
“Halo, Ganes ini aku Ello. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Gaby sedang sakit di sini.”
Jdeeer!
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, reflek Ganes langsung menjatuhkan telepon genggamnya begitu saja.
“Apa yang terjadi sayang?” tanya Galih.
Galih pun melihat wajah pias sang istri, lalu pria tampan itu pun meraih telepon yang sempat terjatuh. Beruntung benda canggih itu terjatuh di atas karpet tebal jadi tidak sampai hancur.
Saat baru mendengar suara dari seberang, Galih mengetatkan rahangnya karena pemuda itu tahu betul suara siapa yang sedang menghubungi sang istri.
“Hallo, Ganes? Kamu masih ada di sana?”
“Katakan! Apa yang sudah kamu katakan kepada istriku hingga istriku berwajah pucat seperti itu Gracello Sanders?!” tekan Galih dengan menyebut lengkap nama pemuda tersebut.
Sebagai seorang suami yang mencintai istrinya, tentu Galih cukup marah jika tahu ada seorang pria menghubungi nomor istri. Apalagi pria itu sempat menjadi pebinor dalam rumah tangganya. Setelah kepergian Ello dan juga Gaby, Ganes berkata jujur mengenai Ello kepada suaminya.
Galih sempat marah dan ingin membunuh Ello. Namun Ganes memohon ampun sampai menangis meraung-raung agar tidak perlu memperpanjang masalah mereka.
Karena Galih tidak tega melihat Ganes terus menangis, akhirnya Galih memilih memaafkan kesalahan yang sempat di buat oleh sang istri. Dan mencoba memulai hubungan mereka dari awal. Apalagi istrinya Ganes kini tengah mengandung buah cinta mereka, membuat kebahagiaan Galih bertambah berkali-kali lipat.
Sedangkan di seberang saluran, Ello berusaha menelan salivanya berulang kali dengan susah payah. Pernah hampir menjadi pebinor dalam rumah tangga Ganes dan juga Galih selaku kakak Gaby membuat Ello sedikit merasa tidak enak hati.
__ADS_1
“Galih, apakabar?”
“Tidak perlu basa-basi, kasih tahu yang sebenarnya terjadi!” ketus Galih.
Sedangkan Ganes, wanita berhati lembut itu tengah menangis. Sebagai suami, Galih tidak ingin memaksakan sang istri untuk bercerita. Mengingat emosi Ganes saat ini sangat labil selama menjalani masa kehamilan.
“Gaby sakit, sekarang ia di rawat di rumah sakit di Singapore....”
Tut*!
Belum sempat Ello menyelesaikan ucapannya, Galih sudah lebih dulu mematikan saluran teleponnya.
“Mas Galih, kenapa mas malah mematikan teleponnya?” rengek Ganes kearah Galih.
“Kenapa? Kamu senang bisa mendengar suara pria itu lagi? Hah?”
“Mas, mas Galih kok bisa ngomong gitu sih? Ganes kan hanya ingin tahu bagaimana kabar Gaby mas, tiba-tiba Gaby sakit. Sedangkan selama ini Gaby selalu memberi kabar kepada kita kalau ia baik-baik. Apa Ganes salah?”
Ganes pun menjadi murung akan tudingan sang suami yang kenyataan memang benar. Namun Ganes mencoba menyangkalnya. Karena Ganes rasa itu hanya masalah perasaannya, dan demi menjaga perasaan sang suami lebih baik ia berdiam diri. Dan menyimpan semuanya seorang diri.
Melihat istrinya murung, membuat hati Galih yang sempat mengeras kembali melunak.
“Kita tidak perlu tanya ke dia, lebih baik kita kabari ayah dan ibu. Dan kita semua akan terbang ke Singapore malam ini juga,” sahut Galih.
__ADS_1
Mendengar keputusan sang suami, membuat hati Ganes merasa senang. Entah apa yang ia fikirkan. Mungkin hanya bawaan kehamilan, atau memang Ganes belum bisa move on akan bayang-bayang dari Ello sahabatnya. Yang jelas Ganes ingin bertemu dengan Ello.
Ganes pun menurut apa yang dikatakan oleh Galih. Lalu wanita lemah lembut itu mencoba menghubungi ayah dan juga ibunya mengenai keadaan Gaby. Dan sudah di pastikan, mereka juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Ganes rasakan beberapa menit yang lalu.
Kini Ganes dan juga Galih sudah tiba di kediaman keluarga Pak Martin. Bu Murni dan Pak Martin pun menyambut kedatangan pasangan suami istri itu.
“Ganes dan Galih, apa kalian yakin akan ikut kami ke Singapore untuk menyusul Gaby?” tanya Bu Murni seraya membelai lembut paras cantik sang anak.
“Galih tergantung Ganes buk, kemana pun Ganes pergi Galih akan mendampinginya.”
Bu Murni cukup memahami watak peringai putrinya Ganes yang begitu sangat menyayangi adiknya Gaby. Bahkan beberapa waktu lalu, wanita lemah lembut itu merelakan suaminya demi kesembuhan sang adik. Beruntung ide konyol itu tak berlangsung lama, karena Gaby bisa menyadari dan akhirnya memahami semuanya.
Jika tidak, sudah di pastikan putri-putrinya akan terbawa ke dalam cinta segitiga yang rumit. Dan sudah pasti rumah tangga putri sulungnya Ganes akan terancam. Seperti yang ada di kisah-kisah sebuah novel yang sedang viral.
“Kamu sudah ijin doktermu kan Nes? ibuk tidak mau kamu kenapa-kenapa selama di perjalanan nanti,” tanya Bu Murni.
“Insyaallah kuat buk, barusan Ganes sudah konsultasi dan di beri obat penguat kandungan dan beberapa vitamin biar Ganes tidak lemes nanti.”
“Ya sudah, langsung saja kita ke bandara. Ayah sudah memesan tiket untuk kita semua.”
Bu Murni pun memulai memasukkan beberapa kebutuhan yang akan ia bawa untuk suami dan juga anaknya nanti.
Tepat pukul 21.05, pesawat yang membawa segerombolan keluarga Gaby itu terbang menuju bandara International Singapore.
__ADS_1
Bersambung...