Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Amarah Galih


__ADS_3

“Mas! Kamu jangan seperti anak kecil seperti ini donk mas. Gaby pasti nyariin mas Galih terus,” ucap Ganes.


“Terus aku harus bagaimana Nes? Aku pergi dengan adikmu sedangkan kamu berduaan dengan teman mesramu itu iya itu maumu?!” sentak Galih penuh emosi.


Memang sudah beberapa hari ini Galih tak menemui Gaby. Itu berawal saat ia tengah menemani gadis itu ke sebuah pameran, tanpa sengaja Galih bertemu dengan istrinya Ganes sedang bersenda gurau bersama Ello sahabatnya di tempat yang sama.


“Mas hubungan kami tak seperti yang mas Galih fikirkan! Kita hanya teman mas tidak lebih.”


Ganes pun terisak melihat raut amarah dari diri suaminya.


“Memang apa yang ada difikiran mas? Sejatinya hubungan pertemanan antara pria dan wanita itu tidak ada Nes, tidak ada! Mas bisa melihat bagaimana kalian saling tatap satu sama lain," ujar Galih sambil terisak.


Ganes pun menggeleng pelan. Padahal hubungannya bersama Ello baru saja terjalin kembali dan kini suaminya melarangnya bertemu sahabatnya dan juga pria itu tak ingin menjalankan misi mereka kembali.


“Nes, kenapa mas lakuin ini? Karena mas itu sayang kamu Nes! Mas tak ingin kehilanganmu, tolong hargai perasaan mas. Mas sudah melakukan apa pun untukmu termasuk menjadi kekasih pura-pura Gaby. Apa semua itu belum cukup?” lirih Galih.


“Mas maafin Ganes, Ganes memang menyayangi Ello tapi hanya sebatas teman mas tidak lebih...dan hubungan ka....hmpp.”


Tak ingin mendengar ucapan sayang istrinya untuk orang lain, Galih pun meraup bibir sang istri dan mengecupnya lembut.


Kecupan yang lembut itu kini berubah menjadi menuntun, hingga Galih mendorong sang istri ke sofa dan mulai mencumbu Ganes dengan sedikit kasar. Memberi tanda kepemilikan di setiap inci tubuh istrinya. Agar pemuda yang bernama Ello itu tahu, istrinya itu sudah menikah dan berhenti mendekati istrinya terus menerus.


“Mas tak ingin mendengar kata sayang dari bibirmu ini untuk orang lain Nes, sayang dan cintamu hanya untukku yang mempunyai hak atas segala yang ada di tubuhmu.”


Galih pun menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu pemuda itu kembali meraup bibir ranum sang istri.

__ADS_1


Ganes hanya bisa menitikkan air mata. Percumbuan mereka kali ini dilakukan dengan kasar oleh Galih. Membuat hati Ganes sedikit terluka. Memang ini karena salahnya, salah Ganes yang selalu menuruti Ello yang ingin bertemu dengannya.


*


*


Gaby menatap layar ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas nakas. Tak ada satu pun notifikasi yang muncul. Bahkan dari sang kekasih pun tidak. Terhitung sudah 5 hari Galih tak menghubunginya membuat Gaby jadi merasa rindu.


Sudah beberapa kali Gaby menelefon pemuda itu namun hasilnya selalu di alihkan. Pesan darinya semenjak 5 hari yang lalu pun tak terbacakan sama sekali.


Hati Gaby di selimuti rasa khawatir, rasanya ia ingin menemui sang kekasih takut sang kekasih sakit dan tidak ada yang merawatnya.


Sebelum ia memutuskan pergi, tiba-tiba hati Gaby jadi mengingat Mr.Cupid. Dokter cinta yang ia temui di rumah sakit. Gaby seolah percaya dengan apa yang di katakan Ello waktu itu. Tidak ada salahnya, Gaby berencana konsultasi masalah cintanya dengan Galih kepada Mr.Cupid itu.


Karena sebagai kekasih, Galih selalu menolak jika ia ajak berpelukan. Bahkan Galih tak pernah menciumnya mesra seperti kebanyakan para pasangan kekasih lakukan.


“Ada apa? Temui saja aku di apartemen!”


Tut!


“Ih! Nggak jelas banget deh! Main matiin aja, mana ku tahu alamat apartemenmu dimana?!” gerutu Gaby kesal.


Ting!


“Baru di omongin juga, tapi kira-kira ayah sama ibuk ngijinin aku keluar malem-malem tidak ya?”

__ADS_1


Sudah beberapa hari Gaby sudah bisa menerima kehadiran ayah dan ibunya dan menganggap mereka sebagai orang tua. Namun tidak dengan Ganes.


Ingatan Gaby seakan menolak untuk mengingat siapa Ganes yang merupakan kakak kandungnya. Seperti ada rasa sakit yang tak bisa Gaby jelaskan jika mengingat tentang Ganes.


Gaby mengalungkan sling bagnya, lalu berjalan keluar kamar dengan mengendap-ngendap. Hampir sepekan Gaby terkurung di rumah sendiri bagaikan burung merpati. Karena sudah beberapa hari Galih sang kekasih tak mengunjunginya, membuat gadis itu merasa frustasi. Karena hanya dengan Galih, Gaby di ijinkan keluar rumah oleh ayah dan ibunya.


“Yes! Mumpung sepi kabur ah!”


Kebetulan kedua orang tua Gaby sedang menghadiri pertemuan dengan kolega bisnis mereka. Sehingga ini kesempatan emas untuk Gaby bisa keluar dari rumah yang ia anggap kurungan burung.


“Memang mereka anggap Gaby ini burung apa, di kurung terus?hi..hi”


Gaby terkikik geli dengan tingkah konyolnya. Ia keluar rumah hanya mengenakan piyama tidur dan sandal rumahan. Lagian niat Gaby hanya ingin bertemu Mr.Cupid dan menkonsultasikan apa yang ia rasakan. Lalu pulang sudah gitu aja.


Sampainya ia di sebuah apartemen elit, Gaby langsung menekan sesuai nomor apartemen yang dokter itu berikan.


Pintu pun terbuka otomatis, namun ruangan itu tampak temaram tanpa pencahayaan. Hanya lampu tidur yang menyala redup.


“Hai..Mister Cupid! Dimana kamu?” panggil Gaby pelan.


Ruangan itu tidak terlihat seperti luarnya. Tampak berantakan karena banyaknya sampah berceceran dan juga banyal botol miras tergeletak begitu saja. Gaby bergidik ngeri melihat kebiasaan dokter yang ia nilai tidak sehat itu.


“Dasar kau memang dokter gadungan! Lihat kelakuanmu menjijikan!”


Gaby pun merundukkan tubuhnya untuk memungut sampah itu satu persatu. Namun gerakannya tercekat karena sebuah lengan kekar memeluk tubuhnya dari belakang dengan posesif.

__ADS_1


Grep!


“Arraagh....hmmp!”


__ADS_2