Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Aku terkekang olehnya


__ADS_3

Hm senangnya bisa jalan-jalan, seharusnya aku baik-baik berterima kasih dengan Riko, jika bukan karena Riko aku tak akan bertemu kakak senior Doni.


"Ayah, aku pulang"


"Ya, sepertinya dari wajahmu, kamu tampak senang sekali?" tanya Ayah.


"Ya Ayah seru sekali, hm Ayah aku mau istrahat dulu ya"


"Apa ngak makan dulu?" tanya Ayah.


"Sudah Ayah" jawabku bahagia.


Aku pun berlari masuk ke kamarku, aku pun berbaring dan memegang gawai kesayanganku.


Aku mencari nomor kak Doni


"Chat ngak ya aku jadi bingung"


Setelah di pikir-pikir akhirnya aku pun mengumpulkan keberanian diri untuk mengechat kak Doni.


"P"


"Hay" balas Doni.


"Kakak sudah sampai?"


"Baru saja"


"Oh sedang apa sekarang?"


"Sedang memarkirkan motor, kalau begitu sudah dulu ya, aku mau memeriksa tugas yang tadi"


"Oh baiklah"


"Sampai jumpa"


"Sampai jumpa kembali"


Kami pun mengakhiri chatannya, aku pun sambil tersenyum-senyum, meskipun sebentar, tapi ini mengawali adanya rasa suka.


Aku pun tidur sambil tersenyum, bahagianya hatiku.


***


Ke esokan harinya aku berangkat kuliah dengan bersemangat, apa aku akan bertemu dengannya hari ini dengan kak Doni.


Aku pergi ke ruang seni, karena kak Doni mengambil jurusan Kesenian.


Baru saja mau keruangannya, tiba-tiba ada yang menarik kerah bajuku dari belakang.


"Hey " teriakku.


"Mau ngapain kamu kesana?" tanya seseorang, dan ternyata adalah Riko


"Lepasin bajuku" teriakku.


Ia pun melepaskannya.


"Apa kamu melupakan pekerjaan mu sebagai asistenku?" ujarnya mengingatkanku.


"Ya tau" kataku sambil cemberut.


Dia pun memberi tasnya kepadaku, dengan terpaksa aku mengambilnya.


"Dasar, mahluk menyebalkan, perusak suasana" kutukku dalam hati.


Aku pun melangkah menuju kelasnya dan dia mengikutiku dari belakang.


"Riko... Riko... Riko"


Mereka menyapa Riko sepanjang koridor, dan datanglah seorang perempuan menghampiri Riko, ketika agak sepi.


"Riko, ini coklat untuk mu, semoga kamu menyukainya" kata perempuan itu.



"Titipkan pada asistenku saja" kata Riko menunjuk ke arahku, aku langsung memalingkan wajahku.

__ADS_1


"Ini, pastikan Riko untuk memakannya ya" kata perempuan itu kepadaku.


"Baiklah" kataku tersenyum.


Dan perempuan itu pun pergi berlari.


"Untukmu saja"kata Riko kepadaku.


"Tapikan kata dia, aku harus memastikan kamu untuk memakannya"


"Aku ngak suka coklat, apa lagi coklat pemberian dari orang yang aku tidak sukai"


"Oh, jadi yang kamu suka itu mengambil barang milik orang lain, meskipun kamu tidak menyukai orang itu, gitu?" tanyaku geram.


"Apa aku ada mengatakan aku tidak menyukaimu?" tanyanya mengangkat alis.


"Kalau kamu menyukaiku, kenapa kamu menjadikanku pembantumu hah?" sergahku.


"Itu karena kamu harus membayar hutang mu" jawabnya ngeles.


"Kalau kau menyukaiku seharusnya kau menganggap lunas hutangku" kataku sebel


"Aku harus mengetesmu dulu sebelum kau menjadi istriku kelak" katanya membelakangiku.


"Hey... siapa juga yang mau jadi istrimu, bisa bunuh diri aku, jika aku menikah dengan orang pelit seperti mu" jawabku manyun.


"Aku tidak pelit, aku hanya berhemat, aku tidak suka menghaburkan uang yang tidak penting, tapi hanya istri dan anak-anakku yang boleh menghamburkan uangnya" jelasnya panjang lebar dan ketika ia melihat kebelakang.......aku sudah menghilang karena aku melihat melihat kak Doni, dan aku menghampirinya, untuk apa aku mendengarkan ocehan Riko sicowok yang ngak penting itu.


"Hay kak Doni" sapaku.


"Hay Laras" ia juga menyapaku.


