
“Majulah.”
Sean pun memberi aba-aba ke Ello maju duluan untuk memulai aksinya. Ello siap memberikan pukulan Pyojeok jireugi yaitu jenis pukulan yang mengarah pada sasaran.
Dengan gesit Sean mengelak kearah samping. Sebagai pendekar taekwondo yang sudah lama mahir dan terbiasa berkelahi bukan hal yang sulit bagi seorang Sean untuk menghindar dari tehnik dasar pukulan tersebut.
Belum puas karena tak tepat sasaran, Ello pun melancarkan pukulan beserta tendangan dengan tehnik Twieo Ap Chagi yaitu tehnik Tendangan depan yang dilakukan sambil melompat.
Kali ini mengenai wajah Sean yang sepertinya telat semenit untuk menghindar dari serangan bertubi-tubi yang Ello luncurkan barusan. Ello pun menyeringai puas.
“Brengsek!”
Tak ingin kalah dari Ello, Sean pun meluncurkan pukulan serta tendangan yang sama tanpa jeda. Ello yang tak segesit Sean pun hampir terjungkal dengan luka di sudut bibirnya.
Kali ini Sean bisa tersenyum puas. Melihat Ello merintih menahan nyeri seperti dirinya. Kedua penerus Sanders serta Seanor itu memiliki nilai seri, sama-sama kuatnya. Kini Keduanya pun sama-sama meluncurkan pukulan serta tendangan yang lebih intens.
Keduanya sama-sama kuat mampu menangkis dan saling menghindar. Sejenak mereka berhenti untuk mengambil nafas dan mengatur strategis. Kini Sean nampak tersenyum menyeringai seperti tengah menemukan sebuah rencana jitu. Dan Ello pun bisa membaca gerak-gerik Sean yang mencurigakan itu.
Apa yang tengah Sean rencanakan? Apa ia akan memakai cara licik untuk mengalahkanku? Aku harus bisa lebih hati-hati lagi ..
“Apa hanya segitu kemampuanmu El? Majulah dan tunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya!” pancing Sean sambil menyeringai.
“Brengsek!”
Ello nampak termakan pancingan Sean. Dengan tidak sabar, Ello mulai melancarkan aksinya. Meluncurkan tendangan ke samping, ke atas serta ke bawah. Hingga Ello merasa sedikit terengah-engah karena kelelahan. Namun sepertinya semua gerakan Ello sudah terbaca oleh Sean. Sehingga pemuda berambut mullet itu dengan mudah menghindar.
Melihat Ello sedikit kesulitan mengatur nafasnya karena kelelahan. Dengan cepat Sean meluncurkan serangan mematikannya yaitu Dwi Chagi dimana Sean menggunakan tehnik menendang ke belakang dengan cukup keras hingga mengenai Ello. Dan Ello pun mundur secara perlahan.
__ADS_1
Darah pun menyembur dari rongga mulut Ello. Sean tertawa sini melihat Ello memuntahkan darahnya. Tak puas sampai di situ, Sean menyerang Ello lagi dan mengunci gerakan Ello cepat. Secepat tak kasat mata tiba-tiba Sean ingin menghunuskan pisau belati ke arah tenggorokan Ello
“Bagaimana? Sampai di sini apa kau mengaku kalah?” tanya Sean menghakimi.
“Brengsek! Kau licik Sean! Seharusnya tidak ada senjata tajam dalam permainan ini!”
“Ha..haha... Kau lupa El, ini rumahku jadi terserahku ingin berkelahi seperti apa itu hakku El. Jadi bagaimana? Apa kau sudah berserah akan Gaby?”
“Tidak akan pernah ku biarkan kau menyentuh Gaby barang seujung kuku pun. Karena kau itu manusia kotor Sean!”
Mendengar ejekan Ello membuat rahang Sean mengetat keras. Urat-urat kemarahan nampak tercetak jelas di wajah tampan pemuda bertatoo itu. Wajah Sean merah padam bagaikan singa yang siap menerkam musuhnya.
“Kurang ajar! Terimalah ajalmu!”
