
Seorang gadis muda menatap bingkai wajahnya yang terias sempurna di depan cermin. Gaun pengantin nampak begitu melekat indah di tubuh berisinya. Meski semakin hari nampak berisi karena hamil, namun kecantikannya tidak seketika luntur malah semakin mempesona.
Senyum yang semula ia pancar perlahan menyurut. Seiring menghilangnya orang-orang yang sedari tadi sibuk mempercantik penampilannya.
“Gracello Sanders...Gracello Sanders, Ello...Ello.”
Bibir ranumnya nampak menyebutkan sebuah nama yang tak begitu asing di indra pendengarannya. Ingatannya nampak berusaha mengingat sebuah nama pria. Pria yang berhasil menyita perhatiannya, namun keluarganya seakan tutup mulut mereka rapat-rapat tentang siapa sebenarnya Gracello Sanders mau pun Ello.
“Aku harus mengingat, siapa sebenarnya Gracello atau pun Ello itu!”
Gumam Gaby seorang diri. Ya wanita berbalut gaun pengantin itu adalah Gaby. Semenjak terakhir ia bertemu dokter Emon, Gaby tidak ingat apa-apa lagi. Ponselnya pun di sita oleh calon suaminya Sean. Dan lagi Sean mempercepat pernikahan mereka membuat Gaby bertanya-tanya.
Pintu kayu jati yang bercatkan putih bening itu terbuka, menampilkan seorang wanita yang tengah memangku seorang bayi.
“Gaby,” sapa wanita itu.
Gaby pun menoleh pada sumber suara itu. Dan mendapati wanita yang hampir mempunyai garis wajah yang sama dengannya namun lebih teduh berjalan sambil memangku seorang bayi menuju ke arahnya.
“Kak Ganes.” Balas Gaby kemudian.
Kedua kakak beradik itu pun saling berpelukan. Ganes sampai menitik buliran bening miliknya, karena tidak tega dengan nasib adiknya Gaby saat ini.
Ia sangat paham betul bagaimana rasanya hamil lalu di paksa menikah dengan pria yang tidak kita cintai sebagai alat untuk balas budi. Meski Gaby pernah membuat kesalahan dengan mencintai suaminya, namun hati Ganes sebagai kakak tetap menyayangi Gaby sebagai seorang adik.
“Kamu ingin tahu siapa Ello? Ello bernama lengkap Gracello Sanders. Ia adalah kekasihmu sekaligus ayah dari anak yang sekarang kamu kandung Gaby,” ucap Ganes sambil terisak.
Di genggamnya kuat tangan Gaby untuk bisa menyakinkan adiknya itu.
“Jadi pria yang ku anggap gila itu beneran ayah dari anakku inibkak?” Gaby pun menunjuk perutnya yang sudah nampak membuncit itu.
__ADS_1
Ganes pun mengangguk mengiyakan pernyataan Gaby.
“Kau sudah bertemu dengannya? Apa kamu sudah bisa mengingatnya Gab?”
“Hanya sekali itu kak, setelah kita tidak pernah bertemu. Namun ada seseorang yang membuatku memikirkan nama itu. Yaitu dokter kandunganku. Entah bagaimana caranya dokter itu mempunyai foto kami.”
“Foto?”
“Iya kak ”
Lalu Gaby pun menyerahkan foto berukuran 4R yang berisi potret dirinya bersama Ello itu. Ganes memandang foto itu. Ada rasa yang tak biasa meresap dalam relung hatinya. Namun segera Ganes tepis rasa itu.
Siapa? Apakah dokter itu teman Ello?
Tidak mungkin, Ello itu tipe pendiam dan tidak banyak teman apalagi untuk mengumbar masalah pribadinya sendiri.
Tiba-tiba saja Gaby seperti menahan sakit pada area kepalanya.
“Akh! Kepalaku sakit kak!” rintih Gaby tertahan.
“Gaby, minumlah obat ini!” Ganes pun dengan sigap menyerahkan obat yang biasa adiknya minum untuk meredakan sakit kepala setiap Gaby memaksa untuk mengingat kenangannya.
Dan benar saja, memory Gaby seakan berputar-putar bagaikan kaset lama yang terus berputar. Berbagai kenangan yang awalnya tak terlihat pun satu persatu muncul dalam memory otaknya.
“Bagaimana? Sudah lebih baik?” tanya Ganes yang sedari tadi mengkhawatirkan adiknya.
Beruntung Sahara, putri kecilnya tertidur pulas dalam gendongannya. Dan tidak terpengaruh akan interaksi baik Ganes mau pun yang Gaby buat.
“Kak, alhamdulillah aku bisa mengingat semuanya. Aku ingat siapa Ello kak!” ucap Gaby dengan semangat
__ADS_1
“Gaby, dengarkan kak Ganes. Kakak minta maaf karena tidak bisa mencegah perjodohan ini. Namun sebisa mungkin kakak bisa membantumu untuk pergi dari sini.”
“Apa? Apa kakak yakin? Ini terlalu berbahaya kak. Bagaimana kalau anak buah kak Sean sampai tahu ? Atau lebih parahnya Kak Sean sendiri yang tahu kak? Keluarga kita dalam bahaya!” tukas Gaby panik.
Gaby menolak keras usul Ganes. Karena ia lebih mengkhawatirkan keselamatan keluarganya, daripada nasibnya sendiri.
“Gaby, soal itu kamu tidak usah khawatir. Kak Galih akan mengatasi semuanya. Dan pastinya akan melindungi keluarga kita terutama ayah dan ibu. Gaby, kejarlah bahagiamu sendiri jangan fikirkan soal kami. Kami akan baik-baik saja,” tutur Ganes berusaha menyakinkan Gaby untuk mengikuti usulannya yang sudah ia rancang bersama Galih sang suami.
“Tapi kak....”
“Tidak ada tapi-tapian Gaby, sebentar lagi penghulu datang. Cepatlah pergi! Kakak akan membuat seolah-olah ini bukan sesuatu yang di rencanakan. Cepatlah pergi Gaby! Cepat!”
Hati Gaby mulai tergerak untuk segera beranjak. Ia juga tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan sang kakak yang juga ia sangat sayangi.
“Gaby, ini penebusan atas dosa-dosa kami yang pernah membohongimu. Sekarang pergilah! Dan kejar kebahagiaanmu. Ello sangat mencintaimu Gaby!”
“ Kak Ganes, terima kasih banyak! Gaby sangat menyayangimu!”
“Sekarang, pergilah!” Ganes berusaha mengurai pelukan Gaby.
Dan terus meminta Gaby untuk segera beranjak karena waktu yang mereka punya tidaklah banyak. Gaby Melepas riasan yang menempel pada area rambutnya. Lalu mengganti gaunnnya dengan pakaiannya sendiri.
Lalu di pakainya sepatu kets miliknya dan keluar lewat jendela yang dimana balkon kamarnya terhubung dengan tangga keluar rumah.
“Hati-hati Gaby, kejarlah bahagiamu.”
Gumam Ganes seraya menangis. Namun Ganes segera cepat-cepat menghapus sisa air matanya dan siap menjalankan skenario yang sudah ia dan suaminya Galih buat.
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya, selepas kepergian Gaby dari pernikahannya bersama Sean? Jgn lupa dkung trus y readers😍😘
__ADS_1