
Ku buka amplopnya dan isinya adalah
SURAT PENERIMAAN KEMBALI DARI UNIVERSITAS.
Aku kaget melihat tulisannya, ini pasti dari pak Kim.
"Ayah, ini ada surat" kataku memanggil Ayah.
"Surat apa?" Tanya Ayah menerima surat dariku.
"Bacalah Yah" ujarku.
Ayah membacanya dengan kepala menggeleng.
"Ini pasti Kim merasa bersalah" kata Ayah.
"Emangnya apa yang terjadi?" Tanyaku tak mengerti.
"Laras, bagaimana menurutmu? Mau kamu terima atau tidak? Ayah serahkan semuanya padamu, pikirlah baik-baik" Nasehat Ayah.
"Menurut Ayah apa yang terbaik?" Aku balik bertanya.
"Sebenarnya, memang terbaik kamu kuliah lagi, kemaren itu Ayah memang keterlaluan, memarahinya saja sudah cukup bahkan Ayah sempat memakinya," ujar Ayah menarik nafas.
"Jadi Ayah ingin aku kuliah lagi?" Tanyaku menekuk dahi.
"Meskipun anak perempuan, tetap harus ada pendidikan," saran Ayah kepadaku.
"Ya kalo menurut Ayah begitu, ya sudahlah," ujarku pasrah.
"Ya sudah, Ayah mau jualan dulu," kata Ayah.
"Baiklah" ucapku.
Setelah Ayah pergi hanya berselang 10 menit, tiba-tiba Riko datang. Sedangkan aku masih bersih-bersih di halaman.
"Laras" panggilnya dengan penampilan baru.
Aku hanya diam menatapnya. Dia malah tersenyum membawa buket bunga dengan 99 tangkai mawar merah.
"Nih untukmu" katanya tersenyum sambil menyerahkan buket mawarnya.
"Untuk apa kamu bawa sebanyak ini, mau nyemaki di rumahku?" omelku.
"Terus kamu maunya apa?" Tanyanya.
"Aku mau duit" jawabku memajukan mulutku.
"Matre" ujarnya manyun dan masuk kembali kemobil menambil sesuatu. Ternya ia membawakan buket uang juga 99 lembar uang seratusan.
"Ini kenapa ngak di genapi 100 saja, cuma 99 helai?" Tanyaku manyun.
"Iya yang ke seratusnya itu kamu" jawabnya tersenyum.
"Idih... sama siapa kamu belajar gombal? Perasaan dulu kamu jail banget" ujarku mencibirkan bibir.
"Kita itu harus berubah, tak hanya dari tampilan, tapi juga dari krakter" katanya membuat aku ingin muntah seketika.
"Itu surat kamu udah terima?" Tanyanya mengalih pembicaraan tadi.
"Udah" jawabku singkat.
"Jadi gimana? Mau kuliah lagi ngak? Aku rela jadi supirmu," katanya merayu.
"Alah banyak bacod kamu, palingan ngejail aku lagi?" jawabku kesel.
"Kali ini aku serius sama kamu Laras," ujarnya yang mulai pembicaraan serius.
__ADS_1
"Udah ah, malah aneh kalau kita baikan gini," jawabku mengelak dari pembicaraannya.
" kamu belum kasih jawaban, kuliah lagi ngak?" Tanyanya penasaran.
"Lihat aja besok, udah sana pulang nanti Ayah pulang, marah dia nanti" kataku mengusir.
"Oke baiklah, I LOVE YOU LARAS," teriaknya dengan suara kencang.
"Hey... kamu gila ya? Gimana nanti kedengaran orang?" Jawabku panik.
"Bodo amat, aku pulang dulu bye sayang," katanya masuk ke mobil dan melambaikan tangan.
"Menjijikkan," jawabku mual.
Riko langsung melajukan mobilnya, dan aku masuk kamar dengan membawa buket bunga dan buket uang masuk ke dalam rumah. Jumlah uangnya ya 9900.000 ribu, 'kan kurang seratus, harus di tagih ini, gantian balas dendam.
***
Ke esokkan harinya.
"Ayah, aku berangkat kuliah dulu," ujarku sambil meraih tangan Ayah untuk kucium.
"Iya, jangan lupa bawa suratnya," kata Ayah mengingatkan.
"Ya Ayah, bye Ayah," kataku sambil melambaikan tangan.
Sesampainya di kampus, anak-anak melihat ke arahku, pasti mereka heran dulunya akudi keluarkan kini tiba-tiba datang. Dan tak lupa...
