
"Laras, Ayah dapat telpon, kita akan pergi makan bersama dengan keluarga teman Ayah malam ini, apa kamu tidak apa-apa?" Ujar Ayah khawatir.
"Tidak apa-apa Ayah" ujarku tersenyum.
"Jika kamu baik-baik saja, Ayah jadi tenang" ujar Ayah menepuk bahuku.
"Sepertinya Ayah juga ragu-ragu, pasti dia memikirkan apa aku bahagia atau tidak" kataku dalam hati.
"Aku baik-baik saja, Ayah jangan khawatir" kataku, agar Ayah tak cemas lagi.
"Baiklah kalau begitu" ujar Ayah dan pergi.
Tuuut... tuuut...
"Halo" jawab Lusi.
"Ya halo" kataku.
"Ini dengan siapa?" Tanya Lusi bercanda.
"Becanda aja kami ah" kataku tersenyum.
"Ada apa?" Tanya Lusi lagi.
"Mana Putri?" Aku balik bertanya, biasanya mereka berdua seperti permen karet, lengket terus.
"Ada nih" ujar Lusi.
"Video call yuk" kataku.
"Oke" kata Lusi dan mengakihakan menjadi video.
"Hay... ada apa Laras mencariku pasti karenabrindu ya, jangan rindu, rindu itu berat, kamu ngak akan kuat, biar Lusi aja" kata Putri melambaikan tangan sambil cekikikan. Aku ikut tersenyum.
"Kalian ini bisa aja bikin orang tertawa" kataku tersenyum.
"Udah jangan dengar ocehan Putri yang sedang galau di cueki oleh cowok idamannya, ada hal serius apa nih, dan kamu kayakknya di rumah, apa ngak kuliah?" Tanya Lusi.
"Maaf ya baru bisa kasih tau kalian sekarang, sebenarnya aku sudah di Black list dari kampus manapun di kota ini oleh pak Kim" jelasku.
"Apaaaaa! Apa kamu serius Laras? Gila si Kim itu, mentang-mentang punya kekuasaan seenak jidatnya aja memutuskan cita-cita seseorang, jika aku punya kekuasaan akan kutendang dia dari muka bumi ini" ujar Lusi marah dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Ssstttt... jangan kencang-kencang kalo ngomong, nanti di dengar oleh orang , nanti kamu di aduin sama pak Kim" ujarku megingatkan Lusi.
"Jadi apa yang kamu lakukan sekarang Laras?" Tanya Putri kasihan.
"Nanti malam akan ada makan keluarga dengan teman Ayah, dan aku sudah di jodohkan dengan anak laki-lakinya" ujarku sedikit sedih.
"Laras, kenapa kamu malah seperti ini, kenapa hidupmu menderita sekali dan malah kami ngak bisa bantu apa-apa" ujar Lusi merendahkan suaranya, mereka juga pasti sangat sedih.
"Udah ngak apa-apa, ini di luar jangkauan kalian, dengan kalian mendengarkan keluhanku saja itu sangat membantu" ujarku tersenyum. "Apa Riko kuliah hari ini?" Tanyuku.
"Dalam beberapa hari ini dia ngak masuk kuliah lagi, ngak tau kemana" kata Putri menyela.
"Ya aku dapat informasi dari adik sepupunya Rino, kalau dia di kurung di rumah ayahnya, dia akan di jodohkan juga, jika bertemu nanti, aku ingin mengucapkan selamat tinggal" ujarku.
"Wah... kalian sama-sama di jodohkan, apa mungkin kalian berdua jodohnya?" Tanya Lusi penasaran.
"Jangan-jangan iya tuh" sambung si Putri.
"Ngak mungkinlah, mana mungkin Ayah punya teman sehebat Ayahnya Riko, yang punya kekuasan, palingan ya orang biasa-biasa sajalah" kataku pasrah.
"Laras, jika orangnya jelek kamu jangan mau ya, kalo tamvan seperti Riko, aku baru setuju, meskipun hidupnya ngak kaya-kaya kali, setidaknya ada yang di banggakan" ujar Lusi memberi saran.
"Kamu haus cowok ganteng ya" kataku tersenyum ketika di beri saran dari Lusi.
