Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Belanja denga Mama Riko


__ADS_3

"Aku tak ingin bayi ini lahir tanpa Ayahnya, aku... aku... juga tak mau hidup tanpa suami, aku malu," kata Mona. menangis.


"Jadi Mona, ini bukan anak Rino, melainkan anak Doni, kamu bohong dengan Mama?" Tanya ibu Mona dengan membelalakkan matanya.


Mona menundukan kepalanya.


"Maaf Ma, tapi aku harus gimana? Sedangkan Doni tidak mau bertanggung jawab, aku malu Ma, dan lagi aku memilih Rino karena selain dia sering bersamaku, setidaknya bayi ini terjamin hidupnya," jelas Mona sesengukan.


Mereka semua terdiam, Mona malu melahirkan anak tanpa suami, sedangkan Doni tidak mau bertanggung jawab.


"Baiklah akan kubuat dia bertanggung jawab," kata Riko geram.


Tiba-tiba tubuhku mengigil sebentar.


"Ada apa Laras?" Tanya Riko khawatir.


"Aku tiba-tiba ingat kejadian mengerikan semalam," ujarku mengengam tangan.


Mama Riko memelukku. "Udah, kamu jangan pikirkan lagi ya, kamu lupain ya sayang, kamu mau apa? Bilang sama Mama, pasti Mama turuti, oh iya kemaren Mama janji mau bawa kamu shoping kemallkan, kamu mau?" Tanya Mama Riko perhatian.


Aku terdiam sesaat.


"Ma," Riko memandang kearah mamanya mengeleng kepalanya menandakan tidak boleh.


"Baiklah," jawabku, aku juga sudah janji dengan Mama Riko mau shoping dan aku harus berani, aku tidak boleh tenggelam dalam ketakutan.


"Untuk Mama Mona dan Mona antarkan mereka Rino, dan masalah ini akan kami bantu laki-laki itu untuk bertanggung jawab," kata Mama Riko.


Mona langsung berlutut di kaki mama Riko.


"Tolong Tante agar Doni mau bertanggung jawab, aku ngak mau bayi ini tanpa Ayahnya, aku mohon Tante bantu aku," mohon Mona.


"Sudah, kamu pulang dulu, besok kita selesaikan masalahnya," ujar Mama Riko.


"Terima kasih Tante, terima kasih," ucap Mona sambil menangis.


"Jhoni, saya bawa Larasnya ya," izin mama Riko.


"Iya hati-hati kak," jawab Ayah.


"Ayo Riko, kamu bawa mobilnya," kata Mama Riko memberikan kunci mobilnya.


"Ngak usah Ma, pake mobil aku aja," kata Riko. Dan kamipun berangkat.


Sesampainya di mall Mama Riko menarik tanganku.


"Ayo Laras mau yang mana? Pilih aja, Mama yang bayar," ujar Mama sambil tersenyum.


Aku mengangguk membalas senyuman mama Riko.


"Yang ini cantik," celetuk Riko.


"Iya Laras ini bagus untuk kamu," sambung Mama. Kalo kayak gini sama aja bukan aku yang milih.


"Heels ini cocok buat kamu Laras," ujar mama memegang Heels warna abu-abu.


"Tapi Ma, aku ngak suka pake heels," tolakku.


"Udah ngak apa-apa, siapa tau untuk pergi acara undangan," kata mama megambil heels tersebut. Aku pasrah.


"Wow, ini kalung cocok banget sama kamu, sini Mama pakaikan," kata mama memakaikan keleherku. Ya sudahlah ini pemberian dia.


"Ini gaun indah sekali, ini pas di badanmu Laras," kata mama dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Ini Laras, itu Laras... Laras...Laras...."


Dan akhirnya semua perlengkapanku mama Riko yang belikan termasuk pakaian dalam.


Mama hari ini menghabiskan 700 juta, dia bilang 'perempuan itu harus punya banyak barang dan stok pakaian, kalau tiba-tiba mau jalan dan ngak sempat beli baju baru, jadi sudah ada di lemari dan ngk perlu repot' aku aja pake baju ya itu-itu aja, kalo ngak bajunya yang ditukar ya celana jinsnya.


Saatnya pulang.


Badanku lelah sekali, pegel-pegel apa karena kelamaan di tempat ramai.


"Riko bawa masuk barang Laras," kata Mama.


"Iya mama," jawab Riko menenteng barang milikku dan membawa masuk.


