Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Di culik lagi


__ADS_3

Aku mengangkatnya dan mendudukannya di sofa. Aku mengelus punggung Mona.


"Maaf sebelumnya, apa aku bisa meminjam ponselmu?" Tanyaku pelan.


"Ini," ia mengulurkan ponselnya.


Aku mengambilnya lalu menelpon seseorang.


Tuuut...


Tuuut...


Tuuut...


"Halo," jawab Doni.


"Halo Doni, kamu bisa ke sini ngak?" Tanyaku.


"Kamu siapa?" Tanya Doni balik.


"Aku Laras, bisa ke rumah Mona sekarang," kataku berharap.


"Ada apa?" Tanyanya masih bingung.


"Udah datang aja sekarang, ada yang harus aku omongi," kata menyembunyikan sesuatu.


"Baiklah, aku segera kesana," katanya dan menutup panggilan.


"Kqmu kenapa menelpon Doni?" Tanya Mona dengan mata yang masih sembab.


"Doni adalah keluargamu juga, dan dia harus tau kelakuan kakaknya," kataku.


Tak lama kemudian Doni datang.


"Permisi," salam Doni dari luar pintu.


"Masuk," jawabku.


Doni pun masuk ke dalam rumah dan melihat kami duduk di sofa, ia pun mendekatinya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Doni menganggkat alisnya.


Aku membuka wajah yang di tutup oleh Mona dengan tangannya.


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Doni mendekati Mona.


"Sebentar ya, aku ambil batu es untuk kompres," ujarku beranjak dan meninggalkan mereka berdua, aku sengaja berlama-lama di dapur, mungkin mereka ingin berbicara sesuatu yang mungkin aku tidak tahu.


"Ini karena kakakku ya?" Tanya Doni memegang pipi Mona. Mona hanya diam menundukkan kepalanya.


"Laras, mana batu esnya?" Panggil Doni.


"Eh, iya aku lupa," kataku menghampiri mereka sambil membawa batu esnya. Aku menyerahkan batu es ke Doni.


"Aku ke dapur dulu, buatin minuman," kataku balik badan dan pergi.

__ADS_1


Berhubungan ini rumah Mona, tentu saja aku ngak familiar entah di mana letaknya, tentu saja aku harus cari dulu.


"Aku mewakili kakakku untuk meminta maaf," kata Doni merasa bersalah.


"Kamu ngak perlu meminta maaf untuknya, yang salah adalah dia, bukan kamu," kata Mona dengan wajah datar.


Doni memegang tangan Mona yang ada lebamnya.


"Ini perbuatan kakakku juga?" Tanya Doni menatap kearah Mona.


Mona diam dan mengigit bibirnya.


"Jawab Mona, ini perbuatan Deri?" Tanya Doni dengan suara agak meninggi.


"Iya," Mona mengangguk pelan.


"Sialan Deri itu, di mana dia sekarang?" Tanya Doni marah.


"Dia pergi dari rumah ini tadi," jawab Mona pelan.


"aku akan mencarinya dan menghabisinya," kata Doni mengengam tangannya dan mau pergi.


"Jangan Doni," larang Mona memegang tangan Doni.


"Jangan di cari, biarkan sajalah," kata Mona yang berusaha menahan air matanya.


Doni duduk di samping Mona.


"Aku benar-benar tidak tau jika jadi seperti ini, aku benar-benar minta maaf, jadi apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Doni yang marahnya mereda.


Mona menangis dan meneteskan air matanya dan berkata. "Aku lebih baik berpisah saja, aku ngak sanggup jika terus di pukuli," kata Mona menyeka air matanya.


Mona terbelalak tak percaya, sedangkan aku hampir saja menjatuhkan gelas untung saja cepatku tangkap, kalo ngak bisa menganggu mereka.


"Kamu ngak bercandakan?" Tanya Mona yang masih tak percaya.


"Aku serius, kamu maukan?" Tanya Doni mengangkat alisnya.


Mona memeluk Doni erat dengan air mata bahagia.


"Makasih Doni," kata mona menangis sesengukan. Doni juga membalas pelukan Mona. Aku mengelus dadaku, akhirnya jiwa ini tenang juga.