"Kak Doni mau kemana ?" tanyaku malu-malu.


"Oh aku sedang menuju ruangan dosen" ujarnya tersenyum


"Oh, baiklah"


"Sampai jumpa" kata Doni mengakhiri percakapannya denganku.


Ketika itu pun Doni pergi, aku melihat punggungnya sambil tersenyum-senyum


"Oh kamu menyukainya" tiba-tiba Riko datang menghampiriku.


"Tentu saja aku menyukai laki-laki seperti dia, laki-laki yang lembut dan baik, bukan seperti seseorang yang sangat menyebalkan" kataku menyindir.


"Ternyata kamu sudah move on dari mantan pacarmu yang malang itu" kata Riko mengejekku.


"Terserah, bukan urusanmu" ucapku sebal.


"Tapi kamu jangan melupakan kalau kau itu asistenku" ujarnya melangkahkan kaki pergi.


Aku terdiam manyun, ingin sekali aku meninjunya sekali


Aku pun mengikutinya dari belakang karena aku sedang membawa tasnya.


Sesampainya di kelasnya, aku pun meletakkan tasnya dan langsung pergi.


"Hey Laras tunggu sebentar"


"Ada apa lagi"kataku ketus


"Tolong ambilkan ponselku yang jatuh" katanya memerintah.


Aku pun melihatnya, ternyata handphone jatuh di kakinya.



"Apa tanganmu patah tuan muda?" ujarku kesal.


"Tambah hutang mu 300 ribu" jawabnya enteng


"Baiklah, baiklah" ucapku manyun.


Aku pun mengambil gawai miliknya, ketika aku mau berdiri ketika itu dia menundukan kepalanya dan akhirnya beradu kepalaku dan mulutnya, dia pun menutup mulutnya, dan aku pun memegang kepalaku.


"Aduh! apa kepalamu batu" katanya meringis kesakitan.

__ADS_1


"Sorry" kataku dan meletakkan di mejanya dan langsung pergi.


Ketika itu Radit datang menghampiri Riko


"Kenapa kamu?" tanya Radit melihat Riko kesakitan.


"Kejedut kepala cewek aneh itu"


"Hahahaha, hati-hati aja nanti malah kejedut cintanya pula" kata Radit terkekeh.


"Ngak mungkin, dia hanya asistenku" elaknya.


"Siapa yang tau, karena sering bersama malah menjadi cinta" kata Radit mengangkat bahunya


***


Ketika kuliah usai Doni menghampiriku.


"Laras ayo pergi makan di luar" ajak Doni.


Belum sempat aku menjawabnya Riko pun datang.


"Maaf, asistenku tidak bisa makan bersama mu, karena dia akan menemaniku makan" kata Riko cepat.


"Apa Laras menyetujuinya?" tanya Doni menatap tajam Riko.


"Jika kamu menyetujuinya tambah satu juta" kata Riko melirikku dan mengancam.


"Apa???" aku terkejut.


"Maaf kak Doni, hari ini aku ngak bisa , mungkin lain kali ya" jawabku tak rela.


"Ngak ada lain kali" kata Riko menatap tajam Doni dan menarikku pergi, dan membawaku masuk kedalam mobilnya.


"Kamu kenapa sih, apa tidak bisa melihatku bahagia sedikit?" kataku marah.


"Tidak ada yang boleh membuat mu bahagia selain aku" jawabnya serius.


"kebahagian apa yang kamu berikan pada ku?" tanyaku tak mengerti jalan pikirnya.


"Membiarkanmu di sisiku" jawabnya enteng.


"Kebahagian macam apa itu" kataku manyun.


"Apa kamu tau, banyak wanita ingin di sisiku meskipun kusuruh mereka mengangkat sepatuku"


"Oh ya kenapa kamu tidak menyuruh mereka saja, malah menyuruhku"


"Oh itu karena kamu berhutang padaku"


"Apa jawabanmu tidak ada selain aku berhutang?"


"Mau jawaban yang lain?"


"Ngak usah" jawabku manyun.


Riko melajukan mobilnya, menuju salah satu restoran mewah, dan ternyata ini restoran lain miliknya, sungguh orang kaya bisa makan di manapun.



Riko pun turun dari mobil dan aku pun mengikuti riko masuk kesana.


"Tuan muda" sapa pelayannya.


"Berikan kami ruangan VVIP"


"Siap Tuan muda"


Pelayan pun menuju ruangan tertinggi untuk memberikan ruangan terbaik untuk Tuan mudanya.


(BERSAMBUNG)


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA



__ADS_1


__ADS_2