
“Gaby, maaf!” Galih pun memindahkan tubuh Gaby dari atas tubuhnya. Lalu segera bangkit untuk memperbaiki kondisi mereka.
Galih pun membantu Gaby untuk bangun dan mendudukkan gadis itu pada kursi rodanya kembali. Lalu mendudukkan tubuhnya di hadapan Gaby untuk memeriksa keadaan gadis itu.
“Kamu tidak apa-apa kan Gaby? Apa ada yang terluka, mana sini coba kakak lihat,” ujar Galih seraya memeriksa bagian tubuh Gaby yang kemungkinan terluka.
Gaby yang di tatap penuh perhatian oleh Galih seperti itu seketika merona. Seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitik hatinya.
“Gaby baik-baik saja kak,” balas Gaby yang tersanjung akan akan perhatian Galih.
Saat Galih masih sibuk memperhatikan Gaby, tak sengaja mata elangnya melirik kearah Ganes yang berdiri tak jauh darinya dan Gaby tengah berdiri.
“Ganes!” gumam Galih lirih.
“Apa kak, barusan kakak bilang apa?” sahut Gaby yang rupanya mendengar gumaman Galih barusan.
“Akh..tidak Gab, maaf ya kakak tinggal ke toilet sebentar. Kamu nunggu di sini dulu nggak apa-apa?”
“Iya kak, nggak papa kok.”
Lalu Galih pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Gaby seorang diri di tengah taman rumah sakit.
Gaby pun terus menatap punggung Galih yang hampir menghilang di tikungan koridor. Dan dengan sabar menanti pria yang mengaku kekasihnya itu kembali dari toilet.
Tanpa Gaby tahu, ternyata Galih tengah mengejar Ganes yang berjalan dengan setengah berlari di depannya. Sudah Galih pastikan wanita berhati lembut itu baru saja menangis. Karena Galih sempat melihat mata serta hidung Ganes yang nampak memerah.
“Nes! Ganes! Berhenti Nes!” teriak Galih yang masih mengejar istrinya dari belakang.
Ganes seakan menulikan indera pendengarannya. Langkah wanita berhati lembut itu semakin di percepat.
__ADS_1
“Nes! Kenapa kamu menghindariku?! Bukankah ini maumu?!” pekik Galih mengalihkan atensi Ganes.
Ganes pun seketika menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah suaminya Galih. Kesempatan itu tak akan Galih sia-siakan, ia pun berlari kearah Ganes dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
“Nes, aku merindukan kebersamaan denganmu seperti biasanya. Apa aku harus sudahi saja sandiwara ini Nes?” Galih pun memeluk tubuh Ganes dengan erat, lalu menyembunyikan kepalanya di ceruk leher sang istri. Aroma cherryblossom yang menguar dari tubuh sang istri, pemuda itu hirup dalam-dalam. Membiarkan aroma tubuh sang istri memenuhi rongga pernafasannya.
“Tidak mas! Bagaimana nanti dengan Gaby? Kita kan baru saja memulainya bukan?” sergah Ganes.
“Tapi mas tak ingin mendapat penolakan darimu lagi. Kamu menghindari mas seperti barusan membuat hati mas ini sakit Nes.”
Galih pun semakin memperkuat pelukannya pada tubuh Ganes, tak peduli beberapa suster dan pasien lain menatapnya sambil berbisik-bisik.
“Mas lepaskan! Malu di lihat banyak orang!” rengek Ganes yang sudah merasa malu.
“Aku takut kamu pergi dariku Nes! Aku tidak akan melepaskanmu!” tolak Galih yang merasa takut di tinggal oleh sang istri.
“Mas, Ganes tidak akan pergi! Mas kan sudah tahu seperti apa Ganes?Jadi lepaskan ya,” pinta Ganes sedikit memohon.
Galih pun melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri. Lalu menggiring Ganes untuk duduk di kursi tunggu pasien tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Di taman
Gaby pun mengernyitkan dahinya saat sebuah bayangan menghalangi sinar matahari yang menghangatkan tubuhnya.
“Hai!” sapa pemuda berbaju serba putih itu.
Gaby pun hanya menatap datar kearah pemuda itu. Pemuda itu mempunyai perawakan tinggi, alis tebal serta ada lesung pipinya jika tersenyum. Sebenarnya manis, hanya saja tidak berhasil membuat hati Gaby bergetar di tempat.
“Kamu dokter ?” tanya Gaby yang tetap menatap heran kearah orang asing yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
“Kamu nanya?” tanya balik pemuda itu yang sejurus membuat dongkol hati Gaby.
“Cckk! Basi! Kalau mau kenalan bilang aja!” sungut Gaby. Gaby pun memencat tombol pada lengan kursi rodanya untuk memutar arah.
“Hai..hai! Kok ngambek sih? Kamu lupa sama aku Gab?!” tanya pemuda itu yang nekat menghadang laju kursi roda Gaby.
“Kamu siapa sih? Minggir, aku mau mencari pacarku!” ketus Gaby berusaha melepaskan diri dari pemuda itu.
“Pacar?”
Pemuda itu pun termenung sejenak, lalu mengejar Gaby yang lebih dulu menjauhinya. Kini gadis itu nampak kesulitan saat akan menaiki jalanan yang sedikit menanjak.
“Sini, biar aku antar. Memang dimana pacarmu?” tanya pemuda itu dengan lembut.
Gaby pun membiarkan pemuda itu mengambil kendali kursi rodanya. Karena kepalanya pun tiba-tiba terasa pusing jika harus banyak berdebat.
“Siapa namamu?” tanya Gaby saat hening terjadi diantara mereka.
Melihat keadaan Gaby yang terduduk di kursi roda dengan luka perban di kepalanya, sudah di pastikan gadis itu baru saja mengalami sebuah kecelakaan. Namun yang membuatnya heran, kenapa gadis itu dengan mudah melupakannya?
“Kamu lupa sama aku? Aku Ello atau bisa panggil saja Mr.Cupid karena aku ini adalah dokter spesialis cinta,” ucap pemuda yang mengaku Ello dengan pongah sambil menarik kerah baju dinasnya.
Meski sebenarnya apa yang di katakan oleh pemuda itu hanyalah sebuah bualan semata.
“Memang ada dokter seperti itu? Apakah kamu spesialis patah hati?” tanya Gaby lagi.
“Bisa jadi seperti itu,” balasnya dengan cengiran.
“Eh..berhenti! Berhenti! Itu dia pacarku!”
__ADS_1
To be continue....