
“Tidak! Kamu saja Glor, aku tak pernah menyetujui acara ini!” tolak Ello.
“El, apa yang kamu katakan? Bukannya kamu dan mamamu yang membuat acara ini? Dan kami pun menyetujuinya, lalu apa maksudnya ini?”
“Aku tak pernah berniat bertunangan denganmu Gloria, semua ini rencana mama tanpa persetujuan dariku.”
“El, please jangan buat keluargaku malu dengan omong kosongmu barusan. Keluarga kita sudah sepakat, aku harap kamu mengerti bagaimana jika pertunangan ini gagal? Tentu saja akan berimbas pada perusahaan keluargamu juga. Lihat acara ini di hadiri oleh beberapa wartawan, dan kolega bisnis perusahaan Sanders dan Martin. Please kita jalani dulu. Masalah nanti bisa kita bicarakan,” bujuk Gloria yang tak ingin acara pertunangannya gagal dan pulang dengan rasa malu yang luar biasa.
Padahal Gloria sudah susah payah membuat issue dengan mengatakan hamil kepada wartawan. Sehingga namanya bisa melambung tinggi dan banyak sekali tawaran masuk untuk mengundangnya ke berbagai acara talkshow.
“El! Gloria! Kenapa kalian lama sekali?” interupsi mama Lusi.
“Ada apa? Apa ada masalah? El mama tidak terima bantahan!” ucap mama Lusi tegas lalu memandang kearah Ello dan juga Gloria bergantian.
“Tidak ada Tante Lusi, El hayu !”
Gloria pun menarik lengan berotot Ello dan membawanya mengikuti Mama Lusi dari belakang. Ello tak ingin membuat kegaduhan dan merusak acara pesta. Akhirnya Ello pun menuruti keinginan Mama Lusi dan juga Gloria.
Netra matanya menyapu seluruh area ballroom tapi tak menemukan Gaby di sana.
Gaby kemana??
Ello baru mengingat bahwa tadi Gaby pamit untuk pergi ke toilet. Tapi sampai saat ini, batang hidung gadis itu tak terlihat. Ingin mencari Gaby namun, ini belum saatnya. Ello tengah memikirkan cara untuk menghindar dari pertunangan sialan ini.
Di tempat lain
“Fyuh! Ello benar-benar bagaimana bisa melakukannya di depan calon tunangan dan banyak orang seperti tadi? Nggak waras kamu El!” umpat Gaby seraya menatap kearah bayangan dirinya dalam pantulan cermin.
Gaby pun membuka kran air dan meraup air yang mengucur untuk membasahi wajahnya yang berkeringat karena gugup.
Berada di dekat Ello seperti tadi membuat jantungnya bekerja secara ubnormal. Namun ada rasa kecewa dalam hatinya yang tidak bisa Gaby mengerti.
Gaby benar-benar ingin marah terhadap Ello. Ello begitu mempermainkan hatinya. Ello memintanya untuk mengingat kejadian malam itu, namun pemuda itu malah akan bertunangan dengan perempuan lain.
__ADS_1
“Brengs*k kamu El! Aku benci kamu..benci! Benci! Benci! Kenapa semua pria berlaku seenaknya? Habis manis sepah di buang!”
Tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu toilet dari luar .
Tok! Tok! Tok!
“Gaby, apa kamu ada di dalam sana?” teriak seorang pria yang ternyata Sean.
“Iya, sebentar.”
Gaby pun buru-buru menyeka air matanya, lalu membasuhnya dengan air mengalir. Dan mengeringkannya dengan tisu, kemudian membubuhkan sedikit bedak agar wajahnya yang memerah karena menangis tersamarkan.
Setelah di rasa cukup, Gaby pun mulai membukakan pintu toilet itu. Dan di hadapannya kini terpampang wajah Sean yang menatapnya penuh khawatir.
“Gaby, apa kamu baik-baik saja? Aku begitu khawatir saat mendapati kamu tidak ada di lantai dansa tadi.” tanya Sean sambil menyentuh bahu gadis itu.
“Maaf tuan Sean, sepertinya saya ingin pulang. Saya mendadak merasa tidak enak badan,” sahut Gaby beralibi. Padahal Gaby hanya tidak ingin bertemu Ello kembali apalagi melihat pria itu bertunangan dengan perempuan lain.
“Tapi kamu belum makan Gaby, setidaknya kita mencicipi dulu makanannya sebentar setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang, ya..mau ya..sebentar saja,” bujuk Sean.
“Hmm..baiklah.”
Gaby pun menurut saja, saat Sean membawanya ke ruang party. Namun kali ini Sean menempatkannya agak jauh dari keramaian. Sedangkan para tamu yang hadir tengah berkumpul untuk mengabadikan prosesi pertukaran cincin Ello dengan Gloria.
Sean tak begitu peduli akan pertunangan sepupunya Ello. Baginya saat ia hanya ingin mencari kesenangan dengan memenangkan uang satu juta dollar dan mengecup manis madu yang terpampang di hadapannya saat ini.
“Kamu duduk di sini dulu, aku akan mengambilkan makanan dan minuman untuk kita,” ujar Sean sambil melepas jasnya lalu berlalu seperti apa yang ia ucapkan.
Hati Gaby kembali menghangat, Sean memang pandai mengambil hati seorang wanita. Baru saja ia kecewa karena Ello, kini perlakuan Sean justru membuat hati Gaby tersentuh akan sebuah perhatian.
Tak lama Sean pun datang membawa pesanan untuknya dan untuk Gaby.
“Pesanan datang untuk my princess.”
__ADS_1
Gaby pun tersipu malu. Baru kali ini Gaby di perlakukan bak putri oleh seorang pria. Gaby akui, pesona Sean memang sulit untuk di tolak.
“Kenapa tuan Sean repot-repot, padahal ada teman saya yang melayani.”
“Aku hanya senang melakukannya, apalagi untuk gadis secantik kamu,” puji Sean.
“Coba minum dulu, minuman sari buah ini sangat enak sekali dan bisa menyegarkan tubuh.”
“Benarkah?”
Gaby pun meminum minuman yang Sean berikan, kebetulan tenggorokannya terasa sangat haus. Pergelutan hatinya dengan Ello membuat Gaby melupakan rasa haus sesaat. Dan kini Gaby meneguk minuman itu sampai tandas.
Bagus! Minumlah sampai habis maka malam ini kamu akan jadi milikku babe...
“Maaf, sepertinya saya kehausan sampai habis begini,” ujar Gaby menahan malu karena menghabiskan minuman dalam sekali teguk.
“Tidak mengapa, jika kamu ingin aku akan mengambilkannya kembali untukmu,” tawar Sean.
Sean yang hendak beranjak dari tempat duduknya pun di cegah oleh Gaby.
“Tidak tuan Sean, saya rasa sudah cukup..anda..akh!”
“Ada apa Gaby?” tanya Sean dengan nada penuh khawatir.
“Kepala saya mendadak pusing tuan, saya ingin pulang saja.”
“Baiklah, kalau begitu biar aku antar kamu.”
Sean pun memakai jasnya kembali, lalu mengambil tas kecil milik Gaby. Dan memapah gadis itu untuk berjalan keluar ruang pesta itu.
Sambil melangkah Sean pun tersenyum penuh arti. Karena keinginan untuk mencicipi tubuh mangsanya sebentar lagi akan segera terwujud.
To be continue..
__ADS_1