
"Ya kalian datanglah bantu-bantu," ajak Radit.
"Hujan begini lebatnya gimana kami kesana, mending tidur sama istri tercinta," ujar Riko pamer.
"Ngak usah pamer deh kamu, kalian belum menikah, ayo kesini," kata Radit.
"Alamatnya di mana?" Tanya Riko.
"Sewa hotel kamu aja deh, aku bayar dowble," kara Radit.
"Ya sudah, hotel di jalan mahoni aja, kami langsung meluncur nih," kata Riko bersiap-siap.
"Oke Thanks," ucap Radit dan menutup panggilannya.
"Ayah Radit kerjanya apa sih?" Taku penasaran, karena ia sanggup bayar dowble.
"Tas branded," jawab Riko.
"Jadi tas merk anisial R itu artinya Radit ya?" Tanyaku terkagum.
"Bukan, merk I.T itu baru punya dia, sekarang di pasaran bersaing tak milik R dan I.T," jelas Riko.
"Ooo... kalau Ari Ayahnya kerja apa?"
"Gucci persolen hiasan meja itu buatan Ari sendiri," tunjuk Riko.
"Wah... berapa harganya?" Tanyaku penasaran.
"Ya beda-beda dari harga 1.000.000 sampai ratusan juta," jelas Riko.
"Kalo ini berapa?" Tanyaku mendekati gucci di samping tivi.
"Itu murah, 50.000.000," kata Riko.
"Apaaa... aku tak mengerti cara orang kaya menghabiskan uangnya, jika pecah habis begitu saja uang 50.000.000 itu," aku mengeleng kepala karena sangat di sayangkan.
"Itu sudah tahan uji coba, bahkan jika kamu masak air di sanapun bisa," jelas Riko.
"Woow," aku berdecak kagum.
"Itukan hotel kamu, kenapa kamu tidak mengratiskan untuk Radit dan Ari?" Tanyaku lagi.
"Teman ya teman, bisnis ya bisnis, lagian dia sanggup buat bayar, kecuali dia minta tolong," jelas Riko.
"Udah ayo berangkat," ajak Riko. Aku mengangguk.
Sesampainya di hotel.
"Selamat datang Tuan muda," sapa pegawai hotel.
Riko mengangguk dan langsung menuju tempat Cashier.
"Mana laporan pemasukannya dan pengeluaran uang hotel," tagih Riko kepada pegawainya.
"Maaf Tuan muda belum selesai," jawab pegawai itu takut-takut.
"Aku sudah menunggu 1 minggu lamanya dan tidak ada kabar sama sekali dan juga jika belum siap kenapa kalian tidak ada yang memberi tahuku?" Tanya Riko mulai kesal.
"Maaf Tuan muda kami akan segwra menyelesaikan secepatnya," jawab pegawai itu lagi.
"Secepatnya? Jika aku tidak datang bisa saja kalian bersantai-santai dan juga laporan bulan lalu saja tidak lengkap, apa kalian pikir aku bermain-main aku tidak melihat hasil kinerja kalian, aku ngak mau tau menjelang pesta temanku selesai, laporan sudah aku terima, termasuk laporan bulan lalu, jika kalian tidak bisa mengerjakannya, kalian bisa keluar dari pintu hotel ini, aku tidak mau mempekerjan orang yang pemalas, kalian seramai ini tidak ada yang sempat mengerjakannya, apa mungkin kalian tidak mau bekerja lagi," ukar Riko memarahi kariyawannya.
"Maaf Tuan muda kami akan segera menyelesaikan," kata pegawainya menundukan kepala.
"Sekarang," teriak Riko.
"Baik Tuan muda," ujar pegawai dan langsung pergi memanggil teman-temannya untuk mengerjakan laporan tersebut. Mereka pada belarian kedepan komputer.
__ADS_1
"Kok aku baru tau ya, Riko yang bucin ini ternyata garang banget?" Tanyaku melipat tangan.
"Hehehe... sama mereka saja, kalo sama kamu aku ngak berani," senyumnya merangkul bahunya.
"Siapa itu perempuan yang bersama Tuan muda?" Tanya pegawai bekerja sebagai resepsionis.
"Iya biasanya Tuan muda tidak pernah membawa perempuan, bahkan mereka bercanda," kata salah satu pegawai itu saat melihat aku dan Riko berbicara santai sambil tertawa.
