
"Riko sepertinya kamu tidak berubah ya, kamu pikir aku Bab*," ujarku tersenyum kecut.
"Oke-oke, aku hanya bercanda," jawabnya sambil cekikikan. Dasar makhluk jail.
"Bawakan steak sapi premium," kata Riko kepada pelayan.
"Baik Tuan," jawab pelayan tersebut dan pergi.
Belum datang makanan kami, tiba-tiba datang Mona dan teman-temannya memperkenalkan bahwa restoran ini milik keluarganya jika dia menikah dengan Rino.
Riko melipat tangan melihat kehebohan Mona, ia membiarkan Mona memperkenalkan dulu. sungguh kepe-dean.
Tak sengaja Mona menatapku dan langsung menghampiriku tanpa ia menyadari siapa bersamaku.
"Kamu cewek plakor itu 'kan? yang udah godain Rino calon suami aku, ngapai kamu disini? sana keluar, aku akan meminta pelayan untuk memBlack list nama kamu agar kamu tidak menganggu calon suami orang lagi, dan asal kalian tau gara-gara dia aku hampir saja putus," teriak Mona sengaja agar terdengar seluruh restoran.
Aku melongo bingung, perasaan dulubitu bukannya dia yang ngak di anggap awalnya dan kok dia ngak sadar ya pemiliknya siapa?
"Heh, kenapa lagi? Cepat pergi sana, merusak pemandangan saja," ucapan Mona namun Riko sengaja menunduk.
Steak sapinya selesai, pelayan menyajikan di atas meja.
"Pelayan bawa kembali makanannya dan masuk nama dia daftar hitam sekarang, kamu taukan siapa aku?" Kata mona mebunjuk kearahku.
Pelayan tersebut hanya terdiam mematung. Ia sendiri tak berani untuk menjawabnya. Aku hanya pelengak plongok saja. bingung mau ngapain?
"Heh kamu dengar ngak sih?" Bantak Mona.
Riko berdiri, akhirnya di bertindak.
"Mona, nama kamu Monakan?" Tanya Riko mengangkat alisnya.
"Eh" Mona langsung kaget.
"Kamu udah baca 'kan di depan yang punya restoran atas nama siapa?" Tanya Riko mengosok-gosok dagunya.
"Kak Riko, tapikan kak Riko juga saudara Rino," kata Mona ketakutan.
"Ini restoran punya saya, bukan punya Rino, sedangkan aku takut sama dia, dan kamu bilang Calon istriku adalah plakor? Sungguh di luar dugaan, kamu sangat berani mengatainya di depan orang ramai, sejentik saja aku bisa membuatmu tidak bisa menikahi Rino, tunggu saja tangal mainnya, ada kejutan untuk hari pernikahan kalian," ujar Riko mengancam.
"Black list nama mereka, jangan pernah biarkan mereka menginjak restoran ini lagi," kata Riko marah.
"Baik Tuan muda," ujar pelayan mengangguk.
"Tapi kak, aku mohon kak, aku minta maaf, aku ngak tau, kalau dia pacar kakak, tolong jangan Black list namaku kak," ujar Mona memohon.
__ADS_1
"Jangan memohon denganku, minta tolong dengannya, karena apa yang aku miliki adalah miliknya," jelas Riko.
"Ha?" Aku melongo karena kaget. Apa benar yang di bicarakannya.
"Katakan sesuatu, itu sih terserah padamu, karena kamu yang di maki dia," kata Riko memandang kearahku dan kembali duduk.
"Maaf ya Mona, aku bukan orang baik, untuk saat ini namamu terpaksa harus di Black list sampai perilakumu berubah," kataku tersenyum kecut.
"Heh, dasar sombong, emang kalian aja yang punya restoran di kota ini, masih banyak yang lain yang bisa kami datangi, tapi mereka tidak ada sesombong kalian," tukas Mona marah.
"Ya setidaknya kamu tidak bisa pamer itu milik keluargamu, jika kamu memberanikan diri kamu pasti di usir juga, dan jika kamu berisik lagi kamu akan aku buat seperti ini," ujarku menancam garpu kedaging membuat mereka begilik ngeri.
"Udah ayo pergi," tarik teman Mona mengajaknya pergi.
