Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Rasa Khawatir Suster Eva


__ADS_3

Mobil Ello terparkir di basemant apartemen Gaby. Entah kenapa, pemuda tampan beralis tebal itu malah membelok ke apartemen wanitanya kembali.


Namun apartemen Gaby memang yang terdekat dari jarak yang bisa Ello jangkau. Karena rasa pusing dan mual begitu menderanya. Membuat Ello sepertinya harus memperpanjang masa sewa kamar apartemen yang terletak di sebelah kamar Gaby. Karena berada di dekat gadis itu membuat rasa mualnya berkurang.


Sampainya di depan pintu apartemen, Ello pun melirik kearah pintu kamar Gaby. Tangannya terulur hendak mengetuk pintu bercat coklat tua itu. Namun gerakannya terhenti karena mengingat hari sudah larut malam tidak mungkin gadis hamil itu masih terjaga.


Lalu Ello memutuskan untuk langsung memasuki kamar apartemennya sendiri. Ruangan apartemen itu tampak sunyi karena hanya berisikan barang-barang yang sudah tersedia seperti kursi dan ranjang. Bahkan di lemari pendingin hanya ada air putih saja.


Karena memang niat Ello hanya ingin berada di dekat Gaby agar bisa memantau keadaan gadis itu dari dekat.


Ello pun menggosok minyak telon bayi yang ia sengaja bawa kemana-mana untuk meredakan rasa pusing dan mual pada tubuhnya.


*


*


Keesok paginya Ello terbangun dan langsung menuju kantor. Hari ini ada client dari luar kota yang harus ia temui, oleh karena itu Ello tidak bisa mangkir begitu saja seperti hari sebelumnya.


Namun seperti biasanya, Ello akan membuka praktik kedokteran selama 2 jam terlebih dahulu di klinik pribadi miliknya di temani oleh suster Eva.


Sebelum berangkat bekerja, Ello sempatnya memesan sekotak bubur lengkap beserta buah dan juga minuman dalam botol. Makanan-makan itu pemuda itu masukkan ke dalam kotak surat yang terletak di depan pintu apartemen Gaby.


Karena ruangan Gaby masih terlihat terang menandakan gadis itu belum keluar apartemennya, nampak dari bawah pintu.


Ello pun mulai melajukan kembali roda empatnya menuju tempat yang akan pemuda itu tuju selanjutnya yaitu klinik pribadi milik pemuda itu.


Ternyata setelah beberapa hari menutup, tempat praktik itu nampak terlihat ramai. Terlihat para ibu-ibu, para gadis dan remaja mengantri sambil mengipas-ngipasi wajah mereka.


“Itu dokter Gracello sudah datang, kyaaaa!” teriak salah seorang pasien wanita.


“Dokterrr Gracello!!!”


Ello pun mencoba tersenyum ramah kearah para pasien yang kebanyakan terdiri dari para perempuan itu.

__ADS_1


“Selamat pagi, boleh mengantri ya? Nanti saya panggil satu persatu,” tutur Ello ramah.


“Baik dokter,” jawab para pasien itu serentak.


Ello pun berjalan kearah ruangannya, lalu suster Eva pun datang menghampiri.


“Selamat pagi tuan muda, bagaimana hari anda? Sepertinya hari ini anda sedang berbahagia, karena sedari tadi saya lihat senyum anda bagaikan matahari yang bersinar cerah, pandangan saya hampir silau karenanya,” sapa suster Eva dengan formal.


Senyum yang sedari tadi mengembang dari bibir Ello kini surut seketika, setelah mendengar kalimat sindiran dari suster Eva.


“Suster Eva, bisa aja saya jadi tersungging,” sahut Ello jujur.


Suster Eva pun tersenyum geli. Sepertinya tuan mudanya memang sedang berbahagia. Karena selama ini wanita paruh baya itu belum pernah melihat Ello dengan wajah berbinar seperti itu. Apakah itu karena gadis yang kemarin? Tanya suster Eva dalam hati.


