
Sekitar 20 menit kami menunggu, akhirnya sampai juga makanannya. Aku mengambil bagianku dan melahapnya.
xxx
Hari ini aku mengunjungi rumah Mona, entah apa yang membawaku ke sana. Hanya tiba-tiba saja ingin melihat keadaannya.
"Permisi," salamku dari luar pintu.
"Ya, jawab dari dalam rumah.
Pintupun terbuka.
"Laras," lirih Mona.
"Kamu apa kabar?" Tanyaku canggung.
"Aku baik-baik saja, kita duduk di sana saja," ajaknya di suatu taman di samping rumahnya. Di sini memang sangat damai.
"Kamu tunggu di sini, aku buatkan minumannya," katanya.
Aku mengangguk tersenyum.
Tak lama ia datang membawa 2 gelas berisi minuman.
"Ayo di minum," ujarnya. Aku melihat di tangannya ada bekas seperti memar sayangnya dia pakai baju panjang jadi tidak terlihat.
"Kamu apa kabar?" Tanyanya balik.
"Kau baik-baik saja," ujarku tersenyum. "Oh ya, ini aku bawakan sesuatu," kataku menyerahkan bingkisan.
"Kamu kok repot-repot kesini malah bawa sesuatu lagi," katanya menerima pemberianku.
"Udah ngak apa-apa, wah... apa kabar adek," kataku memegang perut Mona. Mona tersenyum.
"Tapi ngomong-ngomong di mana suamimu?" Tanyaku.
"Ngak tau tiba-tiba aja ngilang," jawab Mona.
"Mona, jika aku boleh tau, apa ada terjadi sesuatu denganmu? Aku punya firasat yang tidak enak, makanya aku datang melihatmu," Ujarku menjelaskan kedatanganku.
Mona diam tak menjawab, ia menundukan kepala. Aku melihat di wajahnya, sepertinya dia sangat sedih.
"Kau bisa berbagi cerita denganku, jangan kau simpan sendiri, apa lagi saat ini kau hamil Mona, nanti terpengaruh dengan bayimu," ujarku menasehati.
Mona ingin menangis, namun ia tahan. Aku memeluknya agar ia merasa ada seseorang yang peduli dengannya.
"Aku... di pukul oleh Deri kemarin malam," ujarnya pelan. "Ini bekas memarnya," sambingnya sambil memperlihat memar di tangannya.
Aku memegang tangannya dan melihat memar tersebut.
__ADS_1
"Mona, apa ada terjad sesuatu dengan dia atau denganmu, sehingga dia memukulmu?" Tanyaku pelan.
Mona menunduk dan menganggukan kepala.
"Ada masalah apa?" Tanyaku pelan.
"Ia... memukulku bukan karena hal besar, itu hanya karena aku ngidam buah blueberry, dan aku ingin dia mencarikannya untukku, tapi di marah-marah denganku, aku mengatakan ini demi anaknya, tapi dia tetap marah lalu memukulku," jelasnya.
Aku melihat luka lebam di tangan dan Mona juga menunjukan lebam di lengan kirinya.
Aku terdiam, sungguh kasihan Mona, namun ia masih bisa menutupi deritanya.
"Apa kau mencintai Deri?"
"Entahlah, aku tak mengerti dengan perasaanku, terkadang aku sangat membencinya, terkadang aku juga kasihan, tapi juga ingin rasanya lebih baik berpisah dengannya, ini adalah kedua kalinya dia memukulku, dulu ia menamparku dan sekarang memukulku, jadi menurutmu aku harus apa Laras?" Tanyanya meminta pendapatku.
"Kau di tentukan oleh pilihan yang sulit Mona, perpisahan sebenarnya bukan jalan yang terbaik, namun jika bertahan kamu malah menderita, mantapkan hatimu dulu, dan kita akan cari jalan keluarnya," ujarku memberinya pendapat.
Mona mengangguk sambil mengigit bibirnya.
"Mona, apa Ibumu tau?" Tanyaku lagi.
"Tidak, aku menyembunyikannya, aku tak mau orang lain tau," jawabnya sambil melihat luka di tangannya.