Tiba-tiba saja Deri pulang dan melihat adik dan istrinya berpelukan ia sangat marah.


"Apa-apaan ini, kalian selingkuh dibelakangku, kamu juga Doni, dia adalah istri kakakmu sendiri dan kamu berani memeluknya dan depanku," kata Doni murka.


"Suami macam apa kakak yang sudah memukul istrinya, dan kamu tahu dia sedang hamil, seharusnya kau memberikan yang terbaik untuknya, bukan malah menyakitinya," balas Doni marah.


"Lalu kenapa? Dia saja menjadi istri ngak becus," kata Deri menunjuk ke arah Mona.


"Bukan dia yang ngak becus, kamu yang ngak becus, kamu ngak sadar diri sudah tinggal di rumahnya dan makan makanan mereka dan kamu malah memukulnya, kamu lebih baik jangan jadi manusia lagi," tariak Doni murka.


"Kamu," Deri meninju Doni dan Doni membalasnya. Aku kaget dan segera keluar dari dapur.


"Doni cukup jangan berantem lagi," teriak Mkna menagis.

__ADS_1


Aduh... aku gimana meleraikannya nih, udah ngak da jalan lagi, aku menerobos kearah ke duanya yang sedang berantem.


"Mona tarik Doni," teriakku. Mona pun menarik tangan Doni dan aku menarik Deri dan memisahkan mereka.


"Cukup Deri," bentakku membelalakkan mata.


"Jika kamu menyukainya dia, nikah saja sama dia, kita cerai," ujar Deri marah.


"Ya aku akan menikahi dia, kamu tidak pantas menjadi suami dan kamu juga tidak pantas menjadi ayah," teriak Doni.


"Bagus, aku tidak perlu mengurusi yang tidak penting, yang ada kalian hanya bebanku saja," ujar Deri dan masuk kamar mengemasi baju dan barang-barangnya.


Doni dan Mona membiarkan Deri keluar dari rumah.


"Aku keluar dari rumah ini, puas kamu," kata Deri membelalakan matanya.


"Silakan pergi, bagus jika kamu jangan kembali lagi," teriakku.


Deri pun pergi dengan menghentakkan kakinya. Kami menatap kepergian Deri yang entah kemana.


"Eh... Hm... aku pulang dulu ya, dan Doni, jagain Mona ya, baik-baik di rumah dan jelasin ke Mama Mona masalah ini," pesanku.


"Iya, makasih ya Laras udah jagain aku tadi," kata Mona memelukku.


"Iya ngak apa-apa, aku pulang dulu bye...," kataku melambaikan tangan dan melangkah pergi.


Di perjalanan pulang saat melewati persimpangan ada 2 motor yang mengikutiku dari belakang.


Awalnya aku pikir mereka hanya pengendara biasa, tapi lama-lama mereka mendekatiku dari arah kiri dan kanan. Aku jadi panik.


"Berhenti," teriak pengendara itu. Namun aku melajukan motorku.


Mereka juga melajukan motornya dan tiba-tiba memelankan motornya di depanku. Mau ngak mau aku pun berhenti.


"Ada apa ini?" Tanyaku turun dari motor.


"Ayo ikut kami," kata pria itu menarik tanganku.


"Aku ngak mau," teriakku meronta dan berusaha melepaskan tangan yang menggenggam tanganku.


"Jangan menolak kamu ya," bentak pria itu.


Aku meronta-ronta namun mereka berusaha menarik tanganku lalu melemparkan ku maauk mobil yang mengikuti mereka dari belakang tadi.


"Tolong... penculikan," teriakku. Pria itu langsung menutup mulutku.


"Cepat jalan," perintahnya kepada supir mobil tersebut. Aku mendekati pintu dan berusaha membukanya, sayang sekali pria itu memukul kepala belakangku dan perlahan-lahan kesadaranku menghilang.


xxx


"Bangun," kata pria yang menculikku menyiramkan seember air. Aku terbangun dan pelan-pelan membuka mataku.


Aku kaget karena aku berada di ruang asing dan di ikat di sebuah kursi. Aku berusaha melepaskan diri tapi, namun tidak bisa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2