
"Makanya, makan jangan terlalu rakus" kata Riko menyindirku.
Riko pun membondongku naik ke mobilnya, dan memasang sabuk pengaman untukku, aku sedikit luluh karena kebaikannya, dan ia pun menaiki mobilnya dan mulai meluncur di jalan.
Aku seperti melupakan sesuatu, tapi... apa ya?
Setelah melihat jari Riko yang luka kugigit tadi barulah aku mengingatnya.
"Riko ayo mampir di apotik sebentar" ujarku.
"Kenapa? Kamu mau beli obat pencahar?" Tanyanya.
"Eh... i... iya" jawabku gugup, iya juga ya, aku juga harus beli obat pencahar dan obat untuk lukanya.
Setelah sampai di apotik.
"Udah kamu di sini saja, biar aku yang beli" katanya sambil membuka pintu mobilnya.
"Oh ya jangan lupa beli obat luka?" kataku mengingatkannya.
"Untuk apa?" Tanya Riko heran.
"Jangan banyak tanya, beli ajalah" kataku sambil meyuruhnya cepat pergi.
Aku tersenyum, di baliknya yang jail, ternyata dia baik juga, tapi kenapa dia baik padaku? Alah palingan dia udah terlalu capek mengerjaiku.
Selesai Riko membeli obat, ia pun kembali dan masuk mobilnya.
"Nih" Riko menyodorkan obatnya kepadaku.
Aku meraihnya, dan Riko pun hendak melajukan mobilnya kembali.
"Eppp, tunggu sebentar" kataku memegang tangannya. Ia melirik kearah tangannya yang kupegang.
"Ada apa?"tanyanya mengangkat alisnya.
"Sini tanganmu dulu yang luka tadi" aku memegang tangannya dan mulai mengobati lukanya.
Ia menarik tangannya karena pedih. "Aduh!" jeritnya.
"Ih... lebai amat sih lu, laki ngak lu" kataku memberi obat luka dan membalutnya dengan kain kasa.
"Heh, kalo sakit emang bisa bedain Laki-laki dan perempuan apa? Lagiankan yang gigit macam tutul" jawabnya nyengir.
"Apa kamu bilang" aku menarik tangannya yang sakit dan memencet lukanya tadi.
"Aduh... duh...duh, sakit sakit sakit, udah lepasin" katanya meringgis kesakitan.
"Emang kamu ya kayak maknya macan tutul" katanya mengataiku dan langsung menginjak pedal gas agar aku tidak ngoceh lagi.
"Ehhhhh... brengsek lu, udah pelankannnnnn" jeritku ketakutan.
"Makanya kamu yang nurut, jadi cewek kok galak bener" ujarnya sambil memelankan mobilnya.
"Yang bikin aku galakkan kamu, coba kamu kayak kak Doni yang lembut, 'kan bisa aku jatuh cinta" kataku manyun.
"Oh jadi kamu jatuh cinta dengannya?" Tanyanya
__ADS_1
"Kenapa kamu? Kalo iya kenapa?" Tanyaku nantang.
"Ngak ada" jawabnya langsung Lowdown.
Heh, aku pikir dia bakalan balapan lagi, atau menurunkanku di jalanan, tapi dia hanya terdiam di sepanjang jalan, ngak seperti biasanya dia mengalah seperti ini.
Tak terasa hari sudah berwarna jingga, ketika itu kami sampai di depan rumahku, dia memberhentikan mobilnya, aku pun turun.
"Eh laras ini bungkusanmu tadi" kata Riko menyerahkan makanan yang sempat ia bungkus tadi.
"Terima kasih" jawabku singkat.
"Semoga kamu tidak jadi babi gendut habis memakannya hahahaha" setelah mengataiku ia langsung melajukan mobilnya dengan kencang.
"Kurang ajar kau Rikooooo" teriakku kesal.
"Apa sehari saja tidak mengataiku babi apa belum sah dia hidup di muka ini apa?" Jawabku jengkel.
Aku masuk ke perkarangan rumah dan Ayah sudah ada di depan teras rumah.
"Kenapa baru pulang laras?" Tanya Ayah khawatir.
"Maaf Ayah, keasyikan main tadi yah ngak sempat ngabari" kataku bersalah.
"Ya sudah lain kali jangan kayak gitu lagi ya, kalo telat pulang kasih kabar" Ujar Ayah.