"Mona, kamu sungguh baik sekali, jika begini, sama saja kau menyimpan aib suamimu, tapi Mona, kasihanilah dirimu dan juga bayi dalam kandunganmu, kau harus punya orang terdekat untuk melepaskan semua lelahmu, aku siap menjadi temanmu, jika kau butuh apa pun katakan saja, kau ngak bisa terus menyimpan deritamu dari orang lain, kau mengertikan maksudku," ujarku menatapnya dan mengengam kedua tangan Mona.
"Kamu tak perlu minta maaf, aku menganggap itu bukan kesalahan, dan kamu jangan merasa bersalah."
"Terima kasih Laras, kedatanganmu hari ini membuat aku seperti punya keluarga." ujarnya tersenyum.
"Aku senang jika kau menganggapku seperti itu, tapi ngomong-ngomong di mana Ibumu?" Tanyaku celingak celinguk.
"Dia pergi dengan temannya tadi dan entah kemana," jawab Mona.
"Oh ini kontakku, jika ada apa-apa, beritahu aku ya," kataku memberikan ponsel dan ia mencatat nomorku.
Aku dan Mona pun mengobrol biasa. Terdengar suara langkah kaki seseorang masuk kerumah.
"Deri pulang," kata Mona.
"Baiklah jika begitu, aku juga pulang, kamu baik-baik di rumah ya, jika ada apa-apa kasih tau," kataku menepuk pundaknya.
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan, kapan-kapan aku main kerumahmu," ujarnya tersenyum.
Aku membalas senyumnya dan melambaikan tangan.
"Kasihan Mona, jika aku seperti dia, apa aku akan sanggup?" Tanyaku pada diri sendiri.
Belum sempat aku menaiki motorku, aku mendengar suara jeritan Mona.
__ADS_1
"Astaga, apa yang terjadi," aku panik dan langsung berlari menuju ke dalam rumah Mona.
Aku melihat Mona duduk di lantai dan sambil memegang pipinya yang merah, sepertinya dia baru saja di tampar oleh. Aku menghampirinya dan memeluk Mona.
"Apa yang kamu lakukan padanya," teriakku kencang.
"Kamu orang luar tidak perlu ikut campur," kata Deri menunjuk ke arahku.
"Dasar pria bajingan, kau juga tak punya hak memukulnya," teriakku histeris.
"Terserah aku, dia istriku," ujarnya membuat aku geram.
"Dia memang istrimu, tapi kamu ngak punya hak memukulnya, dan dalam kandungannya adalah anakmu, di mana naluri, apa kau ngak bisa berfikir," teriakku dan memakinya.
"Kamu jangan membuat aku memukulmu, lebih baik kamu pergi," kata Deri marah kepadaku.
"Lalu, jika aku pergi kau bisa seenaknya memukul dia, kau memang tak pantas menjadi manusia," makiku sangat geram.
"Kamu...," ia mengangkat tangannya yang ingin memukulku.
"Jika kau berani memukulku, aku akan menelpon polisi sekarang," ancamku sambil menunjukkan ponsel kearahnya. Ia mengambil ponselku dan membantingnya.
"Deri, cukup, jangan lakukan itu," ujar Mona memeluk kaki Deri sambil menangis.
Aku memegang tangan Mona dan melepaskan dari kaki Deri.
"Sudah Mona, ayo kita pergi saja," Ajakku.
"Iya pergi saja sana, dan jangan balik lagi," teriaknya.
"Kau yang pergi dari rumah ini, seharusnya kau cukup sadar diri tinggal di rumahnya dan kau berani memukulnya, dasar lelaki tak punya hati," makiku geram.
"Baik, aku akan pergi sekarang," katanya melangkahkan kaki dan pergi entah ke mana.
Mona menangis sedih. Aku jadi serba salah, gara-gara aku ikut campur, Deri pergi dari rumah, jika aku membiarkannya, Mona terluka lagi.
Aku memeluk Mona yang sedang menangis dan mengelus punggungnya.
"Mona maafkan aku, gara-gara aku, deri pergi," ujarku pelan.
"Udah ngak apa-apa, mungkin lebih baik kami berpisah sementara waktu dulu," ujarnya membalas pelukanku.
"Yang sabar ya Mona, suatu saat nanti kamu pasti menemukan kebahagiaanmu," kata menghibur. Tanpa terasa air mataku menetes juga.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1