"Awas saja kalian," kata Mona mengancam.
"Terserah, ngak takut aku, hus... hus... hus...," usirku seperti mengusir ayam masuk kerumah.
Mona dan teman-temannya pergi dengan jengkel.
Aku mencabut garpu dari daging tersebut, kemudian memotong dan langsung melahapnya.
"Kamu ngomong tadi, kalau bukan orang baik kenapa mengucapkan minta maaf dulu," kata Riko mencibirkan bibirnya.
"Itu tandanya aku orang baik," jawabku bangga.
"Kamu juga, jika berani macam-macam, bukan hanya dagingmu yang kutancapkan, tapi kuiris-iris dan kucincang-cincang dagingmu menjadi kecil, dan kuberi makan peliharaanku," ujarku mengancam.
"Ha, apa peliharaanmu?" Tanya Riko merinding.
"Harimau sumatra," jawabku tegas.
"Pantesan, peliharaannya aja Harimau sumatra, apa lagi Tuannya pasti lebih garang dari Harimau itu sendiri," ejek Riko.
"Sana kamu cari cewek yang baik hati, budi pekerti dan tidak sombong, ngapain kamu ngejar-ngejar aku yang garang ini," jawabku manyun.
"Lumayan buat nakuti maling."
"Asem lu," kataku sambil menokok kepalanya.
"Aduh, kasar banget, kalo kayak gini terpaksa satpam di rumahku kuberhentikan," ujarnya memegang kepalanya.
"Apa urusannya aku kasar sama memberhentikan satpam di rumahmu?" Tanyaku tak mengerti.
"Iya satpamnya kamu yang gantiin, kalo kamu garang kayak ginikan jangankan maling, anjing gila aja ngak berani masuk," ujarnya meledek.
__ADS_1
"Rikoooo, kamu pikir aku ni apa? Ngak selera aku makan lagi," ujarku menaruh garpu di piring kembali.
"Cup... cup... Laras yang cantik jangan marah donk, ayo di makan lagi," kata Riko menyuapi daging ke mulutku. Aku mangap dan memakannya.
"Sial, ngak bisa marah aku samamu," jawabku tersenyum.
"Gitu donk, senyummu itu lebih manis dari madu dan lebih pahit dari empedu," ujarnya membuat kujengkel kembali.
***
Sesampai di rumah aku melihat Ayah dan pak Kim sedang mengobrol di teras rumah.
"Lihatlah Jhoni, mereka saja akur, seperti tidak ada kejadian apapun," ujar pak Kim merayu.
"Diakan anak muda, mana ngerti pertengkaran orang tua," kata Ayah membela diri.
"Tapi setidak kamu harus ngalah demi anak kamu."
"Ngalah? enak aja jidatmu ngomong, itu urusan Laras sama Riko, dan ini urusan mu denganku." jawab Ayah bersitegang.
"Eh... anu... mulutku yang ngomong, bukan jidat," jawab pak Kim menjelaskan.
"Terserah, emang kamu pikir aku akan berbaik hati menerimamu kembali seperti dulu," ujar Ayah yang masih bersikeras.
"Jhoni, aku benar-benar minta maaf, apapun yang kamu, akan aku turuti," kata pak Kim.
"Aku ngak mau apapun," kata Ayah merajuk.
"Jadi apa yang harus aku lakukan Jhoni, agar kamu memaafkan aku," ujar Pak Kim lagi.
"Minta maaf dengan Laras, jika dia memaafkanmu aku juga akan memaafkanmu," perintah Ayah.
"Sudahlah Ayah, maafkan saja pak Kim, aku sudah maafkannya Ayah," ujarku meredakan perdebatan mereka.
Ayah menarik tanganku masuk kedalam rumah.
"Laras, kenapa kamu memaafkannya, biarkan dia sungguh sangat bersalah, sehingga dia tidak punya cara lain lagi, sampai dia memberi sesuatu yang sangat berharga, baru kita memaafkannya," Bisik Ayah.
"Sesuatu berharga, apa itu Yah ? Pokoknya kamu tidak tau itu," ujar Ayah.
"Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah memaafkanya, udahlah Yah, jika dia ingin memberikannya, itu pasti jadi milik ayah kok," kataku menengakan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1
TERIMA KASIH