"Ya baiklah, kalian lanjutkan kuliahnya, belajar bagus-bagus, jangan nakal, jangan keasyikan ngelirik cowok Tamvan, malah ngak jadi belajar" kataku menasehati Lusi dan Putri.
"Iya mak" jawab mereka berdua serentak.
"Ya udah aku tutup dulu bye sahabat terbaikku muuahh" kataku sambil mencium mereka meski lewat layar.
"Muahh bye... bye..." balas mereka dan akupun menutup panggilannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanyaku dalam hati. Aku meraih kotak biru yang di dalamnya ada gaun untuk di pakai nanti malam. Aku membukanya, Gaunnya cantik sekali berwarna abu silver sangat manis. Aku sangat menyukainya, apa keluarganya orang kaya, Ayah tak pernah cerita apapun tentang temannya.
Tuuut... tuuut...
"Halo" jawabku.
"Ya halo juga" jawab seseorang seberang sana.
"Ada apa? Dan ini siapa?" Tanyaku.
__ADS_1
"Aku Rino" jawab Rino.
"Dari mana kamu dapat nomorku?" Tanyaku penasaran.
"Sudalah itu tak penting lagi, malam ini Riko akan di jodohkan, apa kamu tidak datang untuk menghentikannya?" Tanya Rino penasaran.
"Maaf Rino, malam ini aku juga sudah ada janjian untuk makan malam dengan keluarga Ayahku, maaf aku tak bisa menghentikannya, dan aku juga ada perjodohan dengan anak teman Ayahku, jika kami tak bisa bersama, untuk apa di satukan, biarlah kami hidup dengan cara kami sendiri" ujarku sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf Laras, jika ini membuatmu sedih, tak seharusnya aku mengatakannya, semoga kamu bahagia dengan orang pilihanmu itu" kata Rino sedih. sangat di sayangkan dua orang saling mencintai tapi tak bisa bersama.
"Rino, ucapkan selamat untuknya juga, dari Laras salam kebahagiaan" ucapku sedih, tanpaku sadari bulir bening jatuh di pipiku.
"Laras, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rino khawatir.
"Aku tidak apa-apa, aku juga akan menempuh hidup baru, dan hidup dengan bahagia" ujarku tersenyum sedih mencoba menghapus air mataku.
"Ya sudah Laras, ini adalah keputusanmu, semoga kamu hidup bahagia dengan pasanganmu" kata Rino memberi selamat.
"Terima kasih Rino"katku langsung menutup panggilan. Aku menagis karena sesak sekali dadaku, meskipun di mulutku ku ucapkan ikhlas, namun hatiku belum merelakannnya, sebenarnya aku belum siap menerima kenyataan ini, belum lagi cintaku dan Riko di mulai, malah sudah runtuh karena tanpa pondasi. Dan kenapa aku baru sekarang sadarnya jika aku mencintainya juga, aku sangat berharap jika aku tak pernah sadar dengan perasaanku agar aku tak terlalu sakit hati.
"Laras, ayo kesalon, siap-siap dari sekarang agar ngak terlambat nanti" ujar Ayah dari balik pintu kamarku.
"Ya Ayah" jawabku sambil menghapus air mataku.
Aku dan Ayah pergi kesalon, ketika aku sedang di makeup tiba-tiba telpon Ayah berbunyi.
Tuuut... tuuut...
"Halo" jawab Ayah.
"Halo" jawab temannya Ayah.
"Ya ada apa Kim?" Tanya Ayah.
"Saya benar-benar minta maaf, saya dapat telpon dari sekretaris saya, bahwa hari ini ada Meeting penting, malam besok, pasti, saya pastikan jadi, saya benar-benar minta maaf, dan saya sangat tidak enak hati membatalkanya, saya benar-benar minta maaf kawan" ujarnya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, kami juga belum siap-siap, kamu jangan merasa bersalah gitu, saya sangat mengerti kondisimu saat ini, uruslah masalahmu dulu, jika tidak begitu, hati tidak akan tenang" ujar Ayah tersenyum.
Ayah adalah pria yang paling sabar dan baik bagiku.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN