
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ello terus menggenggam telapak tangan Gaby yang ia tidurkan di jok mobil disampingnya. Sungguh, kali ini perasaan takut kehilangan itu begitu menyergap hatinya.
Istrinya Gaby sudah banyak melewati kepahitan hidup. Dari mulai kecelakaan hingga amnesia, lalu amnesia kembali saat di paksa nikah. Dan di culik oleh mantan tunangannya yang psikopat itu.
Ya Tuhan, biarkan kami bersama walau pun sekejap saja. Biarkan kami merasakan indahnya merajut kasih bersama hingga usia kami menua ..
Entah, perasaan Ello semakin tak menentu ketika merasakan denyut nadi Gaby yang semakin melemah. Ello pun mempercepat laju roda empatnya, bahkan tak segan Ello pula menerobos lampu merah yang baru saja menyala. Beruntung kendaraan di jalan itu tidak begitu ramai dan tidak sampai terjadi kecelakaan. Namun tetap saja cara Ello bisa saja membahayakan orang lain.
Dengan kecepatan penuh, akhirnya Mobil Ello sampai di rumah sakit daerah di kota itu. Dengan cepat Ello membopong tubuh lemah Gaby menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat) Mount Elizabet Hospital.
Ello tak pedulikan darah Gaby memenuhi hampir seluruh kemeja yang ia kenakan. Yang terpenting saat ini, adalah keselamatan Gaby lebih utama.
“Dokter! Dokter! tolong istri saya!” teriak Ello dengan panik.
Karena teriakan Ello, beberapa petugas IGD pun datang berbondong-bondong menghampiri pemuda tampan dengan banyak noda darah hampir di seluruh tubuhnya.
Mereka semua pun bergegas melihat noda darah yang begitu banyak. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan wanita yang pria tampan itu bopong.
”Apa yang terjadi dengan pasien tuan?” tanya salah satu perawat.
__ADS_1
“Istri saya habis melahirkan di sebuah klinik namun ia mengalami banyak kehilangan darah, tolong selamatkan istri saya sus!” pinta Ello.
“Baiklah, kami akan melakukan hal semampu kami. Silahkan tuan menunggu pasien di luar ruangan.”
Lagi-lagi Ello hanya bisa menurut. Yang terpenting saat ini keselamatan Gaby adalah segalanya bagi Ello. Hampir saja Ello lupa mengabari Sean, meski sempat kesal namun tetap saja saat ini ia membutuhkan pertolongan dari sepupunya itu.
“Hallo, Sean tolong datanglah ke Mount Elizabet Hospital sekarang! ini penting, Gaby butuh kamu!”
Setelah berucap itu, Ello pun langsung menutup panggilannya. Dan tidak lupa pula mengabari keluarga Gaby lagi untuk membawa baby G ke rumah sakit dimana Gaby sekarang di tangani.
Tak lama seorang suster keluar dari ruangan itu dengan berlari tergopoh-gopoh.
“Ada sus, sebentar lagi orangnya akan segera kemari. Persiapkan saja ruangan untuk melakukan transfusi darah segera,” ucaps Ello dengan tegas.
Hati Ello semakin di landa rasa khawatir yang begitu dasyat. Takut, takut bila rasa kehilangan itu benar-benar terjadi. Ello pula adalah seorang dokter, ia sudah sering melihat kepergian pasien yang di tangisi oleh keluarganya. Namun kini Ello merasa belum siap dan tak rela jika harus merasakan kehilangan seperti keluarga para pasiennya yang sering ia tangani.
Tak lama segerombolan orang berlari-lari sepanjang koridor rumah sakit. Hingga beberapa perawat serta pasien keluar ruangan setelah mendengar keributan orang sedang berlari-lari.
Dari jauh Ello sudah mengira, pasti itu ulah sepupunya itu. Ello pun tersenyum miring, mungkin Gaby juga berarti bagi sepupunya itu. Buktinya, ia minta datang secepat mungkin pun dan tak butuh waktu hingga berjam-jam, Sean akhirnya datang dengan gerombolannya. Persis seperti orang ingin tawuran. Sampai-sampai, petugas keamanan mengikuti langkah mereka dari belakang.
__ADS_1
“ El, bagaimana keadaan Gaby?” tanya Sean yang ikut cemas.
“Dia kritis Sean, bisakah kau secepat melakukan donor darahnya?”
Sean pun mengangguk, lalu bergegas menuju ruang donor darah yang tak jauh dari ruangan Gaby. Ello pun menatap skeptis kearah Sean, seorang cassanova sepertinya bisa mencintai istrinya Gaby. Namun Ello berusaha berbesar hati selama Sean tidak menabuh genderang perangnya. Selama itu pula, Ello berusaha untuk menahan diri.
Sebelum melakukan tranfusi darah, Sean melakukan serangkaian pengecekan laboraturium terlebih dahulu yang sedikit rumit. Mengingat darah yang di miliki Gaby bukanlah darah biasa.
Tak lama hasil laboraturium itu pun keluar dan Sean di nyatakan Positif cocok. Serta tidak ada kandungan penyakit apa pun dalam tubuhnya. Padahal Sean sudah terbayang-bayang akan apa yang di ucapkan Gloria saat berada di atas kapal.
Beruntung selama berhubungan dengan wanita mana pun termasuk Gloria sendiri, Sean selalu menggunakan alat pengaman untuk mencegah segala kemungkinan hal yang bisa saja terjadi. Seperti kehamilan mau pun penularan penyakit kelamin.
Sean mulai menikmati lagi saat jarum penyedot darah itu mulai benar-benar menghisap darahnya dan berpindah ke dalam sebuah kantung. Sean berharap, kali ini darahnya bisa menyelamatkan Gaby kembali.
Sedangkan di luar ruangan, keadaan Ello benar-benar gusar. Ia tidak di perbolehkan masuk ke dalam ruangan istrinya. Dan lagi tidak ada yang bisa ia kerjakan selain berjalan mondar mandir, hingga sebuah suara menghardik langkahnya.
“Cello, tenanglah istrimu akan baik-baik saja.”
Bersambung...
__ADS_1