Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Penetapan pernikahan Mona.


__ADS_3

"Permisi, makanan sudah sampai," kata pegawai restoran Riko.


"Masuk," perintah Riko.


Pegawai itupun masuk kerumah Riko dan meletakan makanan dan menatanya di meja .


"Silakan, saya undur diri dulu Tuan, Nona," kata pegawai itu dan pulang mengunakan mobil operasional dari Pak Kim.


"Ayo makan, biar pas tidur ngak kebawa mimpi," ajak Riko.


"Apanya?" Tanya Radit.


"Ngak kebawa mimpi ngelernya makanan ini," jawab Riko.


"Ayo karisa makan, jangan malu-malu, anggap aja ini rumah orang," candaku.


"Terus kamu pikir ini rumah monyet," balas Lusi.


"Tega banget sih kamu sayang, masa aku di bilang monyet," kata Riko memasang wajah sedihnya.


"Siapa yang bilang kamu monyet, jelas-jelas Lusi yang bilang," sanggahku.


"Mana ada aku bilang Riko monyet, Rikonya aja yang sensitif," kata Lusi membela dirinya.


"Iya mungkin, efek kurang di sayang kali," kata Riko.


"Minta sayang sama monyet," kataku dan Lusi bersamaan.


Mereka cekikikan mendengar jawabanku dan Lusi. Riko mengusap mukaku.


"Riko," kataku.


"Oke... oke makanlah," kata Riko mengalah.


Karena kekenyangan, dan juga ngantuk berat aku tertidur. Sedangkan Karina di antar Rino pulang. Lusi dan Putri diantar masing-masing oleh pasangannya.


xxx


Keesokan harinya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Laras, buka pintunya," panggil seseorang dari balik pintu.


"Aduh... masih ngantuk banget," kataku turun dari ranjang dan membukakan pintu.


"Riko, ada apa?" Tanyaku yang masih mengucek-ngucek mata.


"Yuk kerumah Papaku," ajaknya.


"Lusi sama Putri?" Tanyaku melihat kearah temanku.


"Merekakan bukan anak kecil, nanti bangun sendiri itu," kata Riko memegang tanganku. Malam tadi Lusi dan Putri menemaniku tidur.


"Ya udahlah," jawabku.


Sesampai di rumah pak Kim.

__ADS_1


Di sana sudah ada kakak Doni duduk di sofa.


"Jadi ini kakak Doni," kataku dalam hati.


"Jadi bagaimana Deni? Apa kamu mau bertanggung jawab?" Tanya pak Kim ikut membantu menyelesaikan permasalahannya yang sebenarnya bukan masalahnya lagi.


Deni diam menunduk tak bersuara.


"Deni, jawab saya, saya sudah berusaha menjaga emosi saya, saya juga kelelahan, jadi jangan menambah permasalahannya," kata pak Kim mulai gusar.


"Jika saya mau bagaimana? Jika tidak bagaimana?" Tanya Deni membuat pilihan.


"Ini bukan saatnya kamu membuat pilihan, bayi di perut Mona adalah anakmu, jadi mau tak mau, suka tak suka, kau harus bertanggung jawab, jika kamu tak mau bertanggung jawab, kenapa kamu menodai anak orang lain?" Tanya pak Kim geram.


Deni terdiam.


"Besok kita akan melangsungkan pernikahannya," kata Pak Kim memutuskan.


"Tapi Om, aku ngak suka dia, aku tak menyukainya," kata Mona menangis membuat pak Kim pusing.


"Kamu ini bagaimana? Kamu juga jangan membuat kepala saya pusing, kalian seharusnya berterima kasih saya mau mengurus masalah kalian, saya masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan," ujar pak Kim marah.


Mona terdiam sambil menangis.


"Doni, kamu maukan menikah denganku?" Tanya Mona berlutut di kaki Doni.


"Mona, untuk apa kamu berlutut, berdiri! Apa serendah itu harga dirimu," kata ibu Mona marah.


"Aku hanya mau Doni yang mau bertanggung jawab, aku ngak suka dia," kata Mona menangis terisak isak.


"Maafkan aku Mona, tapi... aku tak bisa," kata Doni pelan sambil menundukan kepalanya.


"Doni... aku mohon Doni... jadilah suamiku," kata Mona memegang tangan Doni. Doni menarik tangannya.


