
Gaby memberengut kesal lalu memalingkan wajahnya kearah lain.
“Jangan ngambek, cepat makanlah..aku yakin si kecil di dalam sana juga pasti lapar.”
Gaby mendadak tersedak oleh air ludahnya sendiri, mendengar kalimat perhatian yang seketika membuat hatinya menghangat.
Entah ia harus senang atau kah kesal, tiba-tiba malam ini ia berkencan dengan pria yang sudah merenggut mahkotanya. Pria yang sudah menanam benih kehidupan di dalam tubuhnya. Apakah itu artinya Gaby mulai ada rasa kepada Ello?
Gaby tak menyahuti ucapan Ello, namun gadis itu mengikuti apa yang Ello ucapkan. Gaby mulai makan beberapa hidangan yang ada di hadapannya dan memakannya dengan lahap. Rasa lapar begitu mengalahkan rasa malunya di hadapan pria seperti Ello.
Ello tersenyum bahagia melihat Gaby sudah bisa sedikit menerima kehadirannya. Menerima sedikit perhatian kecil yang selama ini gadis ini tolak. Dan anehnya lagi, selama bersama Gaby, Ello tidak pernah sama sekali merasakan mual atau pun perasaan ingin muntah.
“Gab, mau kah kau menjadi kekasihku?” ucap Ello tiba-tiba dan langsung membuat Gaby tersedak oleh makannan.
Uhuk! Uhuk!
“Kau ingin aku mati!” omel Gaby kemudian.
“Maaf, maaf ini minum dulu.”
Gaby pun meraih minuman dalam genggaman Ello, lalu meminumnya dengan sekali teguk. Membuat Ello hanya meringis melihatnya.
“Jangan ganggu aku makan El, bicaranya nanti saja. Aku sedang ingin makan sekarang. Oke!”
“Oh, oke!”
Gaby pun menusuk beberapa potongan steak beserta sayuran ke dalam mulut bersamaan. Ello yang melihatnya hanya bisa menelan ludah, sepertinya Gaby sedang lapar. Hanya melihat gadis itu makan membuat Ello merasa tiba-tiba kenyang.
__ADS_1
Gaby tak peduli Ello terus memperhatikannya, ia juga tidak peduli jika nanti Ello mengatainya sapi atau pun babi. Karena makan dengan rakus seperti itu. Gaby hanya ingin mengetes seperti apa Ello, apakah ia lelaki yang bisa menerima apa adanya dirinya? Secara Ello itu dari golongan crazy rich seperti yang temannya Ismi bilang.
Diam-diam Gaby sudah menyiapkan sebuah jawaban atas pertanyaan Ello barusan. Setelah mempertimbangkan sebisa mungkin, dan akhirnya Gaby memilih jawaban itu.
Jawaban yang pas untuk dirinya dan juga untuk anak yang ia kandung. Gaby juga sudah mulai lelah jika harus terus menghindar dari pemuda beralis tebal itu.
Senyum yang memuakkan, namun dalam hati Gaby juga merindu. Entah sejak kapan rasa itu ada, yang pasti saat ini Gaby hanya ingin di samping pemuda itu.
Gaby mengambil tisu lalu mengelap noda sisa-sisa makanan makanan pada wajahnya. Lalu gadis itu pun menopangkan kedua tangannya di atas meja dinner tu setelah pelayan Ello membersihkan meja mereka.
“Kamu tak makan?” tanya Gaby basa-basi.
“Hanya melihatmu makan saja, rasanya aku sudah merasa kenyang,” gurau Ello.
“Jadi bagaimana apa aku sudah bisa mendapat jawaban?” imbuhnya.
“Setelah aku fikir-fikir lagi, maaf mungkin aku tidak bisa.....”
“Sudahlah tidak usah di lanjutkan, aku mengerti mana mungkin kamu menyukai pria yang sudah merenggut mahkotamu dengan paksa. Kamu pasti membenciku, ya sudah ayo aku antar pulang kamu saja!” Ello berbicara sedikit dengan nada tegas tak selembut sebelumnya.
“Hei! Dengerin dulu! Maksudku aku tidak bisa untuk menolakmu!”
Mendengar kalimat yang Gaby ucapkan barusan membuat fikiran seketika ngebleng, dan terdiam sesaat.
“Kamu serius? Nggak lagi bohong kan Gab?”
Gaby hanya mengangguk. Lalu sejurus kemudian Ello langsung memeluk tubuh berisi Gaby dengan posesif.
__ADS_1
“El sudah! Sumpah engap banget nih habis makan aku!”
“Ah..maaf-maaf, maafkan papa ya nak. Papa terlanjur senang.” ungkap Ello sambil mengusap perut Gaby yang masih rata dan seketika membuat wajah gadis merona.
“Terima kasih Gaby, aku janji aku akan berusaha menjadi seperti apa yang kamu minta. Melalui hubungan ini, kita bisa mempelajari satu sama lain. Dan juga nanti aku akan meminta restu kepada keluargamu yang ada di tanah air.”
Deg!
Tiba-tiba saja jantung Gaby seraya berhenti berdetak. Entah nanti ia harus bagaimana menjelaskan hubungannya bersama Ello dan juga mengenai kehamilannya kepada ayah dan juga ibuknya.
Sedangkan ia pamit ke Singapore untuk belajar. Namun apa yang ia lakukan sekarang? Pulang-pulang justru membawakan cucu untuk mereka.
“Gaby! Ada apa?”
“Ell, aku rasa perjalanan kita ke depannya tidaklah mudah.”
“Seberapa sulit kesulitan itu, kita akan hadapi bersama Gaby. Aku akan menjelaskan kepada keluargamu secepatnya. Karena aku tak ingin anak ini terlahir tanpa ayah,” sahut Ello menyakinkan.
Sebagai dokter Ello sangat tahu pasti. Banyak pasien yang ia tangani meminta kepadanya untuk menggugurkan darah daging yang tak berdosa itu Dan banyak pula di antara mereka lahir tanpa ayah, hingga membuat ibunya depresi dan menyalahkan Kehadiran bayi yang tidak tahu apa-apa itu.
Apalagi itu jika terjadi kepada Gaby. Tentu ia juga tidak rela jika anaknya terlahir kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Sedangkan perasaan Ello kepada Gaby sudah bersemi semenjak ia bertemu kembali dengan gadis itu di Singapore. Meski masih ada sisa-sisa perasaan untuk Ganes kakak Gaby. Namun Ello berjanji dalam hati untuk berusaha mencintai Gaby, dan menghapus perasaannya untuk Ganes wanita yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya kelak.
Kira-kira masalah apa yang akan mereka hadapi kelak?
Support author terus ya, karena akhir² ini bnyak halangan yang membentang mmbuat otor maju mundur buat update..😂
__ADS_1