“Ini data diri calon pasien dok beserta keluhannya,” ujar suster Eva sambil meletakkan selembar kertas yang berisikan evaluasi tentang para calon pasien.


“Baik, terima kasih suster Eva. Kita sudah bisa memulainya, panggil dari nomor antrian paling depan ya,” ujar Ello mengintruksi.


“Baik dok.”


Keadaan itu membuat Ello merasakan mual kembali, hingga ia mempercepat buka praktiknya. Kepala Ello kembali pusing, apakah ini sindrom akibat kehamilan yang Gaby alami? Jika itu benar, maka Ello harus bertahan hingga masa sindrom itu usai.


“Oh...Tuhan yang benar saja, berarti aku harus menunggu sampai usia kehamilan Gaby 9 bulan,” gumam Ello saat menanti pasien terakhirnya.


“Kehamilan Gaby 9 bulan? Maksud tuan El?” timpal suster Eva yang tak sengaja mencuri dengar gumaman Ello.


Suster Evaa pun melototkan kedua bola matanya saat menyadari apa yang tuan mudanya ucapkan barusan. Lalu wanita yang berumur lebih dari setengah abad itu menjatuhkan sebuah map yang berisikan data pasien selanjutnnya lalu menghampiri meja Ello.


“Astaga! Jadi kamu sudah menghamili anak orang El? Dasar anak nakal! Katakan siapa gadis itu Gracello Sanders!” pekik suster Eva yang merasa murka.


Sebagai orang yang sedari kecil mengasuh pemuda tampan beralis tebal itu sangat kecewa akan perbuatan yang Ello lakukan. Suster merasa gagal dalam mendidik majikan muda yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri.


“Katakan Gracello Sanders! Siapa gadis malang itu?!” Suster Eva pun memukuli tubuh Ello menggunakan nampan seng yang di gunakan untuk menampung obat.

__ADS_1


Tuang!


Tuang!


Tuang!


“Suster Eva, tolong sabar suster ini tidak seperti yang suster fikirkan Ello bisa jelasin,” sanggah Ello sambil menangkis pukulan-pukulan dari tangan renta wanita tua itu.


“Siapa gadis malang itu? Jangan-jangan apa gadis yang kemarin itu El?!” tebak suster Eva.


Ello mengangguk lemah sambil tetap mempertahankan posisinya bersiap untuk menangkis pukulan wanita tua itu selanjutnya. Dan benar saja, kali ini suster Eva pun melayangkan keplakan telapak tangannya kearah Ello.


“Dasar anak nakal! Kau harus segera menikahinya Ello! Kasihan anak yang gadis itu kandung. Dasar kau memang anak nakal!”


Bugh!


Bugh!


Kali ini suster Eva memukuli Ello menggunakan tangannya.


“Ampun sus! Ello akan jelasin semuanya.”


Setelah itu Ello mencoba menjelaskan semuanya kepada suster Eva tanpa ada satu pun yang di tutupi. Karena suster Eva sudah Ello anggap sebagai nenek dan juga ibu kedua bagi pemuda tampan itu.


“Pokoknya Nanny tidak ingin tahu El, segera nikahi gadis itu. Mintalah restu kepada kedua orang tuanya. Dan segera jelaskan kepada nyonya mengenai hubungan kalian,” ucap suster Eva sambil menatap khawatir.


Nanny adalah panggilan sayang Ello kepada suster Eva sebagai pengasuhnya sedari kecil.


“Nanny tidak perlu khawatir, memang rencana Ello akan menemui orang tua Gaby secepatnya. Tapi Ello harus segera menyelesaikan urusan El dengan Gloria dan juga mama Nanny.”


“Segera selesaikan semuanya El, kasihan gadis itu. Nanny akan bantu sebisa mungkin nanti.”


Entah suster Eva begitu khawatir akan hubungan Ello dengan Gaby, gadis yang sama sekali belum ia kenal. Ini seperti menyibak luka lama yang belum belum. Sebuah peristiwa lama yang kini terulang kembali.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2