"Apa mungkin pacarnya?"
"Mana mungkin, palingan hanya temannya,
"Iya ya, mana mugkin,"
"Hay Riko, hay Laras," sapa Radit dan Ari.
"Ku pikir kalian sudah datang duluan?" Tanya Riko memutar bola matanya.
"Gimana lagi, hujannya deras banget," jawab Radit enteng.
"Bangsat lu bedua, aku kalian suruh datang cepat, mana mau bermesraan kalian gangguin," omel Riko menedang pantat Radit dan Ari tapi tidak kena.
"Setidaknya mencegah kalian berdua berbuat yang tidak penting," kata Ari terkekeh.
"Apa kalian bilang? Tidak penting, itu sangat penting oke!" Sanggah Riko.
"Hehehe... iya deh, tapi ngomong-ngomong, kenapa sepi sekali, pada kemana pegawaimu lagi?" Tanya Radit.
"Aku suruh mereka kerja, selama ini mereka bermalas-malasan," kata Riko dengan suara kencang, dan para pegawai terdiam.
"Oh ya berikan kami ruangan khusus dan bersihkan, aku butuh 2 orang pegawai laki-laki dan 1 orang perempuan," perintah Riko.
Mereka berdatangan kearah Riko.
"Ayo ikut aku keruangan, dan untuk Radit dan Ari, kalian berdua sana beli perlengkapan perayaan, kalian yang mau bikin acara malah datang dengan tangan kosong," peritah Riko.
"Istriku bukan pembantu," kata Riko menghalangiku.
Kariyawan yang dekat situ ada yang menutup mulut, ada yang kaget, ada juga terbelalak.
"Kenapa kalian? Aku dan Laras sudah bertunangan, hari pernikahan nanti aku akan mengundang kalian semua," kata Riko sambil menunjukan cincin di jarinya dan di jariku.
"Selamat Tuan muda," ujar pegawai itu.
"Riko kami bukan menjadikan Laras pembantu, lebih tepatnya minta bantuan," kata Ari.
"Cari orang lain saja," ujar Riko.
"Ya sudah sini kubantu tuliskan," jawabku, dan meminta kertas HVS dan pena kepada pegawai.
Spanduk.
Kue tart.
buket bunga.
Sewa dekorasi.
Boneka.
Konsumsi.
selesai.
"Oke masalah konsumsi kita langsung dari hotel dan dekorasi kita pesan online, 1wwffrsisanya kalian cari sendiri," kata Riko.
"Oke terima kasih," ucap Radit.
__ADS_1
"Kami pergi dulu," ujar Ari. Dan kami bergegas masuk keruangan, ruangan ini besar juga.
Riko menelpon tukang dekorasi untuk segera datang. Mereka membersihkan ruangan meskipun tidak kotor. Tak lama tukang dekorasi datang dan aku juga ikut membantu.
Tempat menyatakan cinta Radit & Lusi, Ari & Putri.
Radit dan Ari mencari buket bunga.
(Buket hasil karya Author sendiri).
Mencari boneka.
Dan tak lupa mencari tart.
Akhirnya mereka kembali kehotel. fan merapikan semua yang ada, kemudian mematikan lampu.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Halo Lusi, kamu di mana?" Tanyaku pura-pura panik.
"Di rumah ada apa Laras, kok sepertinya terjadi sesuatu padamu," kata Lusi khawatir.
"Boleh minta tolong jemput aku di hotel ngak sama Putri juga," kataku lagi.
"Hotel mana?" Tanya Lusi tak sabaran.
"Riko hotel, jalan mahoni bawa putri juga," kataku mengingatkan dan langsung mematikan ponselku.
"Bagaimana? Beres?" Tanya Radit.
"Beres," jawabku mengacungkan jempol.
1 jam...
2 jam...
3 jam...
4 jam...
"Kemana mereka kok ngak nongol-nongol sih," kata Radit bete.
Tintin...
Tintin..
Tintin...
"Halo Lus," jawabku, karena kupikir Lusi yang menelpon.
"Halo selamat sore, apakah ini dengan keluarga yang punya ponsel ?" Tanya seseorang yang suaranya sangat asing bagiku.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA
__ADS_1
TERIMA KASIH