Sean siap mengangkat tinggi-tinggi pisau belatinya dan siap menghunuskan tepat di tenggorokan Ello. Melihat Ello dalam bahaya, Ganes pun berteriak-teriak dan ingin menyelamatkan Ello namun di tahan oleh anak buah Sean yang menyebar di seluruh ruangan itu.
“Hentikan Sean! Hentikan kekonyolanmu ini! Jangan ikuti jejak kakekmu itu!” Teriak seorang pria paruh baya dari seberang.
Di ikuti beberapa anak buahnya yang lebih banyak dari jumlah anak buah Sean. Merasa terkepung Sean pun tertawa sumbang.
“Cckk! Dasar cucu manja, segini saja kau pakai membawa-bawa laki-laki tua bangka itu! Payah!” cibir Sean seraya menahan perih pada luka tangannya.
“Kakek!” pekik Ello.
“Tuan Mahesa,” desis Jay.
“Untuk kakek ada di sini?!” protes Ello yang sebenarnya tak menghendaki kehadiran sang kakek di tempat itu.
__ADS_1
“Untuk apa katamu! Dasar bodoh! Jelas untuk menolong cucuku yang payah ini! Sudah memegang sabuk hitam tapi tetap saja kalah! Aku tak ingin cicitku terlahir tanpa ayahnya nanti. Mengerti tidak!” omel Tuan Mahesa ke arah Ello.
“Dan kau Sean, untuk apa kau mengikuti jejak kakekmu dan meneruskan pertentangan ini! Urusan kakekmu dan aku sudah terjadi lama. Kakekmu hanya salah paham kala itu, aku tak bermaksud merebut calon nenekmu. Bahkan aku tidak tahu bahwa wanita itu adalah kekasih kakekmu Seanor. Wanita itu sebenarnya sangat mencintai kakekmu. Namun ia mempunyai hutang budi dengan keluargaku. Tapi Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menikahi wanita itu. Dan sampai saat ini, wanita itu masih betah menyendiri,” ungkap Tuan Mahesa menjelaskan.
“Lalu, siapa wanita itu?” ucap Sean dan Ello bersamaan hingga kecanggungan terjadi di antara mereka.
“Wanita itu adalah suster Eva El,” jawab Tuan Mahesa.
“Apa suster Eva! Jadi..jadi..” Ello tak mampu berkata-kata lagi. Ternyata ada kisah kelam antara sang kakek dan juga suster pengasuhnya itu.
“Siapa suster Eva?” tanya Sean ingin tahu.
“Suster Eva adalah suster pengasuh Ello sedari bayi. Sebenarnya suster Eva adalah nenekmu Sean. Namun karena ia hanya seorang pembantu maka tidak di akui oleh keluarga besar Seanor. Ayahmu Sandy Seanor adalah putranya bersama suster Eva itu.”
“Itu mustahil! Kakek bilang kau sudah membuat keluarganya hancur dan kehilangan orang yang ia cintai!”
“Terserahmu Sean ingin percaya atau tidak! Tapi aku berbicara fakta sebenarnya di sini! Jadi sudahi semua kekacauan ini. Kita ini masih saudara, tidak pantas bertengkar hanya karena seorang wanita,” tutur Tuan menasehati.
Mendengar ucapan Tuan Mahesa, Sean pun tertawa terpingkal-pingkal.
“Ah! Permainan ini sungguh membosankan! Kau tahu El! Selama ini aku hanya ingin bermain-main saja denganmu. Ingin tahu seberapa tangguhnya dirimu ini. Jika sudah begini, sudahi saja lah. Karena aku sudah bosan!”
Setelah berucap itu Sean pun berlalu sambil mengumpulkan anak buahnya. Dan mengajak seluruh anak buahnya pergi meninggalkan mansionnya itu.
“Dokter Edwin dan petugas suruhanku akan mengobati seluruh luka kalian, jadi diamlah di sini jangan keluar mansion ini sebelum mereka datang,” ucap Sean sebelum berlalu.
“What??”
__ADS_1
Bersambung...