
Tak lama dokter pun keluar dari ruangan rawat Gaby. Di iringi ketiga suster yang tadi merawat Gaby yang berlalu meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana dok keadaan istri saya? Dan juga janin dalam kandungannya,” tanya Ello bertubi-tubi
“Tenang ya dokter Ello, istri anda baik-baik saja. Beruntung janin dalam kandungannya masih bertahan. Istri anda hanya mengalami kelelahan. Seluruh lukanya sudah di beri antiseptik dan di balut dengan kain perban serapi mungkin. Sekarang dokter Ello bisa menemui pasien,” tutur dokter yang bertugas menggantikan Ello.
“Syukurlah, terima kasih dokter.”
“Sama-sama dokter Ello, kalau begitu saya permisi.”
“Silahkan.”
Ello pun bergegas untuk menemui Gaby. Nampak wanita cantik itu terbaring lemah di atas brankar pasien. Ello pun menduduki kursi yang berdekatan dengan brankar Gaby. Lalu di raihnya pergelangan tangan wanitanya yang tertancap infus.
“Gaby, maafkan aku. Aku yang belum bisa melindungi kalian.”
“Tapi kali ini aku janji, aku tak kan biarkan Sean mengambilmu dariku lagi sayang. Bagaimana pun kalian adalah separuh dari hidupku,” monolog Ello seraya memilin-milin jari lentik Gaby.
Ello nampak sangat bersalah karena selama ini membiarkan Sean berkuasa atas Gaby. Apalagi sekarang Gaby sudah bisa mengingat dirinya, tentu ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya.
Tak lama, ponsel canggil milih Ello berbunyi. Di layar persegi itu nampak nama sang asisten Jay tengah menelepon.
“Hallo Jay, bagaimana? Apa?! Baiklah.”
__ADS_1
Ello segera menutup panggilannya kembali. Nampak sesaat pria tampan beralis tebal itu menarik nafasnya berat dan menghembuskannya secara kasar. Sepertinya ia harus melakukan hal yang berat kali ini dan harus meninggalkan Gaby di ruangan itu.
“Sayang, maaf. Aku harus pergi. Ada yang hal besar yang harus aku lakukan demi masa depan kita. Doakan aku baik-baik saja ya, dan bisa pulang bersama kalian lagi,” pamit Ello seraya mengecup kening wanita hamil itu.
Ello pun melepas genggamannya dari tangan Gaby, lalu berjalan menuju pintu keluar. Ada rasa berat meninggalkan Gaby di saat wanita itu belum sadar. Namun di luar sana masih ada yang membutuhkan pertolongannya. Lalu Ello pun menghubungi Bibi Ling dan juga Paman Coco. Orang tua wali Gaby selama di Singapore.
“Paman, Bibi maaf mengganggu waktunya bisa minta tolong untuk menjaga Gaby di rumah sakit? Oke, saya akan kirim alamatnya. Terima kasih.”
Setelah itu Ello benar-benar meninggapkan Gaby seorang diri, tanpa sadar seseorang telah bersembunyi di balik tembok dan mendengar semua ucapannya.
“Ccckkk! Kau malah memberi peluang untukku? Dasar Ello bodoh!” umpat orang itu.
Di tempat lain
“Sial! Sudah ku duga, Sean tidak akan melepas Gaby semudah itu. Maunya apa sebenarnya pria brengsek itu?! Padahal ia bisa saja meniduri wanita mana pun yang ia suka. Dasar Sean brengsek!” umpat Ello kesal sambil memukul stir kemudinya.
Ello sudah siap jika nanti Sean akan mengajaknya duel hingga titik darah penghabisan. Karena ia sudah membekali diri dengan sabuk hitam yang selama ini ia tekuni demi menghadapi Sean yang gemar adu pukul.
Ello nampak membelokkan kemudinya menuju sebuah bangunan besar dimana ia dan Gaby tadi bertemu. Nampak mansion itu sangat luas dan begitu asri. Sangat di sayangkan jika mansion sebagus itu akan di jadikan tempat untuk pertumpahan darah. Fikir Ello.
Saat sampai di pekarangan mansion itu, Jay menyambut kedatangan Ello dengan wajah panik.
“Tuan muda, tuan! Nona Ganes akan di jadikan pengganti Gaby oleh tuan Sean. Bagaimana ini?”
__ADS_1
“Apa?! Lalu suaminya kemana?”
“Pria itu sudah babak belur di gebukin oleh anak buah tuan Sean.”
“Brengsek! Lalu bayinya?”
“Ada dengan tuan besar Martin dan istrinya. Mereka sudah berada di tempat yang aman tuan. Anda tenang saja.”
“Kalau begitu kita selamatkan Ganes dan juga suaminya,” tegas Ello.
Netra Ello begitu berapi ingin menghabisi Sean detik itu juga. Salahnya dulu, Ello membiarkan Sean menolong Gaby. Padahal Ello tahu, Sean itu orang yang licik. Pria itu memanfaatkan balas budi demi memenuhi hasratnya. Dan di sini Ello akan tebus semuanya.
Ello berjalan mendekati pintu masuk mansion, nampak di sana tengah ada beberapa anak buah Sean yang berjaga. Di belakangnya ada 10 orang anak buah Jay yang tersisa. Jika di total semua ada 12 orang beserta Ello dan asistennya. Sisanya tengah terluka dan di minta untuk mundur.
“Aku Gracello Sanders, orang yang sudah di tunggu oleh tuan kalian,” ucap Ello kepada penjaga pintu.
Penjaga itu pun saling berpandangan. Kemudian mereka pun membuka pintu mansion itu dan membiarkan Ello beserta anak buahnya masuk.
Saat baru masuk, betapa terkejutnya Ello melihat Ganes menangis. Di sampingnya ada Sean yang tengah bermain-main menggunakan pisau belati ke tubuh mantan sahabatnya itu.
Dan di pojokan, Galih sudah babak belur tak sadar kan diri. Ello pun menatap geram kearah Sean, bersiap mengibarkan bendera peperangan. Sekali pun Ello sadar, kini mereka berada di kandang musuh.
“Sean Seanor! Hentikan!”
__ADS_1
Bersambung..