"Kenapa rumah ini kosong? Di mana Ayah?" Tanyaku heran.


"Ayah ngak ada di rumah?" Tanya Riko.


"Sepertinya begitu, tapi tidak tau Ayah di mana? Riko, tolong telpon Ayah dia di mana," kataku menyuruhnya.


"Siap kesayangan," ucapnya.


Riko menelpon ayah dan menanyakan keberadaan ayah. Ternyata ayah bersama papa Riko sedang di restoran.


"Aku bantu kamu susun barangnya ya," tawar Riko.


"Iya, aku lelah banget dan... aku lapar," ujarku.


"Oke aku suruh pegawai restoran buat antar makanan ya," ujar Riko.


"Iya aku baring dulu, lelah banget," kataku menuju kamarku.


Riko mengikutiku dari belakang dan membawa barangku.


Riko menyusun barang-Barang. Yah termasuk rapilah, meski meletakan salah tempat. Tapi biarkan lah.


"Bangsat, lepaskan pakaian itu," ujarku malu dan mengambil dari tangannya.


"Untuk apa kau malu," katanya.


"Jangan kau sentuh barangku, jika kau berani sekali lagi kuhajar kau sampai mati," ancamku.


Ting... ting.


Ting... ting.


"Siapa itu?" kata Riko yang langsung kabur menuju pintu.


"Ini Tuan makanannya," kata pegawai itu menyerahkan kotak makanannya.


"Ya terima kasih," ucap Riko menerima kotak makananya.


"Ayo makan dulu," ajak Riko.


Aku menerima kotak makanan tersebut lalu melahap makanannya.


"Kamu tau ngak kupu apa yang bisa bikin aku senang?" Tanyanya memberi teta teki.


"Apaan?" Tanyaku karena malas mikir.


"Kupunya kamu," jawabnya senengnya kayak anak kecil.


"Kamu tau bedanya kamu sama monyet?" Tanyaku balik.

__ADS_1


"Kalo monyetkan hewan, kalo aku calon suami kamu," jawabnya bangga.


"Salah," jawabku.


"Apa donk?" Tanyanya.


"Ngak ada bedanya, sama-sama nyebelin," jawabku.


"Jawaban macam apaa itu?"


***


Keesokan paginya.


Riko sudah pulang tadi malam saat ayah sampai kerumah. Sebenarnya Riko ingin tidur di rumahku, sebelum di hantam ayah dia kabur duluan.


"Laras," panggil Lusi yang datang kerumahku bersama putri.


"Kalian udah datang," ujarku ketika sedang memakai sepatu kets.


"Laras, kemaren ada kejadian mengerikan ya, maaf ya kami baru tau, Radit kelamaan ngasih taunya," kata Lusi merasa bersalah.


"Udah, aku udah baik-baik aja kok sekarang, ayo berangkat," ajakku.


Kami berangkat menuju kampus.


Sesampai di kampus.


"Kalian duluan ya," kataku.


"Kamu mau kemana?" Tanya Putri.


"Ketoilet," jawabku bohong.


"Oke, jangan lama-lama," ujar mereka meninggalkanku.


Aku pergi keruangan seni di sana aku melihat Doni sendirian sedang menata buku, jika di lihat dari wajahnya, sepertinya kehidupannya santai sekali ya, seperti tidak ada kejadian apapun, dia tak punya beban hidup.


"Doni," panggilku dari depan pintu.


"Laras, ada apa?" Tanyanya sambil tersenyum.


Aku mendekatinya. "Sedang merapikan ya?" Tanyaku basa basi.


"Iya nih, biar enak di pandang," jawabnya sambil menata bukunya.


"Hmm...boleh tanya sesuatu?" Tanyaku.


"Apa itu Laras?" Doni balik bertanya.


"Apa hubunganmu dengan Mona?" Tanyaku langsung kepoinnya.


Doni diam sesaat dan berhenti menata bukunya.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Ia bertanya lagi.


"Kemaren aku melihatmu bersama Mona saat acara lamaran, kau membawanya kemana?" Tanyaku lagi.


"Kami tidak punya hubungan apapun, waktu itu Mona mengantuk, jadi aku menawarkan untuk mengatarnya," jawabnya tenang.


Jika Mona tidak hamil, mungkin aku sudah percaya ucapan yang menyakinkan itu, tapi aku sudah tau semuanya, jadi tak bisa di bohongi.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2