percaya.
__ADS_1
"Kau membuat masalah dengan orang salah Queen Ratu," ujarku layaknya detektif.