"Aku tidak ingin dia jadi suamiku," kata Mona.


"Maaf Mona, aku tak bisa," kata Doni beranjak dari tempat duduknya dan pergi.


"Doni...," teriak Mona berusaha mengejar Doni tapi Doni sudah melajukan motornya.


Mona terduduk ke tanah menangis menutup wajahnya. Aku sangat kasihan melihat Mona menangis meratap, lalu aku menghampirinya dan berusaha menghiburnya.


"Mona, yang sabar ya, ini lah hidup, aku juga pernah merasakan sakit, kamu bukan satu-satunya orang menderita, setiap wanita merasakannya, suatu saat nanti kamu pasti akan merasakan bahagia, cuma mungkin belum waktunya," kataku, namun aku tak pandai merangkai kata untuk menghibur.


Mona tetap menangis. Aku berusaha membangunkannya, namun ia sangatlah berat, apa karena dia sedang hamil?


"Pelan-pelan," kataku membopongnya membawa masuk kerumah, mamanya hanya melihat anaknya yang menangis di tanah.


Aku mendudukan Mona di sofa.


"Jadi, kita tetap melangsungkan pernikahan besok, dan Kamu tetap di rumah ini, di awasi oleh penjaga saya agar kamu tak lari saat pernikahan nanti," kata Pak Kim.


"Bawa dia kekamar tadi," perintah pak Kim. " dan Mona, kamu dan ibumu pulanglah untuk mempersiapkan acara pernikahannya besok, Rino, Deval dan Riko membantu mengurus surat-suratnya, dan saya juga mau berangkat kekantor," kata pak Kim.


Mona dan Ibunya pulang, meskipun Mona tak terima kenyataannya, tapi semuanya telah terjadi.


Rino dan Riko berangkat menuju rumah Deval untuk menjemputnya membawa berkas-berkas untuk di urus.


"Laras," panggil mama Riko.


"Mama, ada apa?" Tanyaku mendekatinya.

__ADS_1


"Mama khawatir sekali denganmu waktu itu, apa penjahat itu ada menyakutimu?" Tanya mama Riko.


"Hm... ngak ada Ma, aku baik-baik saja," jawabku.


"Syukurlah jika begitu," jawab mama mengelus punggungku.


"Oh ya, Mama pergi dulu ya, hari ini ada arisan mingguan jadi mau kumpul bareng, 2 hari lagi ada anak teman Mama menikah, kamu ikut Mama ya," kata Mama.


"Iya Ma," jawabku mengangguk.


"Ya sudah, Mama pergi dulu ya sayang," kara Mama Riko mencium pipi kiri dan kananku.


Aku kembali masuk kamar dan kedua dayangku Lusi dan Putri masih mengorok.


"Ya sudahlah aku lanjut tidur lagi," kataku menarik selimut.


"Laras, aku lapar," kata Lusi. Belum lagi aku terlelap ada, ada aja yang gangguin.


"Ya udah ayo kedapur," kataku sambil menarik tangan Lusi dan Putri, meskipun Putri masih tertidur.


"Ada apa?" Tanya Putri yang masih ngantuk berat hingga dudukpun dia belum sanggup.


"Ayo masak," ajakku.


"Kalian duluan saja," katanya terbaring lagi.


"Kuat banget tidurnya," kata Lusi menggeleng kepala.


"Sama, kamu juga," ujarku mencibir.


"Kuat apa?" Tanyanya ngak terima.


"Kuat makan," jawabku.


"Ayo kita angkat Putri kedapur," kata Lusi memegang tangan Putri dan aku memegang tangan yang satunya lagi.


Aku dan Lusi membaringkan Putri di lantai dapur.


"Hahaha... biarkan saja dia tidur di sini," kata Lusi tertawa.


Aku mengambil sendok pengoreng lalu memukul pantat panci lalu menyanyikan sebuah lagu


"Kalau belum bisa aku mendapatkaaan."


"Oh gadis manis yang menjadi rebutaaan."


"Sungguh mati aku jadi penasaraaaan."


"Sampai matipun kuperjuangkan."


"Dia tidak cantik ma."


"Dia tidak jelek ma."


"Yang sedang-sedang saja."


"Yang pentiiing dia setia."


"Stop! Berisik amat sih kalian," kata Putri mengangakat tangannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2