Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Persiapan perayaan


__ADS_3

"Tapi enak kok," kata Riko mencoba menelan kepitingnya.


Aku menatap tajam matanya.


"Iya aku habisin," ujarnya takut.


"Kalau seperti ini aku bisa mati karena darah tinggi," bisiknya.


"Hehehe... biasakan masakanku dari sekarang," ujarku membawa spatula dan teflon.


"Huhuhuhu... nyesel aku ngomong akan membiasakan masakannya, kira-kira bisa di tarik ngak ucapan tadi," bisiknya sedih.


***


Hari ini di mana saatnya Mona akan di test DNA.


"Jemput Mona," perintah Ibu Rino yaitu Tante Lisa.


"Baik Ma," jawab Rino lesu.


"Kami akan menemaninya Tante," ujarku.


"Baiklah, kalian hati-hati," ucap Tante Lisa.


Kami mengangguk dan masuk mobil yang di kendarai Rino, aku dan Riko duduk di kursi penumpang belakang.


"Aku tak sabar melihat hasilnya," kata Riko memecahkan suasana.


"Kira-kira anak siapa ya?" Tanyaku penasaran.


"Yang pasti bukan anakku," sahut Rino.


"Apa jangan-jangan anak Rino," ujar Riko menyelip.


"Udah di bilang bukan anak dia, kamu ini cari gara-gara kayaknya," jawabku sebel.


"Aku cuma bercanda kok," ujarnya mencibir.


"Rino itu lagi berduka, kenapa kamu malah bercanda," sungutku.


"Dia itu dulunya sering menjailiku, aku ini termasuk jail, dia kakeknya jail," tukasnya.


"Ya tidak usah kamu bicarakan aku sudah tau saat pertama kali bertemu, dia sama menyebalkan denganmu," jawabku ketus.


"Hey... kalian mengosip orang, tapi orangnya di dekat kalian, apa kalian tak mengerti perasaan orang yang kalian ceritakan," sahut Rino.


"Kamu biasanya mengataiku apa kamu mengerti perasaanku," balasku.


"Iya kamu juga sering menjailiku, apa kamu mengerti perasaanku," sambung Riko.


"Kalian emang jodoh yang serasi," ujar Rino tersenyum.


"Jika bisa kupermak Riko ini, sudah kubawa ketukang jahit agar tidak sama dengan Rino," tukasku.


"Di mananya kami yang sama?" Tanya Riko dan Rino bersamaan.


"Sama-sama sukai mengataiku, kalian berdua itu ingin rasanya aku memindahkan kedunia lain," gerutuku.


"Tega," jawab Riko singkat.


Tiba-tiba Rino membelokkan mobilnya menuju sebuah rumah.


"Kita sampai," ujar Rino mematikan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Ayo turun," ajak Riko memegang tanganku.


Tok... tok...


Tok... tok...


Cklek.


pintu terbuka.


"Rino," Ibu Mona kaget ketika melihat Rino datang.


"Hari ini mau bawa Mona test Tante," ujar Rino sopan.


"Hey apa maksud kalian? Datang tiba-tiba mau bawa anak orang untuk test, kalian pikir anak saya apa? Ngak... ngak dia lagi sakit," kata Ibu Mona berbohong.


"Jika di tunda berarti pernikahannya juga di tunda," jawab Riko memancing reaksi ibu Mona.


Ia terdiam sejenak lalu...


"Mona, keluar," perintahnya kepada Mona, dan kami melihat Mona keluar dengan mata sembab.


"Ada apa denganmu Mona?" Tanyaku kasihan.


"Aku tidak apa-apa," jawab Mona menundukkan kepalanya. "Ayo," ajaknya. Kami saling berpandangan kebingungan.


Mona langsung nyelonong masuk kemobil Rino dan tak ketinggalan Riko menarik tanganku, apa dia pikir aku buntutnya? Harus mengikutinya kemana dia pergi? Ingin rasanya aku menokok kepalanya pake sendal jepit.


"Kami pamit dulu Tante," kata Rino menganggukan kepalanya.


Ibu Mona hanya dia memandang Rino sinis dan membanting pintunya dengan keras. Ya sudahlah palingan pintunya yang rusak.


Rino langsung masuk mobil dan menghidup mesin mobilnya kemudian pelan-pelan meninggalkan rumah orang tua Mona.


Rasanya canggung banget karena dari tadi hanya diam-diam bae, aku menyenggol tangan Riko.


"Tak ada," jawabku manyun. Aku mengambil ponsel dari tas dan ngecet Riko.