"Larasssss... I love you so much, akhirnya datang lagi kesini," kata Lusi senang sambil memelukku dan di ikuti Putri.
"Tapi ngomong-ngomong ngapain kamu di sini?" Tanya Putri.
"Asem kalian ini, ya kuliah lagi, nih suratnya," jawabku menunjukan surat penerimaan kembali tersebut.
"Aaaaaaa... akhirnya kita bisa bersama kembali untuk selamanya," pekik Lusi.
"Ah sakit tau, oke hari ini aku yang traktir, besok Putri," kata Lusi memandang ke arah Putri.
"Oke No problem, asal kalian suka saja," kata Putri bercekak pinggang.
Baru saja mau beranjak dari tangga, tiga orang cewek menghampiri kami.
"Oh kamu ya yang di keluarin dari kampus, kenapa datang lagi?" Tanyanya menantang.
"Eh... kenapa kamu, terserah orang donk mau ngapain, emang kamu yang punya sekolah?" Tanya Lusi mulai emosi.
"Tentu saja, karena Ibu saya adalah bendahara di kampus ini" ujarnya bangga.
"Terus kenapa emangnya? Tetap bukan kamu yang punya," Teriak Lusi.
"Tapi tetap saja, kami punya kekuasaan di sini, ingat! jangan dekat-dekat lagi sama Riko, jika tidak, saya akan minta ke Ibu aku buat ngeluarin kamu lagi" kata Mona dan sebelum pergi mereka menyenggolku dulu.
"Nyebelin banget sih kalian" Kata Lusi yang ingin menghajar ketiga cewek itu. Namun di tahan aku dan Putri.
"Udahlah, biarkan saja Lus," ujarku menahan Lusi.
Aku dan Putri menarik Lusi kekantin kampus. "Katanya mau traktir?" Ujar aku dan putri.
"Iya... iya..." jawab Lusi masih kesal.
"Laras" panggil Riko.
Kami semua melihat kearah suara tersebut.
"Mau apa kamu?" geram Lusi.
"Ha? kenapa nih?" Tanya Riko bingung.
__ADS_1
"Gara-gara kamu ketampanan, jadi pada nempel semua cewek, kami baru saja di hadang oleh Mona dan kawan-kawannya" jelas Lusi marah.
"Kalian tenang saja, biarlah banyak perempuan mendekat, namun hatiku tetap untuk Laras" ujarnya mengoda.
"Uweeeekkk" kami bertiga mau muntah.
"Gitu amat sih reaponnya" jawab Riko senyam-semyum.
"Laras aku ngak sanggup makan lagi deh kayaknya" ujar Putri mendorong piringnya.
"Ya sama, aku juga" kata Lusi.
"Udah ah, becandanya" ujarku meredakan suasana.
"Riko, kamu ngapain kesini?" Tanyaku.
"Ngak ada, nemuin kamu calon istriku" kata kepedean.
"Kesini kenapa ngak ngajak teman-temanmu?" Tanyaku lagi.
"Oke, aku telpon" ujarnya setuju.
Tuuut... tuuut...
"Halo" jawab Radit.
"Kesini bawa Ari, ada cewek cantik nih" kata Riko sambil memandangiku.
"Di mana?" Tanya Radit.
"Kantin" kawab Riko singkat.
"Oke, meluncur" jawab Radit menutup telponnya.
Dan akhirnya mereka datang.
"Mana yang kamu bilang cewek cantik?" Tanya Radit sambil duduk di sebelah Lusi.
"Emang ngak liat" kata Lusi dan Putri bersamaan.
"Kalian? Di mananya yang cantik?" Ejek Radit.
"Temanmu kok mirip banget sama kamu ya Riko, nyebelin banget" ujarku sebal.
"Iya, dia belajar samaku" jawabnya enteng.
"Kak Riko, ini coklat dariku, semoga kamu menyukainya," kata seorang perempuan yang tiba-tiba menghampiri kami berenam.
Riko terdiam memandang ke arahku. aku membuang wajahku kesamping, mengalihkan pandangan dari Riko.
"Oh, kasih sama asisten Kakak saja?" Tanya perempuan itu dengan polosnya.
"Terima, terima, terima" sorak Lusi dan Putri. Aku tersenyum melihat tingkah Lusi dan Putri dan melihat Riko kebingungan, binggung takut aku marah.
"Sini" ujarku mengambil dari tangan perempuan itu.
"Terima kasih kak" kata Perempuan itu dan pergi.
"Nih makan, dari penggemarmu" ujarku menyodorkan kotak coklat ke arah Riko.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1