Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Bab 27


__ADS_3

Setelah memberi Ello sarapan dan juga obat, Gaby meminta pemuda itu untuk pindah ke kamar apartemennya sendiri yang bersebelahan dengan kamar Gaby.


Karena Gaby tak ingin Ello mencuri kesempatan untuk kedua kalinya.


“Setelah ini jangan temui aku lagi, anggap saja kita tidak pernah mengenal!” ketus Gaby dan menutup pintu apartemennya dengan keras.


Brakk!


“Gaby! Jika kamu mengalami kesulitan selama tinggal disini. Jangan sungkan untuk memberi tahuku, aku akan membantumu! Gaby! Gaby!”


Teriak Ello namun hening tidak ada sahutan dari dalam kamar Gaby.


Ello pun hanya bisa menghela nafas, dan berjalan dengan tertatih menuju pintu apartemennya yang bersebelahan dengan apartemen Gaby.


Dengan tidak semangat pemuda itu merebahkan tubuhnya yang sedikit demam ke atas ranjang yang sudah tersedia di apartemen yang ia sewa.


Tak lama benda pipih miliknya berdering menandakan adanya panggilan masuk. Saat Ello lihat, ternyata itu dari mamanya yaitu mama Lusi.


“Ello ! Kemana saja kamu?! Cepat pulang! Gloria sudah di sini menunggumu!” Cerca Mama Lusi dari saluran seberang.


Ello pun menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melindungi gendang telinganya agar tidak rusak akibat lengkingan suara dari sang mama.


“Iya ya ma...bentar lagi Ello pulang. Ya sudah Ello mau mandi dulu.”


“*Ello! Kamu sekarang ada...”

__ADS_1


Tut*!


Panggilan pun di putuskan sepihak oleh Ello. Sudah di pastikan, Mama Lusi akan mengomel-ngomel di tempat karena panggilannya ia putuskan sepihak. Sungguh Ello sedang malas untuk mendengarkan Talk no jutsu versi mamanya yang sudah di pastikan tidak akan ada jedanya.


Sesudah membersihkan diri, Ello keluar apartemen dan mengunci pintu apartemennya. Sebelum beranjak pergi, Ello sempat menatap kearah pintu apartemen Gaby sesaat. Hatinya kembali kecewa, namun Ello tidak tahu harus berbuat apa jika Gaby terus-terusan menolak kehadirannya seperti sekarang.


Lalu Ello berjalan menuruni lantai kamar yang ia sewa melalui tangga darurat karena lift yang tersedia sedang dalam perbaikan.


Tak lama pintu apartemen Gaby terbuka. Baru saja ia mendengar pintu kamar sebelahnya terkunci, dan derap langkah kaki yang melewati pintu kamarnya. Namun tak ia temui sang pelaku. Gaby pun menyusul kearah tangga, dari lantai atas Gaby masih bisa melihat Ello menuruni anak tangga satu persatu. Sambil menelepon seseorang.


“Dasar pembohong! Katanya sakit, ternyata masih bisa jalan juga!” Gaby pun mencibir pemuda itu dari tempatnya.


“Aku takut Ello, aku takut tidak bisa meraihmu seperti aku yang tidak bisa meraih kak Galih,” gumam Gaby dengan air mata yang berlinang.


Gaby cukup tercengang setelah tahu siapa Ello sebenarnya. Keluarga Ello termasuk keluarga konglomerat yang terpandang di negara ini. Profesi dokter yang pemuda itu geluti ternyata hanya alat untuk menutupi identitas sebenarnya dari seorang Ello.


Pemuda beralis tebal itu ternyata bukanlah dari kalangan orang sembarangan. Sedangkan Gaby berasal dari orang biasa saja. Membuat gadis itu semakin insecure jika berada di dekat pemuda itu.


*


*


“Ello dari mana saja kamu? Lihat Gloria sampai bosan menunggumu,” tegur Mama Lusi yang menyambut kepulangan Ello seraya menunjuk kearah Gloria yang duduk dengan anggunnya.


“Ello main di teman ma.”

__ADS_1


“Kalau begitu nanti malam temani Gloria makan malam, kasihan dia sudah bela-belain mengosongkan jadwalnya hari ini dan besok hanya untukmu. Harusnya kamu menghargai usahanya, maaf ya nak Gloria. Ello kalau sudah main memang suka begitu, nanti kalau kalian sudah menikah cancang saja di rumah,” kelakar Mama Lusi sambil tertawa.


“Tidak apa-apa tante, anak muda memang suka begitu bisa di maklumi.” balas Gloria sambil tersenyum.


Mendengar kata menikah dari sang mama membuat hati Ello bergemerutuk. Karena Ello tak mencintai Gloria sama sekali meski gadis itu cantik dan sexy karena Gloria merupakan seorang model. Bagi Ello Gloria itu sama halnya dengan wanita lain yang mendekatinya karena status dan materi saja.


“Oh..iya Ello, rencananya besok keluargamu dan keluargaku akan mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai bentuk tali silahturahmi, jangan lupa datang ya,” ucap Gloria.


“Benarkah begitu ma? Kenapa Ello baru tahu?” tanya Ello kepada Mama Lusi.


“Iya, mama ingin kamu dan Gloria kembali dekat. Dan hubungan keluarga kita juga sama dekatnya dengan kalian. Yang penting besok kamu harus datang, karena seluruh keluarga besar kita akan berkumpul,” sahut Mama Lusi dengan tegas dan tak terbantahkan.


Keesok malamnya seperti yang mama Lusi ucapkan, seluruh keluarga Ello berkumpul. Bukan hanya keluarga Ello saja keluarga Gloria pun turut berkumpul memeriahkan acara keluarga tersebut.


“Ello kamu harus berpakaian rapi, pakai jas ini. Mama tidak mau tahu. Pokoknya anak mama harus terlihat tampan dari siapapun.”


“Kenapa sih ma? Bukannya ini cuma acara pesta biasa saja?”


“Stop! Komentarnya nanti saja, cepat kamu pakai jas itu dan mama mau make over dulu, bye sayang.” Titah Mama Lusi sambil mengecup singkat pipi anaknya.


“Mama! Ello bukan anak kecil!” Namun mama Lusi justru hanya tertawa ringan menanggapi protes putranya.


“Itu hukuman, karena semalam kamu tidak mengabari mama sama sekali.”


Ello pun mengerucutkan bibirnya menahan kesal karena mamanya suka mencuri cium kearahnya seperti saat masa kecil pemuda itu.

__ADS_1


Namun Ello tetap mengikuti apa yang sudah di perintahkan oleh mama Lusi kepadanya. Bagi Ello, setiap ucapan Mama Lusi adalah kewajiban mutlak yang tidak bisa Ello bantah. Meski dalam hatinya terus menyangkal.


__ADS_2