
Hari-hari pun sudah berlalu, tanpa terasa penikahan Gaby dengan Ello sudah berjalan hampir berbulan-bulan lamanya. Kehidupan yang di jalani pun nampak bahagia, kini baik Ello mau pun Gaby tengah mempersiapkan kebutuhan untuk kelahiran baby G nanti. Karena HPL ( Hari Perkiraan Lahir) menurut dokter tinggal menghitung hari.
“Sayang, apa pampers, minyak telon sama lotion bayinya sudah di masukin ke dalam tas?” tanya Gaby seraya melipat beberapa selimut bayi ke dalam tas khusus bayi.
“Sudah bumilku sayangku. Aku sudah menjawab pertanyaanmu sedari tadi. Ini sudah pertanyaanmu yang ke lima kalinya. Apa kamu lupa?” tanya balik Ello seraya meraup wajah chubby Gaby.
“Benarkah? Apakah iya aku sudah bertanya sampai lima kali? Perasaan baru saja tadi El. Kamu membohongiku!” rajuk Gaby ke suaminya Ello.
Ello pun memijat pelipisnya pelan. Ia tak ingin berdebat untuk memperjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Karena Ello tahu, ibu hamil itu perasaannya mudah sekali sensitif. Ello masih mengingat apa yang kakeknya ucapkan.
“Wanita itu mahkluk selalu benar jadi turuti saja apa yang mereka ucapkan. Daripada rumah tanggamu jadi ancaman.”
“Hehe...maafkan aku sayang, aku hanya bercanda. Jadi bagaimana apa hari ini kita bisa makan di luar?” ajak Ello mengalihkan perhatian.
“Sebentar ya El, kita harus ijin dulu ke dede utun. Apakah ia mau kita ajak makan bersama?” jawab Gaby seraya melakukan apa yang ia ingin lakukan.
Ello pun tersenyum penuh arti. Tanpa di duga dalam hitungan hari, mereka berdua akan menjadi sepasang orang tua. Baik Ello mau pun Gaby sudah tidak sabar untuk segera menggendong bayi yang mereka beri inisial baby G.
“Hello baby G, ini mommy. Apakah mommy boleh makan di luar sama daddy?” tanya Gaby ke arah perutnya yang membuncit.
“Astaga! Lalu baby G menjawab apa yank?” tanya Ello sambil tertawa menanggapi sikap Gaby yang begitu menggemaskan.
__ADS_1
“Kata baby G boleh. Tapi nggak boleh pulang malem-malem dad.”
Ello pun semakin tergelak akan perilaku Gaby yang menurutnya begitu lucu. Bagaimana mungkin bayi dalam kandungan bisa menjawab pertanyaaan orang? Namun Ello pula menyakinin, ibu hamil dengan janinnya itu mempunyai ikatan batin. Dan setiap ucapan ibunya, maka sang janin pun akan merespon dengan gerakan. Seperti menendang-nendang.
“Baiklah, daddy tidak akan lama-lama meminjam mommy. Dan daddy pastikan akan menjaga kalian sebisa daddy. Karena kalian, separuh nyawa daddy,” ucap Ello seraya mencium perut Gaby yang membuncit.
Tanpa terasa buliran bening merembes dari celah kelopak mata Gaby. Ya Gaby bersyukur, pria itu adalah Gracello Sanders. Pria yang ia sangka culun, pendiam yang selalu bertengkar dengannya dulu. Ternyata adalah jodohnya.
Gaby masih mengingat, dulu pertama kali bertemu Ello. Pemuda beralis tebal itu sangat culun. Berkacamata kuda, hingga tatanan rambut yang mirip mangkuk terbalik. Gaby selalu menjulukinya, si alis sinchan.
“Yank, kenapa kamu menangis? Apa ada yang membuatmu sedih?” tanya Ello yang khawatir akan perubahan emosional Gaby akhir-akhir ini.
“Kamu yang sabar yank, sebentar lagi maka kebahagiaan kita akan sempurna. Ada kamu, aku dan baby G,” seru Ello mencoba menghibur rasa gelisah Gaby.
Gaby pun mengangguk menyetujui apa yang Ello ucapkan kepadanya.
“Sebaiknya kita segera bergegas, karena aku sudah sangat lapar yank,” rengek Ello kemudian.
“Baiklah, oh..iya memang kita mau kemana yank?”
*
__ADS_1
*
Sampainya di warung lesehan pinggir jalan, Ello pun menghentikan laju mobilnya.
“Yank, kamu yakin makan di sini?” tanya Ello sambil memperhatikan sekitar tempat itu.
Warung makan lesehan itu memang sangat ramai pembeli . Tapi Justru itulah yang sedang Ello khawatirkan jika makan di tempat terbuka. Ello takut terjadi sesuatu dengan istrinya saat ramai begitu. Apalagi istrinya sedang hamil tua seperti sekarang.
“Yakin lah! Di sini itu makanannya lezat yank. Aku dan dede utun ingin makan di sini pokoknya!” tegas Gaby.
Ello pun menghela nafas beratnya. Baginya pemintaan istri adalah perintah mutlak dan tidak menerima penolakan. Mau tidak mau, Ello pun menuruti segala apa pun yang Gaby inginkan. Khusus malam ini, sebelum mereka di hadapkan dengan kesibukan mengurus bayi mereka kelak.
“Baiklah, anything for you baby.”
“Terima kasih daddy!”
Gaby pun sampai terlonjak kegirangan , karena segala apa pun yang ia inginkan bisa di penuhi oleh Ello suaminya. Saking senangnya Gaby melompat-lompat kecil bagaikan anak kecil hingga sesuatu hal pun terjadi.
“Aakh! Sakit!”
Bersambung...
__ADS_1