"*Garing," chatku.


"Kamu ingin makan yang garing-garing*?" Balasnya.


"Bukan makanan yang garing, tapi suasananya yang garing," balasku.


"Terus? Aku ngapain?" Tanyanya binggung.


"Terserah, nyanyi kek, ngobrol kek, baca puisi kek," balasku sewot.


"Kamu mau aku bacakan puisi," balasnya sambil tersenyum.


"udah, basi," balasku langsung mengakhiri chatnya.


Pada akhirnya kami hanya diam di sepanjang jalan hingga sampai rumah Tante Lisa.


aku keluar nyelonong tanpa peduli Riko yang memanggilku.


"Eh kemana Laras?" Tanya Tante Lisa.


"Kenapa Tante?" Aku balik bertanya.


"Kita mau pergi kerumah sakit sekarang," jawab Tante Lisa yang sudah bersiap-siap.


"Tapi Tante sama siapa?" Tanyaku binggung karena mobil di bawa Rino tidak muat jika aku ikut.

__ADS_1


"Kamu sama Tante saja, Tante bawa mobil sendiri," ajak Tante.


"Baiklah Tante," jawabku. Mendengar aku pergi bersama Tante Lisa Riko keluar dari mobil Rino dan mengendarai mobilnya sendiri. Aku masuk ke mobil Tante Lisa dan berangkat menuju rumah sakit.


Masuk keruangan.


"Permisi, apa Dokter Yoldi ada di tempat?" Tanya.Tante Lisa kepada salah satu perawat di sana.


"Ada silakan masuk," jawab perawat itu. Kami masuk kedalam ruangan tersebut di sana ada seorang Dokter duduk di kursi kerjanya memakai kaca mata.


"Selamat pagi pak," sapa Tante Lisa kepada Dokter Yoldi.


"Selamat pagi, silakan duduk," jawab Dokter Yoldi.


"Oh ini ibuk yang kemaren membuat janji tentang pengambilan sampel DNA itu ya?" Tanya Dokter Yoldi mengingat.


"Benar sekali Dok, saya orangnya."


"Baiklah kita akan melakukannya setengah jam lagi, kami perlu mempersiapkan peralatanya dulu, silakan yang ibu akan di lakukan test beganti pakaian dulu," ujar Dokter Yoldi dan beranjak pergi menyuruh perawat lain untuk mengurus Mona.


Waktunya Mona masuk keruangan, untuk mengambil sampelnya dan kami menunggunya di luar.


Akhirnya selesai juga.


"Ini sampelnya sudah kami dapatkan dan bayinya tidak kenapa-kenapa, dan untuk sampel Ayahnya silakan masuk", kata Dokter mempersilakan.


Gantian Rino yang masuk.


Tak berapa lama Rino pun keluar.


"Jika untuk mengetauhi hasilnya mungkin Anda harus menunggunya hingga 2 minggu, saya harap Anda bisa bersabar," ujar Dokter Yoldi.


"Baiklah Dokter saya tidak menganggu lagi, kami permisi dulu," kata Tante Lisa berpamitan.


"Ya, jawab Dokter singkat. Kami kembali kemobil dan pulang kerumah.


"Tante aku pulang dulu," ujarku.


"Baiklah," jawab Tante. "Rino antarkan Mona pulang," perintah Tante Lisa.


"Ya Ma," jawab Rino dan mengantarnya pulang kerumah.


Aku masuk kekamarku dan merebahkan tubuhku lelah di atas kasur empuk. Tanpa sadar aku tertidur.


***


Aku mendengar suara berisik dari ruang tamu, perlahan-lahan aku membuka mata. Ada apa mereka ramai-ramai di sana?


"Ayah, ada apa ini?" Tanyaku heran melihat rumah baru di hiasi.


"Pak Kim ingin membuat pesta penyambutan kedatangan kita, Ayah sudah melarangnya tidak perlu membuat perayaan, tapi mereka memaksa untuk membuatnya, Ayah tak punya alasan untuk menolaknya lagi," jelas Ayah.


"Laras, Ayah," sap Riko.


"Ngapain kamu di sini?" Tanyaku.


"Papa bilang ada perayaan penyambutan untuk kalian, aku datang kesini untuk membantu," katanya menawarkan diri.


"Tidak perlu Riko, di sini sudah ramai yang membantu," jawab Ayah.


"Aku akan... aku akan memasak di dapur," jawabnya bingung karena tidak ada pekerjaan yang harus di kerjakan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2