"Ya Ayah maaf"
"Itu apa di tangan mu?" Tanya ayah melirik yang aku pegang.
"Oh ini di bungkus sama Riko makanan restoran tadi, ayo makan Ayah" ajakku.
"Enak, kapan ya Laras kita pergi kerestoran meski cuma sekali" kata Ayah membuatku sedih.
Aku terdiam sambil tersenyum saja, aku juga penasaran kapan aku akan membawa ayah makan di restoran.
"Oh ya, Ayah akan kumpulkan hasil jual bakso ayah bagaimana? Setelah cukup mari kita pergi bersama" kata Ayah, lagi-lagi membuatku sedih.
"Kenapa kamu ngak makan laras?" Tanya Ayah, ketika melihat aku temangu.
"Sudah Ayah, aku sudah makan tadi, habiskan saja jika bisa Ayah menghabiskannya" ujarku.
"Eh beneran ini Laras" kata Ayah tak bersemangat.
"Iya Ayah, habiskan saja, Laras juga udah makan banyak tadi" kataku menyakinkan.
"Kalo gitu Ayah habiskan ya, jarang-jarang makan makanan restoran begini" kata Ayah senang.
"ya udah Yah aku mau istrihat dulu ya"
"Ya" jawab Ayah singkat sambil melahap makanannya.
Aku masuk kamarku dan menghempaskan diriku di kasur.
"Apa aku minjam uang ke Riko untuk membawa Ayah kerestoran?" Tanyaku dalam hati.
"Apa aku cari pekerjaan paruh waktu kayak dulu lagi, tapi Ayah pasti tidak mengizinkannya lagi takut kuliahku terganggu, tapi kalau selesai kuliah dan mendapat pekerjaan bakalan lama lagi, harus cari uang di mana aku?"
__ADS_1
Akupun mengambil gawai di tasku, mencari nomor temanku.
"Lusi ada lowongan pekerjaan ngak?" Tanyaku.
"Ada nih gajinya mahal juga" jawabnya.
"Ah beneran kerja apaan?" Tanyaku bersemangat.
"Nungguin macan bertelur" jawabnya ngasal.
"Eehh, becanda aja lu, mana ada macan bertelur, lagi serius ni" kataku serius
"Kenapa kamu nyari kerjaan, nanti ngak di bolehin ma Ayahmu" ujarnya.
"Ya jangan sampai tau lah, yang penting jangan pulang malam lah" kataku serius.
"Oke kita bahas besok di kampus oke!" katanya lagi.
"Oke Thanks" ucapku.
"Eh Laras, akhir-akhir ini kamu dekat banget sama Riko, bahkan ada yang mengatakan kalian pacaran lho" tanya Lusi penasaran.
"Ah masa? Siapa yang bilang?" Tanyaku penasaran
"Anak-anak kampuslah" katanya menyakinkan.
"Mereka 'kan pada tau aku cuma asistennya" ujarku.
"Meneketehek, tau tuh rumor dari mana" kata Lusi mengangkat bahunya.
"Ya udah deh ngak usah di pedulikan, abaikan aja mereka" kataku ke Lusi agar tidak khawatir.
"Aku malah iri sama kamu tau, kamu bisa deket sama dia, huhuhu sang idolaku dekat sama sahabatku yang sebentar lagi mereka akan teman"
"Hey apa maksud mu, aku mah ogah dekat sama dia, karena hutang itu aku tak bisa lari dari kenyataan huhuhu" jawabku sedih.
"Oh ya emang berapaan lagi hutang mu?" Tanya Lusi penasaran.
"Ngak tau, ngak kucatat" jawabku enteng.
"Yeee... nanti malah di tambah tambahinya hutangmu" katanya mengingatkanku.
"Emang dari awal dia hanya mempermainkanku, hutang bukan alasan lagi, aku akan ikut bermain sampai selesai" jawabku pasti.
"Ya udah deh, kalau begitu untuk apa kamu kerja paruh waktu?" Tanyanya penasaran.
"Aku ingin mengajaknya Ayah makan di restoran" jawabku.
"Ha... masa iya mau ngajaknya makan di restoran pake kerja paruh waktu, 'kan uangnya bakan berlebih kalau kerjanya lama"
"Iya, sekalian bantu uang kuliahku juga, kasian Ayah, selama ini dia hanya jualan terus, tanpa harus mementingkan dirinya sendiri" jawabku kasihan.
"Iya juga sih" kata Lusi mengiyakan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1